Kasihilah Musuhmu dan Berdoalah bagi Mereka, Mat 5:43-48

ADA anak muda disayangi pamannya. Ia diperbolehkan mempergunakan mobilnya walau untuk pesta-pesta sekali pun. Maka si pemuda menjaga hubungan baik, agar tak pernah menyakiti hatinya. Tetapi ketika pemuda ini datang ke pesta, datanglah seterunya, langsung menyeret dia dari mobilnya, dan seterunya ini entah apa sebabnya lalu masuk ke mobil, mengemudikannya dan menabrakkannya ke tembok. Maka pemuda ini menyesal sekali mengapa ia tidak dapat menghalangi seterunya ini merusak mobil pamannya dan ia merasa bahwa ia telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh pamannya.

Biasanya orang cepat emosi kalau menghadapi sesuatu yang mengecewakan. Orang yang dulunya selalu baik-baik dengan teman dekatnya, tiba-tiba bisa berubah menjadi musuh kalau telah membuat kecewa atau menyakiti hatinya. Maka musuh bukan selalu berarti seteru atau orang yang telah membuat kesalahan besar lalu menjauhkan diri. Bukan. Tetapi bisa juga orang yang selalu mengecewakan kita atau membuat kita menjadi emosi. Maka menurut ahli psikologi, orang itu harus turunkan tensi dan turunkan emosi lebih dahulu.

Menurut Tuhan Yesus cara menghalau emosi yang paling jitu yaitu dengan berdoa “mendoakan musuh”. Dengan berdoa ini orang dapat menunrunkan kemarahan, bisa memandang segi positifnya orang lain lalu dapat berdialog dengan orang yang dipandang musuh itu.

Dialog itu membangun hubungan antar pribadi.Tanpa dialog akan terjadi jurang pemisah. Tanpa dialog tidak mungkin terjadi komunikasi dua arah dan tak akan terjadi pemahaman terhadap yang lain, tetapi akan ada salah faham, dan mungkin akan menyebabkan adanya konflik.Maka dialog bukan untuk memper salahkan orang lain, tetapi ingin mengetahui keadaan orang lain yang sebenarnya.

Oleh karena itu dalam dialog orang berbicara secara wajar dan jujur, tidak memaksakan pendapat atau berprasangka; mau mendengarkan pihak lain tanpa penafsiran apa-apa, mencari kesamaan atau segi positif dari pihak lain dan ikut terlibat dengan permasalahan orang lain.

Setelah berdialog mungkin kita sendiri disadarkan bahwa yang bersalah itu diri kita atau kita juga dapat melihat bahwa mungkin lawan bicara kita juga mau mengakui kesalahannya. Dalam kesempatan inilah kita dapat saling memaafkan dan menghilangkan kekecewaan. Mau menganpuni kesalahan orang lain itulah bukti cintakasih yang sesungguhnya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.