Karya Indah dari Maestro yang Agung

Ayat bacaan: Mazmur 19:2
====================
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”

Sebagai penulis saya sudah terbiasa menulis dalam berbagai situasi dan kondisi. Jika di tempat ramai, saya harus sanggup ‘memblokir’ diri saya dari keramaian sekitar agar konsentrasi saya tidak terpecah.  Saya harus bisa mengatasi berbagai bentuk perasaan seperti sedang sedih, kesal terhadap sesuatu, sedang tidak mood, mengantuk, lelah dan sebagainya, bahkan ketika saya sedang sakit karena harus mengejar deadline. Jika saya biarkan, berbagai deadline akan menumpuk dan itu akan semakin menyulitkan saya dalam menyelesaikannya sesuai waktu. Meski harus siap setiap saat, saya memiliki situasi favorit yang sangat saya sukai dalam menulis, termasuk renungan setiap hari. Saya menyukai suasana malam, menulis dengan langsung beratapkan langit penuh bintang. Jika tidak di halaman terbuka di belakang rumah, saya biasanya duduk di ruang tamu sambil membuka pintu sehingga keindahan langit bisa saya lihat setiap kali saya mengarahkan pandangan keluar dari pintu.

Mengapa saya suka melihat langit? Karena bagi saya langit itu keindahannya sulit untuk dilukiskan oleh kata-kata. Itu adalah sebuah goresan karya Maestro yang amat sangat puitis. Dengan suasana seperti itu inspirasi saya bisa berkembang dengan lebih mudah sehingga saya dapat menulis dengan lebih cepat dan lebih baik. Selain itu, saya pun suka mengambil waktu merenung dalam suasana seperti itu. Kesukaan saya mengamati langit dan berbagai benda berkilau di dalamnya sudah berlangsung sejak saya kecil. Saya masih ingat betul ‘hobi’ saya memandang langit berjam-jam tanpa melakukan apapun. Hanya memandang ke atas, melihat kilau bintang dan bulan mewarnai langit gelap, terlebih pada saat bulan purnama, seolah ada hubungan istimewa antara saya dan langit malam.

Tampaknya Daud pun suka melakukan hal yang sama. Daud menikmati betul keindahan langit dan mempergunakan itu untuk mengingat Penciptanya. Dalam beberapa kesempatan kita bisa melihat perenungan indah dan puitis berdasarkan keindahan alam yang sedang ia nikmati. Salah satunya ditulis demikian: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” (Mazmur 19:2). Jika bagi saya keindahan alam itu sulit dilukiskan dengan kata-kata, Daud ternyata bisa menyimpulkan dengan bahasa yang sangat sederhana tetapi bermakna sangat dalam. Langit yang indah itu, lengkap dengan berbagai benda disana – burung-burung beterbangan di pagi dan siang hari, awan di langit biru cerah dan sinar matahari yang bersinar ceria, lalu kerlap kerlip bintang di malam hari – semua itu sesungguhnya mampu memberi gambaran tersendiri akan kemuliaan Tuhan. Cakrawala yang luasnya tak terukur pun sanggup bercerita tentang pekerjaan tangan Tuhan yang sangat artistik, sebuah masterpiece dari Maestro yang Agung. Jika kita menikmati banyak karya lukis yang legendaris dari para maestro, karya Tuhan terlukis dengan indahnya dalam bentuk nyata, yaitu pada keindahan langit dan cakrawala.

Melanjutkan ayat tadi, Daud kemudian menulis: “hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” (ay 3-5). Keindahan alam yang begitu luar biasa, baik siang ataupun malam adalah sesuatu yang bisa dinikmati semua manusia setiap saat di manapun kita berada hingga ke ujung bumi. Tidak perlu ada kata, tidak perlu lewat suara, tapi langit, cakrawala, dan seluruh alam semesta beserta isinya merupakan suara Tuhan yang menyatakan keberadaan dan kemuliaanNya kepada semua manusia tanpa terkecuali. Semua manusia bisa menyaksikan itu, semua itu kita lihat setiap hari dan bisa dinikmati kapan saja. Tapi berapa banyak orang yang bisa melihat kemuliaan Tuhan terpancar disana seperti Daud?

Meloncat ke pasal lain, dalam Mazmur 104 kita kembali mendapati perenungan Daud akan segala karya agung Tuhan lewat keindahan alam hasil pekerjaan tanganNya. Daud mengatakan “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (ay 31). Itulah yang ideal. Atas semua keindahan yang telah Dia ciptakan dengan sangat artistik, seharusnya Tuhan bersukacita atas itu. Tuhan sudah menugaskan kita sejak awal untuk berkuasa atas itu semua dan mengelolanya dengan baik. (Kejadian 1:28). Tetapi pada kenyataannya, manusia justru lebih suka merusak lingkungan ketimbang memeliharanya dengan baik. Menebang pohon sembarangan, efek rumah kaca, polusi, membakar lahan hutan, semua itu akan merusak alam. Bayangkan jika pada suatu hari nanti manusia tidak lagi bisa melihat langit yang indah dengan alam hijau yang asri. Hanya ada panas terik yang membakar tanah yang gersang, kering dan tidak lagi bersahabat. Tidak ada lagi bintang yang terlihat karena sudah tertutup oleh kabut-kabut yang diakibatkan asap beracun. Bumi terus semakin sekarat, cuaca semakin sulit diprediksi dan bencana terus datang menimpa manusia yang hidup dialamnya. Tidak ada sikap dan perilaku bijaksana manusia untuk bersahabat dengan bumi demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri, demi generasi di masa depan dan terutama menjawab tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan kepada manusia sejak semula. Bumi yang panas menyengat dengan berbagai bencana di dalamnya terjadi akibat kegagalan kita bertanggungjawab atas otoritas yang diberikan Tuhan untuk menjaga alam semesta yang sebenarnya telah Dia ciptakan dengan amat sangat baik. Seharusnya kita bersyukur, bertanggung jawab dan memuliakan Tuhan, membuatNya bersuka cita atas segala karyaNya yang istimewa, tetapi kita malah membuatNya berduka dengan segala ketidakbijaksanaan kita sendiri.

Jika anda bangun pagi disaat fajar menyingsing, keindahan yang anda lihat adalah sebuah bentuk senyum Tuhan yang menyapa dengan penuh kasih. Sementara keindahan langit di malam hari bagaikan nyanyian selamat malam (lullaby) dari Tuhan yang bisa membuat kita tidur dengan seuntai senyuman damai bahagia. Apakah kita menanggapi dan membalas sapaan Tuhan itu, mengingat Dia yang menciptakan segalanya dengan teramat sangat indah atau kita malah terus menjauh dan mengisi hidup kita dengan rasa takut, khawatir, keluh kesah, protes, kecewa dan sebagainya? Itu bisa kita lakukan apabila kita tidak terus mengingatkan jiwa kita untuk menyadari kebaikan Tuhan dan bersyukur atasnya. Kita bisa belajar dari cara Daud mengingatkan jiwanya untuk menyadari setiap keindahan yang diciptakan Tuhan. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24).

Tangan yang dipakai Tuhan menciptakan langit dan cakrawala indah itu adalah sama dengan yang dipakai Tuhan untuk menciptakan segala sesuatu. Tangan yang Dia pakai untuk memeluk, memberkati, melindungi dan menjaga kita. Segala keindahan langit, cakrawala dan alam semesta beserta isinya merupakan hasil ciptaan Tuhan yang akan bisa dinikmati umat manusia dimanapun mereka berada. Tidaklah sulit untuk merasakan keberadaan dan kemuliaanNya. Itu hanya sejarak pandangan anda ke jendela, atau keluar dari pintu rumah. Sejauh mana kita merenungkan apa yang kita lihat saat ini seperti halnya Daud? Sejauh mana kita memuliakan Tuhan kembali atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita? Sudahkah kita bersyukur ketika kita masih bisa menghirup udara yang segar di pagi hari, ditemani cahaya matahari dalam beraktifitas di siang hari, dan tidur berselimutkan langit penuh bintang di malam hari? Tuhan menyapa kita dengan semua itu, sudahkah kita menanggapinya dengan benar dan kembali menyapa Tuhan dengan penuh kasih pula? Apabila ada di antara teman-teman ada yang tengah bergelut dengan keyakinan anda akan keberadaan Tuhan, keluar dan pandanglah langit malam ini. Rasakanlah bagaimana langit berbicara banyak secara mengagumkan tentang kasih Sang Maestro yang agung lewat karyaNya yang indah.

Kemuliaan Tuhan terasa secara nyata lewat keindahan langit dan cakrawala ciptaanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.