Kebahagiaan dan Damai Sejahtera yang Tak Pernah Habis/Berhenti Mengalir (2)

(sambungan)

Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang dapat kita peroleh secara melimpah tanpa henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering seperti yang tertulis dalam Yesaya 48:18. Tapi itu semua bisa menjadi milik kita apabila kita memperhatikan  setiap perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan hanya dengan cara itulah kita bisa menerima janji Tuhan yang besar seperti ini. Disanalah kita bisa merasakan seperti apa sebenarnya kebahagiaan dan damai sejahtera yang berasal dari Tuhan, yang tidak lagi tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari atau hal-hal yang dijanjikan dunia. Jika kita masih ragu akan hal itu, dalam beberapa kesempatan kita bisa menemukan ayat yang menyatakan dengan jelas bahwa Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera seperti yang bisa kita lihat dalam Roma 15:33 dan 16:20.

Konsep yang dipercaya dunia sering mengajarkan hal yang berbeda. Memenuhi keinginan daging secara sekilas seolah-olah mampu memberikan jawaban untuk mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang mati-matian berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya untuk memperoleh rasa bahagia dan damai sejahtera, bahkan untuk itu mereka rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, padahal kuncinya justru berada di Tuhan dan bisa kita peroleh lewat Roh. Firman Tuhan berkata “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh.

Sangatlah menarik ketika seorang filsuf dan ahli ilmu pengetahuan yang sangat terkenal bernama Pascal. Suatu kali ia pernah memberi pernyataan yang sangat penting mengenai kepenuhan hati untuk bisa merasakan damai sejahtera dan kebahagiaan. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya ada sebuah rongga kosong di dalam hati kita yang tidak bisa diisi oleh siapa atau apapun kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Bukankah menarik ketika kita mencermati bahwa ucapan ini berasal dari seorang yang sangat ahli dalam ilmu pengetahuan, orang yang menciptakan begitu banyak teori yang masih dipakai sebagai dasar ilmu pengetahuan sampai hari ini? Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya dan sekaya-kayanya kita, ternyata ada sebuah rongga atau lubang yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Itulah sebabnya kita sering melihat bahkan mungkin pernah mengalami bahwa tidak peduli seberapa kerasnya usaha kita untuk menutupi lubang ini lewat hal-hal yang ditawarkan dunia, itu tidak pernah bisa ditambal apabila tidak oleh Tuhan sendiri. Manusia cenderung mencari kebahagiaan di tempat yang salah, mengimani apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan seperti misalnya kekayaan, jabatan, lingkungan jetset dalam pertemanan, berbagai bentuk pesta atau bahkan sebagian orang lagi memilih hal yang lebih jauh seperti mabuk-mabukan atau obat terlarang. Tapi buktinya, mereka ini hanya akan tersesat lebih dan lebih jauh lagi tanpa pernah menemukan solusi yang mujarab. Ini merupakan hal yang ironis karena pengambilan langkah yang salah seperti ini tidak saja sia-sia tapi bahkan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan memberikan bahaya besar baik dalam hidup di dunia saat ini maupun kelak dalam kehidupan selanjutnya.
(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.