Kebutaan Rohani (1)

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
“Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Manusia punya kecenderungan untuk mudah menghakimi. Baik sadar atau tidak, kita punya tendensi untuk menjatuhkan penilaian atau komentar-komentar yang menghakimi orang lain. Ada banyak orang yang melihat setiap langkah suksesnya bukan untuk membuat mereka lebih peka terhadap orang lain tetapi malah mendatangkan sikap lupa diri. Demikian pula ketika orang bertumbuh makin dalam secara rohani. Melihat orang yang hidupnya susah atau memiliki cacat tubuh, banyak orang yang lantas terjebak untuk menuduh bahwa itu akibat dosanya atau dosa orang tuanya, akibat kutuk dan sebagainya tanpa melihat lebih jauh kebenarannya terlebih dahulu. Betapa mudahnya manusia terburu-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi di antara anak Tuhan pun bisa. Secara tidak sadar orang  bisa mengeluarkan ucapan-ucapan yang secara tidak langsung menyakiti orang lain, menyudutkan dan menjatuhkan. Komentar-komentar yang selintas, sambil lalu, tanpa kita tahu kebenarannya tapi menyakitkan orang yang kita komentari. Ini adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan apapun alasannya. Bayangkan jika di antara jemaat gereja pola pikir seperti ini timbul, tidakkah itu ironis? Gereja tidak lagi berpikir untuk menjangkau orang-orang yang butuh diselamatkan, tetapi berubah fungsi menjadi kelompok ‘hakim’ yang bisa menjatuhkan vonis dengan menghukum, mengusir dan menjadi sarang gosip. Jika terus dibiarkan, gereja bukan lagi menjadi tempat dimana orang bisa merasakan hadirat Tuhan dan bertumbuh bersama-sama saudara/saudari seiman tanpa memandang status, suku bangsa dan latar belakang lainnya, tapi akan menjadi sekumpulan orang eksklusif yang merasa diri paling benar dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain.

Saya mengatakan bahwa manusia punya kecenderungan seperti itu bukan tanpa alasan, karena meski berada bersama Yesus secara langsung sekalipun belum tentu menjamin seseorang punya sikap mengasihi yang tidak menghakimi. Ini sudah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri, yang notabene berada langsung melihat, hidup dan berjalan bersama Yesus secara fisik. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Anda bisa bayangkan seandainya anda yang ada di posisi orang buta tadi, pasti sakit sekali rasanya dikatai seperti itu. Orang buta itu sudah menderita karena tidak bisa melihat. Hidupnya susah dengan keterbatasannya sehingga ia pun terpaksa mengemis. Tapi lihatlah sikap para murid itu. Bukannya disapa dengan ramah, diberi bantuan, didoakan atau dikenalkan dengan Yesus yang ada disana secara langsung, tapi malah mengeluarkan komentar yang negatif. “Orang ini buta dan mengemis, hidupnya buruk. Apa itu akibat dosanya sendiri atau orang tuanya..?” Seperti itulah kira-kira pikiran mereka. Betapa ironis jika pikiran seperti ini muncul dari murid-murid Kristus sendiri. Menjadi murid-murid Yesus yang dipilih langsung olehNya ternyata membuat mereka lupa diri. Mereka merasa sudah hebat dan lupa bahwa mereka sendiri adalah manusia yang berdosa juga dan belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mereka tidak sadar bahwa dengan memiliki pola pikir seperti itu, mereka pun sebenarnya buta, buta secara rohani. Status mereka sebagai murid Yesus membuat mereka besar kepala sehingga merasa berhak mengeluarkan kata-kata seperti itu. Jika kita lihat pada jaman ini, orang-orang yang percaya pda Kristus pun masih sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah hidup kudus, bukannya kita semakin mengasihi orang lain tetapi malah tega mengomentari bahkan menghakimi dan  menuduh yang bukan-bukan.

Bagaimana reaksi Yesus akan sikap jelek murid-muridNya ini? Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus menjawab dengan melakukan sesuatu secara nyata. Yesus menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sesuatu yang belum pernah dialami sang pengemis buta sejak lahir. Lalu Yesus berkata: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (ay 3). Hidup  yang hancur atau tidak seperti apa yang dikehendaki bukan harus selalu akibat dosa-dosa yang dilakukan atau karena kutuk turunan, tetapi Yesus mengatakan bahwa itu mungkin saja terjadi dengan tujuan pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Hidupnya yang dimata orang tidak berharga dan terbuang, tapi Tuhan ternyata berkehendak untuk memakainya sebagai kesaksian luar biasa yang sanggup mengubahkan banyak orang. Itu tentu luar biasa. Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna, tertolak dan terhina dalam masyarakat. Tapi kemudian Yesus menunjukkan bahwa ia ada dalam perhatian Tuhan, bahkan dalam rencanaNya, sehingga ketika saatnya tiba, bukan saja ia disembuhkan dan bisa melihat terang, tapi ia bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang.

Jika murid-murid Yesus bisa memiliki pola pikir keliru, ihatlah bagaimana reaksi orang-orang Farisi tepat seolah orang buta itu disembuhkan. Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang sangat ahli dalam memahami hukum Taurat. Jika perilaku murid-murid Yesus yang bertanya dengan pola pikir seperti itu saja sudah salah. Sebagian dari orang Farisi yang superior dan merasa diri paling suci langsung serta merta menuduh. “Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.” (ay 16). Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” (ay 39). Orang Farisi pun mengeluarkan sindiran. “Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” (ay 40). Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bersalah. “Jadi katamu kami pun orang buta?? Kami ini orang-orang paling benar di dunia tahu?? Kami hapal mati hukum Taurat, artinya kamilah yang terdepan dalam hal kebenaran!” Itu kira-kira yang ada di pikiran mereka, yang jelas-jelas menunjukkan kesombongan rohani dan sikap-sikap buruk yang melekat akibat merasa sudah paling benar. Dan inilah reaksi Yesus. “Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” (ay 41). Jika kebodohan rohani seperti itu muncul karena ketidaktahuan itu bisa dimaklumi, tetapi jika mereka melakukan itu akibat sikap pongah dengan merasa paling tahu kebenaran, maka itu merupakan dosa bagi mereka. Mereka mungkin tidak buta secara fisik, tetapi jelas buta secara rohani.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.