Kaya Salah, Miskin Salah

Ayat bacaan: Amsal 30:7-8
=====================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.”

kaya salah miskin salah

Kaya salah, miskin salah. Lalu di mana kita seharusnya berdiri? Demikian kata seorang teman pada suatu kali sambil tertawa. Tidak ada orang yang menginginkan hidup berkekurangan. Kalau bisa, tentu kita semua ingin bisa hidup dengan nyaman tanpa harus berpikir panjang ketika hendak membeli sesuatu. Tapi ketika kita berada pada zona kenyamanan berkelimpahan seperti ini ada banyak pula godaan yang bisa membuat kita membuka diri terhadap dosa. Faktanya memang demikian. Ada banyak orang yang tadinya baik-baik kemudian menjadi rusak setelah kesuksesan, popularitas dan kemakmuran menghampiri mereka. Seorang penyanyi dalam sebuah kontes mencari bakat bisa menjadi contoh mengenai topik hari ini. Di saat ia masih mengamen, hidup terasa sangat berat. Untuk makan saja sulitnya bukan main, ia harus berhitung cermat untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Namun ketika ia sukses dan terkenal, sikapnya berubah. Ia bukan lagi dirinya yang dulu, Karirnya pun jatuh kembali seketika. Kaya salah, miskin salah.

Apakah benar kekristenan tidak mengijinkan kita untuk kaya? Tentu saja kita tidak dilarang untuk berhasil mengalami peningkatan dalam banyak hal termasuk pula di dalamnya berkat materi. Ada banyak janji Tuhan untuk memberikan kepada kita kelimpahan. Lihat janji berkatNya dalam Ulangan 28:1-14 misalnya, disana Tuhan menjanjikan berkat berlimpah ruah kepada semua orang yang “baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya.” (ay 1). Tapi ada hal yang harus kita ingat, jangan sampai berkat materi yang diberikan Tuhan kepada kita malah membuat kita semakin jauh dari Tuhan dan semakin sesat menjalani hidup. Berkat yang diperoleh seharusnya kita pergunakan juga untuk  menjadi saluran untuk memberkati orang lain. Kepada kita semua diberikan tugas khusus untuk menjadi terang dan garam, karenanya segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita seharusnya kita manfaatkan untuk menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Dalam surat Paulus kepada Timotius kita bisa melihat penekanan akan hal ini. Paulus secara spesifik menyinggung pesan kepada Timotius untuk mengingatkan jemaat-jemaat kaya. Ia tidak menuntut para orang kaya untuk menyingkirkan harta mereka, tetapi ia meminta Timotius mengingatkan mereka untuk menyikapi kekayaan mereka dengan benar. “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:17-19). Bukannya menjadi kaya dengan menimbun harta di dunia lalu memakainya untuk hal-hal yang jahat, tidak berguna atau sia-sia, tetapi seharusnya justru dipergunakan untuk menolong sesama, agar mereka menjadi kaya dalam kebajikan. Dan itulah yang akan berguna bagi kehidupan yang sebenarnya. Paulus tidak sekedar mengingatkan, ia pun sudah memberikan contoh langsung. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran kita ketika Tuhan menghadirkan kelimpahan berkatNya secara materi dalam kehidupan kita.

Ketika kita diberkati kekayaan, akan ada banyak godaan yang siap membuat kita menjauh dari Tuhan dan mengancam gagalnya kita untuk menuai janji-janji keselamatanNya. Jika tidak hati-hati maka kita bisa terpeleset jatuh ke dalamnya. Itulah sebabnya kita harus benar-benar menyiapkan mental kita dengan baik sejak dini ketika kesuksesan dan kekayaan mulai menghampiri kita. Dalam Amsal kita bisa melihat sebuah doa dari Agur bin Yake. “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” (Amsal 30:7-8). Ini doa yang sungguh baik kita panjatkan terlebih ketika kita masih belum yakin akan kekuatan iman kita menghadapi limpahan materi. Agur bin Yake melanjutkan dengan memberi alasannya. “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay 9).

Gaya hidup dunia akan selalu cenderung berorientasi kepada kemewahan. Dan kita sebagai pengikut Kristus bukannya dilarang untuk hidup berlimpah. Yang penting adalah apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi kekayaan itu. Apakah kita akan bersyukur dan mempergunakannya untuk membantu orang-orang yang lemah, menjadi terang dan garam di dunia, atau kita malah semakin menjauh dari Tuhan, itulah yang seharusnya menjadi pertimbangan kita. Ada banyak jerat yang akan siap memerangkap kita bila kita berorientasi kepada kekayaan atau kemewahan. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” (ay 9).

Jika belum mencapai tingkat kemakmuran seperti itu, kita pun tidak boleh kecil hati. Hidup berkecukupan sesungguhnya sudah merupakan berkat tak terhingga dari Tuhan. Seperti apa cukup dalam Alkitab? “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:8). Jika kedua hal ini ada pada kita, seharusnya kita sudah bisa bersyukur atas hal tersebut. Dan ingat pula bahwa ibadah yang disertai rasa cukup, disertai ucapan syukur yang sungguh-sungguh akan membawa keuntungan besar. “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6)

Ketika kita diberkati secara materi, bersyukurlah dan pergunakan itu untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Berfungsilah sebagai terang dan garam dalam dunia. Mengapa harus takut menjadi kurang ketika kita membantu orang lain? Bukankah Tuhan mampu menambahkan lebih lagi? Itu sebabnya Firman Tuhan berbunyi demikian: “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” (ukas 19:26). Apabila kita belum mencapai tahapan itu, tetaplah bersyukur juga, karena biar bagaimanapun Tuhan baik kepada kita. Jika anda masih bisa makan dan masih berpakaian saat ini, itupun harus dipandang sebagai berkat yang besar dari Tuhan. Dimanapun posisi anda hari ini, sikap hati yang benar akan membuat anda hidup dalam kebahagiaan sejati yang berasal dari Tuhan.

Pakailah berkat Tuhan untuk memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.