Keheningan Suci Semesta Alam, Tanda Kehadiran Tuhan Allah

Jumat, 13 Juni 2014: PW St. Antonius Padua
1Raj. 19:9a,11-16; Mzm. 27:7-8a,8b-9abc,13-14; Mat 5:27-32

“Datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.” (1Raja 19:12)

KEMARIN (12/06) hampir seharian listrik di daerah kami mati. Maka, kepada Kang Muhammad Syukron, seorang jurnalis pluralis-inklusif saya menulis, “Listrik mati, semua aktivitas yang tergantung darinya macet. Alangkah menentukan iman, harapan dan kasih kita bila dihayati laksana daya elektrisitas itu. Dinamika hidup bersama jadi lebih menggairahkan. Syukurlah ada DIA yang menjadi daya hidup semua makhluk dan DIA tak pernah mati…”

Kang Muhammad Syukron pun menjawab dalam bahasa Inggris, “God is light in him, there is no darkness at all.”

Saya jawab, “Excellent!”

Beliau menyahut, “Peluk erat Romo…”

Saya balas, “Hmmm hangat sepelukan Sang Khalik..” “Ah, Romo bisa-bisa saja…”

Sahutnya. “Dalam diri setiap makhluk terpancar percikan kasih Sang Khalik..” Jawabku.

Kang Syukron menyahut, “Percikan kasih harus menjadi tak sekedar percikan njih Romo, kalau bisa menjadi aliran sungai yang menyejukkan dan bermanfaat bagi siapa saja, manusia, tumbuhan dan hewan… Sungai itu, menjadi cita-cita kita…”

Saya menutup dialog itu dengan menulis sambil bersenandung, “Kasih-Nya seperti sungai, mengalir di waktu susah dan senang, sedih dan gembira, dukacita dan sukacita…”

Dialog antara Kang Muhammad Syukron dan saya menggema lagi saat saya menulis renungan ini terpicu oleh ayat “Datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.” (1Raja 19:12)

Ayat ini menjadi bagian selengkapnya dari kisah tentang Nabi Elia yang terancam hidupnya oleh orang-orang yang memusuhinya. Itulah yang dikatakan Elia kepada Allah, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raja 19:10).

Nyawa Nabi Elia terancam. Hanya Allah saja yang menjadi pelindung dan daya penyelamatannya. Yang menarik adalah ini. Elia mengalami daya kekuatan Allah yang melindungi tidak dalam hiruk-pikuk gemuruh gempa dan api, melainkan di keheningan semesta saat bertiup angin sepoi-sepoi basa.

Dalam keheningan yang tenang teduh nan suci, Elia mengalami kehadiran Allah semesta alam. Keheningan semesta jadi medan perjumpaan dengan Allah yang merupakan sumber kekuatan, keamanan dan perlindungan.

Di tengah karut marut kehidupan ini, kita sering mengabaikan keheningan. Padahal jelas, dalam keheninganlah Allah hadir menyertai kita. Allah melindungi dan menjaga hidup kita melalui saat-saat teduh yang menenangkan jiwa.

Dewasa ini, orang sering takut untuk hening. Keheningan mengusik batinnya akan segala kelemahan dan kerapuhan hidupnya. Akibatnya, banyak orang tidak mau masuk dalam keheningan.

Jiwa hening, budi bening, hati bersih itu menjadi ruang suci perjumpaan pribadi antara manusia dan Allah semesta alam. Perjumpaan itu memberi daya kekuatan untuk tetap giat dalam karya pelayanan dan pekerjaan, kendati ada kesulitan, tantangan bahkan ancaman!

Dewasa ini, syukur kepada Allah, ada begitu banyak orang yang memanfaatkan Kapel Adorasi Ekaristi Abadi untuk dapat mengalami keheningan yang suci. Dalam keheningan, bahkan tanpa kata, umat berdoa mohon damai-sejahtera, keadilan dan kerukunan. Justru karena itulah, maka, saat-saat Adorasi Ekaristi disebut saat-saat suci. Di sana kita mengalami kehadiran TUHAN, Allah semesta alam bersama Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

Ya Allah, semoga kami mampu merasakan kehadiran-Mu dan menangkap tanda-tanda zaman dalam keheningan semesta alam ini, kini da selamanya. Amin.

Photo credit: Tahune Airwalk of Tasmania (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.