Keajaiban Doa: Catatan Doa yang Terkabul

Berdoa di Katedral Sidney

TEMAN, apa rasanya kalau kita harus menunggu sesuatu yang penting dalam ketidakpastian dan penantian itu dijejali banyak pikiran buruk dari diri sendiri plus komentar-komentar negatif dari orang lain? Tetap bertahan? Mendengarkan orang lain? Cari alternatif lain? Atau putus asa?

Kalau boleh sharing, saya baru saja alami hal itu ketika saya memasukkan aplikasi visa di Kedutaan Perancis awal Mei 2014 lalu.

Sambil menunggu proses visa, saya ingat bagaimana trip ini direncanakan. Oktober 2013, saat bulan Maria bagi penganut Katholik, saya tiba-tiba ingin mendoakan satu permohonan yakni keinginan bisa berziarah ke Lourdes (impian saya belasan tahun lalu). Setelah itu, beberapa bulan doa itu saya lupakan. Februari 2014, tepat pada saat peringatan Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, tiba-tiba tanpa diduga saya ditawari untuk melakukan trip ke Roma.

Syaratnya cuma satu yakni mengajak kedua anak saya (umur 9 dan 10 tahun).

Betapa gembiranya saya. Saya langsung mencari banyak info di internet tentang trip Eropa bersama anak-anak. Namun dalam perjalanan waktu saya melihat betapa riskan membawa anak-anak dalam perjalanan ini, apalagi saya belum pernah menginjakkan kaki sama sekali di Eropa. Maka saya putuskan berangkat sendiri. Tanya sana sini, baca banyak blog dan mencari tahu di milis para backpacker dunia, saya sempat bergonta-ganti itinerary karena belum mantab.

Awalnya saya ingin masuk Eropa lewat Italia, tetapi kemudian berganti lewat Belanda. Terakhir saya putuskan masuk lewat Perancis. Ini pun gara-gara saya mendapat teman jalan yang akan trip ke Eropa pada tanggal yang sama (kisah bertemu teman inipun adalah mukjizat yang akan saya ceritakan pada tulisan lain).

Singkatnya kami langsung klik satu sama lain dan segera apply visa Perancis bersama-sama sebab waktu tinggal dua bulan lagi. Visa teman saya langsung disetujui dalam waktu lima hari, sementara visa saya belum. Rasanya dag dig dug. Tetapi saya tetap berdoa: Ya, Tuhan apabila semua ini memang berasal daripadaMu maka segala sesuatunya pasti akan lancar.

Namun meskipun berusaha percaya kepada Tuhan yang memberi kesempatan ini, batin saya tetap goyah bahkan down saat teman saya yang biasa pergi keluar negeri mengatakan visa saya pasti ditolak. Alasannya karena tidak ada tiket booking-an kereta/pesawat antar negara (Paris-Lourdes-Swiss-Austria-Roma), gonta-ganti itinerary dan tidak ada pengundang/kenalan dari salah satu negara tersebut. Belum lagi teman kerja kantor mengatakan saldo di tabungan harus ada 150 juta. Waah.

Bahkan pada saat melengkapi dokumen visa dengan meminta slip gaji di kantor, kepala keuangan malah bilang: “Sudah, kamu gak usah repot urus sendiri, minta agent travel saja, terima beres! Gak mungkin visa kamu lolos kalau urus sendiri”. Juga waktu saya minta izin ke kedutaan, pimpinan kantor saya malah mengatakan: “Wah.. visa Perancis itu susah, harus ada jaminan harta!”

Hadooh! Intinya hampir semua memberi masukan tidak mungkinlah, susahlah, ditolak lah, dll. Dan waktu visa saya diproses semua komentar itu muncul tiap detik di domain otak kiri saya dan akhirnya meresap di benak. Iya, benar juga, kali, ya….visa Perancis itu susah karena dokumen saya tidak ada tiket antar negara, kurang referensi pengundang, tidak ada jaminan harta, tidak pakai agen, saldo tidak sampai 150 juta.

Jelas visa saya ditolak. Apalagi visa teman saya sudah kelar sementara visa saya belum.

Saya mulai hilang semangat dan tidak berharap lagi. Ya, sudahlah kalau tidak lolos, tidak apa. Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah, begitu saya terus mencekoki diri. Saya bisa melakukan hal-hal lain yang menyenangkan dan uangnya masih bisa saya tabung. Lain kali saja saya ke Eropa. Saya juga sudah mulai jarang menyebut permohonan trip ini dalam doa-doa saya.

Saya serahkan sepenuhnya kepada keputusan Tuhan. Bahkan saya sudah relakan biaya visa 1,4 juta rupiah dan saya akan tetap happy apapun hasilnya. Ya, sebab bagi saya keputusan visa sama dengan keputusan final dari Tuhan.

Lalu menginjak minggu ketiga (atas saran seorang teman di milis) saya akhirnya nekat menelpon ke kedutaan Perancis (yang terkenal dengan petugas-petugas yang jutek dan aturan yang kaku) mencari tahu nasib visa saya.

Setelah menelpon beberapa kali, saya diberitahu kalau dokumen visa saya masih di meja Mr. Rob (Oh God!). Mbak-mbak yang menerima telpon saya mengatakan Mr. Rob tidak di tempat, lalu ia bertanya apa yang bisa dibantu?

Saya bilang bahwa saya sudah apply tiga minggu lalu tapi belum ada jawaban, sementara harga tiket sudah semakin tinggi. Saya lalu ditanya beberapa hal termasuk dengan siapa saya berpergian? Saya jawab dengan teman yang sudah lolos visanya. Kemudian ia mengecek di komputer. Lama saya menunggu. Tegang……deg deg an! Keringat dingin mulai mengucur di dahi. Saya harus siap dengan kemungkinan ditolak.

Lalu ia menjawab: “Okay, you may take your paspor tomorrow!”

Seketika saya terlongong…hahhh! Gak salah dengar, nih? Hati saya kontan berbunga.

“Is it approved?”, tanya saya penasaran.

Tidak dijawab. Ia hanya mengatakan singkat, “I will do it now”.

“Thank youuu… Madame!”, teriak saya girang (padahal dia tidak bilang visa saya disetujui). Entah mengapa saya benar-benar sudah terlanjur senang..hehe…

Dan benar temans, keesokan hari ketika saya ambil paspor saya, visa schengen saya memang sudah tertempel dengan manisnya di sana. Multiple entry selama tiga bulan pula!

Thanks, God…mata saya berkaca-kaca atas keajaiban ini, atas indahnya rencana Tuhan untuk saya, atas jawaban doa-doa saya dan atas pelajaran berharga yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya tentang doa dan iman.

Keterangan foto: Berdoa menatap hari-hari depan di Katedral Sydney (Sesawi.Net/Royani Lim)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.