Kasih yang Universal (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
===================
“Love never fails [never fades out or becomes obsolete or comes to an end]”

Seberapa besar kasih bisa berperan membawa perubahan dalam hidup? Saya sudah melihat langsung bagaimana kasih ternyata bisa mendatangkan banyak kebaikan dan menjangkau banyak jiwa untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Dunia saat ini berkata beda. Banyak dari mereka yang mengedepankan jalan kekerasan untuk menjangkau jiwa, mengira bahwa mereka bisa membawa perubahan ke arah yang menurut mereka baik dengan menggunakan kekerasan. Orang keras dilawan keras, itu akan percuma atau malah membuat semuanya lebih parah. Saya pernah menghadapi beberapa orang yang keras hatinya. Tahukah anda apa yang kemudian membuat mereka luluh? Ya, kasih. Butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit, tapi hasilnya terbukti membawa hasil baik. Anda bisa melihat anak-anak yang dibesarkan lewat kekerasan, hanya mengedepankan disiplin secara buta tanpa rasa sayang atau kasih, biasanya mereka tumbuh menjadi orang-orang kaku, sulit bergaul bahkan sifatnya keras dan kasar. Tentu dalam mendidik anak ada kalanya kita harus memberi hukuman. Bahkan Tuhan sendiri juga  “…menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6). Tapi bentuk hukuman harus dilakukan atas dasar kasih, karena kita mengasihi dan menyayangi mereka, ingin agar anak-anak ini kelak tumbuh menjadi permata-permata yang bernilai di dunia. Ada seorang teman saya yang ketika menegur anaknya ia menekankan agar si anak tahu bahwa yang ia sasar adalah kesalahannya dan bukan pribadi si anak. Jadi anaknya tahu bahwa pada saat ia dimarahi itu bukan kepada dirinya tetapi atas kesalahan yang ia perbuat. Love makes the world go round, kata orang bijak, grup band legendaris The Beatles memberi judul salah satu lagunya dengan “All You Need is Love.” Jika anda masih ingat, ada lagu karangan David Foster yang menampilkan deretan penyanyi tenar seperti Celine Dion, Peabo Bryson dan Color Me Badd di tahun 1994 berjudul “Love Lights the World.” Semuanya berbicara mengenai kasih yang berlaku universal, mampu menembus batas atau sekat-sekat yang dibuat manusia, bahkan lintas ruang dan waktu.

Dalam merayakan Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day tahun ini, saya merenungkan sebuah bentuk kasih yang bukan hanya secara sempit mengacu kepada hubungan antar pasangan, sahabat, kerabat atau keluarga, tetapi yang jauh lebih luas hingga mampu menjangkau orang-orang yang tidak dikenal sama sekali. Sebuah kasih yang sifatnya universal, berlaku universal pula. Kasih yang mampu merekatkan ikatan yang renggang, mengokohkan, mengubahkan ke arah yang lebih baik, yang mampu menjadi titik temu antara perbedaan-perbedaan antar manusia. Sebuah kasih yang saat ini terhenti hanya sebagai jargon tanpa diaplikasikan secara nyata, Dunia berperang, manusia bertikai, orang saling benci, tapi di sisi lain merindukan perdamaian. Tidak ada perdamaian tanpa kasih, itu adalah fakta yang agaknya sudah terlupakan. Kalau kita lihat bahwa di bentuk komunitas terkecil yaitu keluarga saja kasih sudah sulit dijumpai, apalagi dalam bentuk-bentuk lain yang lebih besar. Iblis terus mengincar manusia untuk dipecah belah. Dan sasarannya sekarang adalah keluarga. Mengapa? Sebab apabila komunitas terkecil manusia sudah porak poranda maka semuanya akan rubuh. Melihat dunia yang sudah tua saat ini yang penuh dengan kemunafikan, ego centris dan kebencian, sudah saatnya kita kembali kepada dasar dari segalanya, sesuatu dan satu-satunya yang berlaku kekal, yaitu kasih.

Kasih yang berlaku kekal, tak berkesudahan? Kita bisa membaca ayat yang menyebutkan hal itu yaitu dalam 1 Korintus 13:8. “Kasih tidak berkesudahan.” Dalam versi English Amplified dikatakan “Love never fails” [never fades out or becomes obsolete or comes to an end]. Kasih tidak akan pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik. Kasih sejati tidak akan pernah pudar atau berakhir. Kasih adalah inti dari seluruh isi alkitab, baik yang vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta maupun yang horizontal yaitu interaksi antar manusia dan ciptaan Tuhan lainnya. Kasih yang berlaku timbal balik dan interaktif, tidak searah. Kasih yang dinamis, terus bertumbuh dan tidak statis atau mandek. Kasih yang didalamnya berisi pengorbanan, bukan lagi berdasar pada kepentingan atau keuntungan diri sendiri, hitungan untung rugi dan sebagainya. Kasih yang mampu menjangkau jiwa dan membawa dunia kepada tatanan damai sejahtera seperti yang ada dalam benak Tuhan ketika Dia menciptakan seisi semesta lalu menciptakan manusia yang diberi tugas untuk mengelola semuanya secara bijaksana.

Semua bermuara kepada kasih. Kasih pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.