Kebutaan Rohani Para Murid dan Orang Farisi (1)

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Alangkah ironisnya ketika kita mudah menjatuhkan komentar-komentar miring karena merasa diri sudah hidup baik. Melihat orang yang hidupnya susah atau memiliki cacat tubuh, selintas pikiran bahwa itu akibat dosanya atau dosa orang tuanya, akibat kutuk dan sebagainya bisa muncul dengan mudah kalau hati tidak dijaga kondisinya dengan baik. Tanpa melihat lebih jauh mengenai kebenarannya dulu kita sudah buru-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi juga di antara orang percaya. “Kasihan, dia hidupnya susah..pasti dia atau orang tuanya punya dosa yang belum dibereskan…” begitulah kata seorang teman pada suatu kali dengan ringannya yang membuat saya kaget. Mungkin ia tidak sadar, tapi ucapan itu sama sekali tidak pantas untuk diucapkan, apalagi ketika ia tidak mengenal betul siapa orang yang ia bicarakan. Dalam kesempatan lain ada seorang teman yang mampir ke sebuah persekutuan sahabatnya, dan ia bercerita bagaimana dalam doa sekalipun mereka bisa-bisanya menghakimi orang lain tanpa rasa bersalah. “Tuhan, ampuni si A, karena dosa-dosanya banyak sehingga ia menjadi seperti itu.. bebaskan si B karena pasti ia kena kutuk turunan..” dan lain-lain. Seperti itulah bentuk doa mereka yang membuat teman saya bingung karena ia merasa aneh mendengar doa menghakimi seperti itu. Mendoakan orang lain itu tentu baik, tapi haruskah disertai dengan perkataan-perkataan menuduh seperti itu? Di dunia saja itu tidak pantas dilakukan apalagi ketika disampaikan dalam doa yang notabene kepada Tuhan. Bayangkan jika di gereja ada pola seperti ini, tidakkah itu ironis? Jika dibiarkan, gereja bukan lagi menjadi tempat dimana orang bisa merasakan hadirat Tuhan dan bertumbuh bersama-sama saudara/saudari seiman, tapi akan menjadi sekumpulan orang eksklusif yang merasa diri paling benar dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain seenak hati mereka.

Seperti yang sudah saya singgung dalam renungan kemarin, sikap seperti ini nyatanya pernah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Bayangkan seandainya kita yang ada di posisi orang buta tadi, pasti hati kita perih mendengarnya. Sudah menderita karena tidak bisa melihat dan karena keterbatasannya ia terpaksa mengemis, masih juga tega-teganya dikomentari seperti itu. Lihatlah sikap para murid itu. Bukannya di bantu, diberi sedekah, disapa dengan ramah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. Betapa menyedihkan melihat komentar seperti ini justru datang dari murid-murid Yesus sendiri. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa meski mereka murid Yesus, mereka pun sama-sama manusia yang tidak sempurna yang belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani. Mereka tampaknya lupa diri, menjadi pongah dengan status mereka sebagai murid Yesus sehingga merasa berhak mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kita sebagai murid-murid Kristus di hari ini pun masih sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah hidup kudus, bukannya mengasihi orang lain tetapi malah tega menghakimi dan mengomentari orang lain, menuduh yang bukan-bukan.

Bagaimana reaksi Yesus akan sikap buruk murid-muridNya ini? Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sebuah mukjizat luar biasa yang belum pernah ia alami sejak lahir. Lalu Yesus pun memberi jawaban: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ay 3). Yesus mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna dan dijauhi orang. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.