Kasih Personal, Kasih Pastoral

Pekan VII Paskah; Hari ke-8 Novena Roh Kudus; Jumat Pertama di bulan Juni
Kis 25:13-21; Mzm 103:1-2.11-12.19-20ab; Yoh 21:15-19

“Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? Jawab Petrus kepada-Nya: Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. Kata Yesus kepadanya: Gembalakanlah domba- domba-Ku.” (Yohanes 21:15)

DIALOG antara Yesus dengan Simon Petrus menegaskan dua hal. Pertama, undangan untuk mengasihi Yesus. Kedua, jawaban atas undangan-Nya seraya menegaskan jatidiri Yesus sebagai Tuhan (THE LORD dalam bahasa Inggris, dibedakan dari kata GOD). Yesus menanggapi jawaban dan pengakuan itu dengan perutusan: menggembalakan kawanan domba-Nya.

Kutipan sabda ini sangat kaya makna sesuai dengan maksud penulisnya. Yesus adalah Tuhan yang mengasihi umat-Nya. Kita pun diundang untuk mengasihi-Nya melebihi semua yang lain.

Ada relasi personal yang ditawarkan. Dan relasi personal itu disebut kasih personal yang berbuah pada kasih pastoral, karya penggembalaan. Kasih personal bukanlah kasih individual, melainkan kasih pastoral yang terlibat dalam karya nyata, bukan sekadar kata-kata hampa.

Pertanyaan Tuhan Yesus tak hanya tertuju kepada Petrus, tetapi juga kita yang saat ini membacanya. Maka kita pun diajak untuk menanggapi undangan kasih-Nya; menyambut undangan kasih itu dengan iman kepada Yesus sebagai Tuhan, dan berbagi kasih dalam karya pelayanan dan pastoral kita.

Kasih personal kepada-Nya berbuah pada kasih pastoral kepada sesama. Itulah yang disebut “unselfish love”, yakni kasih yang seluruh orientasinya adalah demi kebaikan dan kesejahteraan sesama; bukan demi kepentingan pribadi.

Kasih-Nya bagi kita mengubah hidup kita. Kasih-Nya membebaskan kita dari setiap ketakutan, egoisme, dan kesombongan diri. Ia rela mati demi menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya. Dalam kasih-Nya, menyatu antara kasih personal dan kasih pastoral demi keselamatan kita.

Umat Katolik diundang mengalami kasih personal itu setiap kali menyambut Tubuh Kristus dalam Komuni Suci. Sakramen Suci itu mendorong kita untuk berbagi kasih pastoral dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Adorasi Ekaristi Abadi, kita semua tinggal dalam kasih personal dan berbuah dalam kasih pastoral.

Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami untuk menjawab kasih-Mu secara personal agar berbuah dalam kasih pastoral kepada sesama dan semesta. Ya Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu, kini dan selamanya. Amin.

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.