Kejatuhan Setelah Sukses

Ayat bacaan: Bilangan 26:10
==========================
“tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan.”

kejatuhan setelah sukses

Seorang pegolf terkenal beberapa waktu lalu baru saja membuat gempar dunia selebritis. Sosoknya yang selama ini dikenal sebagai kepala rumah tangga, suami dan ayah yang baik, ternyata menyimpan banyak masalah. Ia terjatuh karena berselingkuh dengan banyak wanita, dan ketika hal itu menjadi konsumsi publik, orang pun terkejut melihat sosok yang selama ini dikenal baik ternyata bisa jatuh ke dalam dosa sedemikian. Beberapa perusahaan pun memutuskan kontrak dengannya, ia kelimpungan karena imagenya hancur, keluarganya pun hancur. Kehancuran tiba-tiba datang sebagai resiko akibat kesalahan yang ia perbuat sendiri. Sungguh amat disayangkan sesuatu yang telah ia bangun selama lebih dari satu dasawarsa akhirnya harus hancur dalam sekejap mata.

Mempertahankan jauh lebih berat ketimbang membangun sesuatu. Itu pesan yang pernah diberikan kepada saya oleh beberapa orang yang berbeda, dan pesan itu sungguh merupakan sebuah pesan yang sangat penting untuk diingat. Mengapa bisa demikian? Karena ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun keberhasilan kita. Ada banyak orang yang tergelincir jatuh justru ketika kesuksesan telah berhasil mereka raih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan akan jauh lebih berat lagi. Mempertahankan sesuatu akan selalu lebih berat daripada saat ketika kita mulai membangun.

Kejadian seperti ini berulang kali tercatat dalam Alkitab. Salah satunya yang hendak saya angkat hari ini adalah sosok bernama Korah. Korah tadinya merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas bagi umat untuk melayani mereka. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya. Itu sebuah kehormatan. Namun nyatanya Korah terperosok dalam dosa pemberontakan. Ketika ia sukses, ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal untuk mengenal batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan menjadi congkak. Korah “mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.” (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya terlalu hebat dan haus akan jabatan. Mereka merasa iri kepada Musa. Musa pun menegur mereka: “Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?” (ay 9-10). Kesombongan Korah dan orang-orangnya membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan. Musa pun mengajak bangsa Israel untuk melihat siapa yang benar. “Sesudah itu berkatalah Musa: “Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN.” (ay 28-30). Dan apa yang terjadi selanjutnya? Murka Tuhan turun atas mereka dan kebinasaan pun menimpa mereka. “Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu.” (ay 31-33). Dalam beberapa ayat selanjutnya hal ini disinggung kembali. “tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan.” (Bilangan 26:10). Korah dan orang-orangnya akhirnya binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Hukuman Tuhan jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani melawan Tuhan.

Merasa percaya diri itu baik. Mengetahui potensi dan kemampuan kita itu baik. Menghargai diri sendiri itu baik. Tapi jika itu kita lakukan secara berlebihan, kita bisa terjatuh kepada berbagai dosa yang akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi hancur berantakan dalam sekejap mata. Ketika kita sudah berhasil, bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Dan jangan berhenti disitu, tapi pertahankanlah kesuksesan itu dan jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita seperti apa yang dilakukan Korah. Jangan lupa bahwa di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan dan merebut kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Ketika kita menjadi sukses, jagalah prestasi itu dengan baik, teruslah bersikap rendah hati dan teruslah muliakan Tuhan. Ingatlah firman Tuhan berkata demikian “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Tetap jaga garis batas yang ditetapkan Tuhan bagi kita, dan berhati-hatilah terhadap dosa kesombongan. Ada banyak jebakan yang siap memerangkap kita dibalik setiap kesuksesan, oleh karenanya kita harus tetap waspada agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya di masa yang akan datang.

Hendaklah kita senantiasa waspada dan terus menjaga keberhasilan dengan baik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.