Keep on Running Like Akhwari (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:24
=======================
“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!”

Tepat 47 tahun yang lalu di Olimpiade Mexico sebuah kejadian luar biasa kemudian dicatat dengan tinta emas dalam sejarah olah raga. Pelakunya adalah seorang pelari maraton asal Tanzania, John Stephen Akhwari namanya.

Ia menjadi tajuk berita dan dikenang banyak orang sampai hari ini bukan seperti pencapaian olahragawan yang biasa misalnya karena memecahkan rekor finish tercepat, bukan pula karena memenangkan medali emas. Akhwari justru finish di tempat terakhir, saat pelari lain telah menyelesaikan lebih dari satu jam sebelumnya. Stadion pun sudah hampir kosong karena banyak yang mengira perlombaan sudah selesai. Tapi penonton yang masih tinggal kemudian menyaksikan momen bersejarah yang selain mengharukan tapi juga sangat menginspirasi. Di saat lapangan kosong, John Stephen Akhwari mulai terlihat memasuki stadium dengan tertatih-tatih. Kakinya dibalut seadanya dan terlihat berdarah.

Apa penyebabnya? Inilah sebenarnya yang terjadi. Saat memasuki kilometer ke 19, Akhwari terjatuh karena bertubrukan dengan pelari lain. Naas, ia mengalami luka menganga di lutut kanannya dan mengalami masalah dengan persendian bahunya. Dalam kondisi demikian, semua orang akan maklum jika ia mengundurkan diri. Tapi Akhwari tidak berpikir seperti itu. Betapa luar biasa keputusan yang ia ambil. Ia terus berlari dengan lutut terluka parah, dan bahu lepas dari persendian. Mungkin membayangkannya saja kita sudah sulit, apalagi kalau kita yang harus melakukannya. Tapi sejarah mencatat Akhwari meneruskan perlombaan dengan segenap sisa kekuatan yang ada, dan pada akhirnya benar-benar sampai melewati garis finish. Mungkin bagi sebagian orang ia dianggap bodoh, minimal heran akan keputusannya. Kalau memang tidak ada lagi kans untuk menang, buat apa melakukan itu? Wartawan pun bergegas menanyakan apa yang mendasari keputusannya. Akhwari memberi jawaban sederhana saja, “My country did not send me 5,000 miles to start the race,They sent me 5,000 miles to finish it.”

Sikap Akhwari menunjukkan pemahamannya yang mendalam akan jati diri dan tujuan olahragawan yang sejati, lebih dari kebanyakan orang. Sebagai olahragawan, termasuk pelari, mengukir prestasi tentu menjadi sebuah tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada satupun olahragawan yang tidak ingin menjuarai perlombaan yang ia ikuti. Tidak saja olahragawan, tapi semua orang di bidang-bidang lainpun pasti ingin berprestasi. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan “gelanggang-gelanggang” yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk berhasil. Tapi saat situasi sudah terlalu sulit bahkan sepertinya mustahil dimana kebanyakan orang akan menyerah, apakah kita mampu untuk terus berlari dengan segala yang ada pada kita untuk tetap berhasil mencapai garis akhir layaknya Akhwari?

Paulus beberapa kali mengibaratkan bentuk kehidupan kita sebagai orang kristen seperti perjuangan atlit dalam mengukir prestasi dan mencapai garis akhir dengan sukses. Life is like a race, hidup adalah perlombaan, dan tidak semua orang mampu untuk mencapai garis finish. Itu kira-kira gambaran dari apa yang sering diibaratkan Paulus mengenai hubungan antara perjalanan hidup kita dengan iman. Kepada jemaat Korintus, Paulus menyatakan “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Benar. Tidak semua pelari bisa menjadi juara satu. Tapi ingat pula bahwa meski anda tidak menjadi pelari terdepan, kegigihan anda bertahan dari berbagai penyesatan di dunia akan mampu membawa anda mampu mencapai garis finish, meski secara logika anda mungkin sudah berada pada titik nadir. A true sportman like Akhwari will keep running no matter what, all the way until he reach the finish line. Itu bentuk dari seorang olahragawan sejati yang bermental juara.

Akhwari bukan orang pertama yang masuk ke garis finish. Ia tidak menerima medali apapun, malah menjadi pelari terakhir yang jaraknya begitu lama dibanding pelari sebelum dirinya. Tapi orang ternyata mengenang Akhwari sedang penerima medali emas saat itu tidak banyak lagi yang ingat. Jadi, apapun keadaan atau situasinya, Paulus bilang tetaplah berlari dengan begitu rupa agar kita bisa menjadi pemenang.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.