Keangkuhan

Ayat bacaan: Obaja 1:3
======================
“Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?”

keangkuhan, kecongkakan, kesombongan, edom

Kita semua ingin sukses. Memiliki karir yang menanjak naik, bisnis maju, pendapatan meningkat dan sebagainya. Tidak ada satupun orang yang ingin jalan di tempat atau malah merosot turun. Dan inipun sejalan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Dia tidak pernah menginginkan kita merosot turun, hidup menderita, berkekurangan, karena apa yang direncanakan Tuhan adalah “mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia” (Ulangan 28:13). Tapi ketika orang berhasil, kehidupan menanjak naik, seketika itu pula kecongkakan mengancam. Tidakkah kita sering melihat orang yang berubah drastis ketika mereka mencapai keberhasilan? Kepada Tuhan saja lupa, apalagi kepada sesama. Keadaan nyaman memang bisa membuat orang lemah. Keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai berkat dari Tuhan, tapi karena kekuatan diri sendiri. Akibatnya tidaklah main-main. Sehebat-hebatnya manusia, sekaya-kayanya orang, dalam sekejap mata semua itu bisa musnah tak berbekas.

Hari ini mari kita lihat kitab yang sangat singkat, Obaja. Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang mengancam negeri Edom. Dari Tuhan ia mengetahui bahwa Dia telah mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. “Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat.” (ay 2). Mengapa demikian? Sebab Tuhan sangatlah tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” (ay 3). Secara geografis Edom berada di posisi yang strategis, di puncak gunung yang tinggi, kuat dan terlindung. Sehingga mereka merasa sangat aman dan lupa diri. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Mereka tidak menyadari bahwa keangkuhan mereka tengah mengarahkan mereka ke dalam kehancuran. Mereka lupa bahwa keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka tidaklah berarti apa-apa karena Tuhan mampu menjungkir balikkan segalanya semudah membalikkan telapak tangan. “Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, –demikianlah firman TUHAN.” (ay 4).

Kondisi saat ini boleh saja aman, keadaan boleh saja baik, keuangan meningkat, karir menanjak, tapi di saat seperti itu kita harus lebih waspada lagi terhadap jebakan kesombongan. Jangan sampai kita lupa seperti bangsa Edom akan firman Tuhan ini: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Jika kita lupa, itu artinya kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Sebab Firman Tuhan lewat Salomo berkata “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Kehancuran atau kejatuhan yang terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi pada satu individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom. Inilah yang harus kita sikapi dengan baik agar kehidupan kita bisa terus diberkati Tuhan hingga kesudahannya.

Jangan lupa bahwa kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri, atau malah dipakai untuk menyombongkan diri. Kita harus ingat bahwa “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Bukan karena kuat kuasa kita, bukan karena kepandaian atau kehebatan kita, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita jangan sampai merasa berada di atas angin dan lupa bahwa segalanya tetap merupakan berkat dari Tuhan. Bukankah kepandaian kita pun berasal dari anugerahNya juga? Firman Tuhan berkata “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.” (Mazmur 75:7-8). Perkara naik dan turun pun berada dalam keputusan Tuhan. Maka Petrus pun berkata “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1 Petrus 5:6). Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini. Tidak peduli sehebat apapun diri kita, dalam sekejap mata semua itu bisa lenyap. Belajar dari pengalaman bangsa Edom, mari kita menjaga diri kita untuk terhindar dari keangkuhan, kesombongan atau kecongkakan. Pakailah segala yang diberikan Tuhan kepada anda hari ini bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk memuliakan Tuhan lebih dan lebih lagi. Segala sesuatu berasal dariNya, bersyukurlah untuk itu dan teruslah pakai untuk menjadi saluran berkat bagi sesama dengan didasari kasih.

“Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.” (Yakobus 4:16)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.