Kebijaksanaan Bandeng Yuwana dan Mati Raga (3)

UNTUK mendapatkan kualitas terbaik, petani bandeng juga mesti memilih cara yang tepat dalam memanennya. Cara panen sangat mempengaruhi kualitas bandeng. Dua cara yang biasa dipakai oleh petani adalah menjaring serta mengeringkan areal tambak terlebih dahulu sebelum memanen ikan.

Meski relatif cepat namun bandeng yang dijaring kualitasnya lebih rendah. Bandeng yang dijaring biasanya masih menyimpan sisa makanan di jeroannya. Cirinya, perut bandeng terlihat gembung. Ikan itu banyak bergerak saat dijaring namun belum sempat mengeluarkan isi atau kotoran yang ada dalam perutnya.

Sementara bandeng yang dipanen dengan mengeringkan air tambaknya, bagian perut bandeng nampak lebih pipih. Ikan mengeluarkan banyak energi saat berusaha mencari tempat yang masih ada air tatkala air tambak dikeringkan. Sehingga isi perutnya menjadi banyak berkurang dan terlihat pipih. Tak mengherankan harga bandeng yang berperut gembung lebih rendah dibanding bandeng yang berperut pipih.

Kita ini sudah dijaring dalam hidup iman. Namun kita perlu senantiasa ditempa, dididik, dibentuk dan diajak mengeluarkan segala energi yang berlawanan dengan panggilan suci ini. Ada banyak energi negatif yang perlu dikeluarkan. Ada energi pembangkangan terhadap Allah, kerinduan untuk berpusat pada diri sendiri, kerakusan, kesombongan, nafsu balas dendam, iri hati, nafsu kekerasan dan sebagainya.

Peziarahan iman adalah peziarahan mengosongkan diri agar diisi oleh Allah. Untuk memanen bandeng istimewa, petani akan memilih mengeringkan tambak. Air dibuang dan digantikan yang baru. Allah bersedia masuk dan menyentuh kekeringan dan kerapuhan manusiawi termasuk dosa. Dia datang kepada manusia untuk memberikan hidup dan keselamatanNya. Dia datang untuk mengangkat manusia untuk masuk dalam cintaNya.

Tambak kehidupan

Tambak yang kering adalah medan kehidupan kita. Tidak selalu penuh warna, kadang kering dan penuh kerikil, panas menyengat dan garang. Kadang menakutkan dan gelap. Di sana ada perselisihan, kemunafikan, kebodohan, kemiskinan. Di sana ada lubang hitam ketidakadilan, kesombongan dan pengkhianatan. Tapi di sanalah kita berjumpa dengan maksud Allah bagi manusia secara konkrit.

Hanya tambak yang kering yang bisa diisi lagi dengan air laut Jawa dan air Sungai Juwana.

Begitulah lingkaran perikanan bandeng berjalan. Begitulah roda kehidupan berputar. Tambak diisi bibit baru, dipelihara dan diproses menjadi bandeng istimewa.

Demikianlah hidup menjadi istimewa tatkala hati kosong diisi oleh air kehidupan dan bibit keselamatan. Setelah mengeluarkan seluruh energi kita, setelah bermatiraga menemukan buah-buah roh Allah sendiri yang berkarya. Dan bersama Allah kita turut memanen.

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.