Kebutaan Rohani (2)

(sambungan)

Yesus mengingatkan mereka, dan juga berlaku bagi kita tentunya, bahwa tidak baik atau bahkan merupakan dosa ketika kita menganggap diri paling benar lalu merasa berhak menghakimi orang lain. Kedatangan Yesus ke dunia justru bagi orang-orang berdosa, untuk membebaskan manusia dari dosa dan memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Kerajaan Allah. Yesus menjungkir balikkan pandangan-pandangan keliru dan meluruskan persepsi-persepsi yang salah yang ada di dunia selama ini. Jika kita selama ini merasa paling tahu apa yang benar, maka Yesus membawa kebenaran yang sesungguhnya dari Bapa. Jika kita menolak kebenaran dan menganggap kita lebih tahu, maka sesungguhnya kitalah yang buta dan akan tetap buta. Kedatangan Kristus pun menjadi sia-sia bagi kita yang keras hati seperti ini, sehingga itu akan membuat orang-orang seperti ini luput dari anugerah keselamatan yang telah diberikan lewat Kristus.

Sangatlah menarik melihat dua jenis reaksi dari tipe orang menganggap dirinya paling benar lewat kisah yang tertulis dalam Yohanes 9 ini. Apakah kita termasuk satu diantara mereka yang berpikir salah? Apakah kita masih termasuk yang buta? Apakah ketika melihat orang-orang yang susah kita tergerak untuk membantu dan memberkati atau masih cenderung menghakimi, menghina dan mengejek? Ini pertanyaan penting yang harus kita renungkan.

Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan sebagainya. Berhentilah melakukan itu. Mulailah mengambil tindakan nyata, selagi “hari masih siang”. Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai. “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam.” (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan mengasihi dan memberkati orang lebih banyak lagi.

Jauhi sikap merasa paling benar dan berhak menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar karena itu cermin kebutaan rohani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.