Keadaan Sentosa

Ayat bacaan: Yeremia 22:21
=======================
“Aku telah berbicara kepadamu selagi engkau sentosa, tetapi engkau berkata: “Aku tidak mau mendengarkan!” Itulah tingkah langkahmu dari sejak masa mudamu, sebab engkau tidak mau mendengarkan suara-Ku!”

sentosa

Kata sentosa adalah salah satu kata yang semakin menghilang dari kosakata kita. Dahulu kata ini sering dipadankan dengan kata sehat. Sentosa diartikan sebagai keadaan yang bebas dari segala kesukaran, masalah, atau bencana. Sentosa berarti suatu situasi yang makmur, sejahtera, aman, damai dan tenteram tanpa masalah. Bukankah ini kondisi yang selalu kita inginkan? Bebas dari masalah, hidup tenang tak berkekurangan. Tuhan ingin kita semua pun bisa mengalami keadaan sentosa seperti itu dalam hidup kita. Daud tahu itu dan berkata seperti ini: “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.” (Mazmur 112:6).  Pertanyaannya, apakah ketika kita sedang berada dalam keadaan sentosa kita masih mengingat Tuhan? Sayangnya kecenderungan sebagian orang adalah tidak. Banyak orang yang akan terlena dalam kenyamanan atau keadaan sentosa kemudian malah menjadi sombong dan menganggap bahwa ia tidak butuh siapa-siapa lagi, termasuk Tuhan. Gaji sudah lebih dari sekedar cukup, pekerjaan baik dan mapan, keluarga baik-baik saja, anak-anak sukses dalam studi, karir dan kehidupannya, semua sehat, lalu apa lagi yang harus ditakutkan? Banyak orang yang kemudian melupakan Tuhan dan menyimpan Tuhan hingga nanti ada masalah lagi. Buat apa memberi waktu untuk Tuhan? Toh semua sedang berjalan dengan baik. Posisi Tuhan dijadikan sesuatu yang tidak lebih dari penolong, tempat meminta atau bahkan bodyguard. Tuhan hanya dicari ketika sedang berada dalam pergumulan, kesulitan, bisnis merugi, usaha bangkrut, gagal dalam studi atau karir dan hal-hal buruk lainnya. Ketika hidup menjadi baik kembali, dengan segera Tuhan pun kembali dilupakan.

Ayat yang saya jadikan bahan renungan hari ini berbicara keras mengenai orang-orang yang terlena dalam keadaan sentosa. Kuping sering menjadi tebal, hati mengeras dan menjadi bebal, semua karena hidup tengah berjalan baik-baik saja. Ini keadaan yang berbahaya yang juga dialami oleh penduduk Yerusalem di masa Yeremia. Maka Yeremia pun menegur dengan keras “Aku telah berbicara kepadamu selagi engkau sentosa, tetapi engkau berkata: “Aku tidak mau mendengarkan!” Itulah tingkah langkahmu dari sejak masa mudamu, sebab engkau tidak mau mendengarkan suara-Ku!” (Yeremia 22:21). Pesan ini masih sangat relevan hingga hari ini, karena sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan manusia untuk cenderung santai ketika hidup sedang sentosa. Dulu seperti itu, sekarang pun sama. Mencari Tuhan ketika kita sedang mengalami masalah tentu tidak salah. Justru kita harus mengandalkan Tuhan dalam keadaan apapun termasuk ketika masalah tengah melanda kita. Tetapi apakah kita masih mau tetap dekat denganNya ketika hidup kita tengah sentosa? Apakah kita harus menunggu terlebih dahulu hingga musibah menimpa kita, ketika angin ribut atau badai mulai menimbulkan gelombang tinggi dalam lautan kehidupan kita baru kita mau datang kepada Tuhan dan kembali bersungguh-sungguh mengikutiNya? Tidakkah jauh lebih baik apabila kita tetap bersamaNya baik dalam suka maupun duka?

Di dalam kitab Ulangan kita mendapati pesan yang sama agar tidak terlena di dalam keadaan sentosa dan lupa kepada Tuhan. “Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu–kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu–kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.” (Ulangan 6:10-12). Ingatlah bahwa segala kenyamanan dan kebaikan berasal dari Tuhan, dan karenanya kita harus tetap bersyukur dan jangan pernah melupakanNya. Lalu ingat pula tugas kita sebagai duta-duta Kerajaan Allah. Bukankah seharusnya kita justru bisa lebih berfungsi lagi menjadi saluran berkat ketika kita sedang dalam keadaan sentosa? Pesan yang sama kembali disampaikan dalam Ulangan pasal 8. Bacalah pasal ini dan kita akan melihat bahwa pesan ini sangat serius sebagai peringatan agar kita tidak terlena seperti kecenderungan kita sebagai manusia untuk melupakan Tuhan ketika hidup sedang makmur, aman, damai dan tentram. “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (8:18). Dan pasal ini ditutup dengan peringatan apa yang bisa terjadi apabila kita melupakan Tuhan. “Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (ay 19-20). Tidak ada satupun dari kita yang ingin hidup bergumul dengan masalah terus menerus. Tetapi berhati-hatilah ketika hidup sedang baik, agar semua itu tidak membuat kita malah hancur dan kehilangan semua janji Tuhan.

Apabila saat ini anda sedang berada dalam keadaan sentosa, pujilah Tuhan, bersyukurlah untuk itu. Jangan berpaling dari Tuhan, jangan lupakan Dia yang telah memberikan segalanya bagi anda. Lihatlah bahwa disekeliling anda masih banyak orang yang sangat membutuhkan pertolongan dalam banyak hal. Ada banyak orang yang masih sangat merindukan keadaan sentosa. Masih ada banyak yang tengah berlayar di tengah badai kehidupan yang kejam. Dan kita sebagai duta-duta Kerajaan surgawi seharusnya mampu berbuat sesuatu bagi mereka, dalam bentuk apapun sejauh yang kita sanggup. Dan yang tidak kalah penting, janganlah mengeraskan hati dan menebalkan telinga, janganlah menjadi bebal, karena kita sendiri yang akan menyesal ketika situasi tiba-tiba berbalik pada suatu ketika. Sungguh pesan Tuhan sangat jelas lewat firmanNya. “Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7). Haruskah kita menunda untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan sampai masalah keburu hadir menimpa diri atau keluarga kita? Jangan tunggu sampai Tuhan menegur kita. Jika anda saat ini sedang berada dalam keadaan baik, ingatlah selalu kepada Tuhan dan jadilah saluran berkat bagi sesama, muliakan Tuhan dalam segala yang anda lakukan dan tetaplah miliki hati yang lembut untuk mendengar suaraNya, hari ini juga. Letakkan hubungan dengan Tuhan di atas segalanya, karena semua terletak di dalam tanganNya.

Berada dalam keadaan sentosa merupakan saat yang sangat baik untuk bersyukur dan menjadi saluran berkat yang luar biasa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.