Kapasitas Kantong Anggur (1)

Ayat bacaan: Markus 2:22
====================
“Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Sudah beberapa tahun saya mengurangi pemakaian plastik kresek ketika berbelanja karena plastik butuh waktu yang sangat lama untuk terurai sehingga bisa mencemarkan lingkungan. Untuk menggantikannya saya memakai kantong tas yang ternyata jauh lebih efektif karena selain ramah lingkungan, daya tahannya menampung beban pun lebih baik dari plastik. Setahan-tahannya sebuah kantong menahan beban, ada masa dimana kondisinya tidak lagi baik. Sobek, jebol, itu akan terjadi pada saat kantong tersebut sudah rapuh setelah dipakai sekian lama. Itu berarti kita harus mengganti kantong belanja lama dengan yang baru.

Pada jaman dulu, orang menyimpan anggur dalam kantong yang terbuat dari bahan kulit. Sebuah kantong kulit yang dituang anggur biasanya akan meregang. Anggur akan terus mengalami fermentasi dan kemudian menyebabkan kantong kulit itu mengeras. Seandainya kantong kulit yang sudah tua dan sudah mengalami peregangan terus diisi dengan anggur baru maka kantong akan koyak. Anggur baru terus berfermentasi, sedangkan kantong kulit yang sudah mengeras tidak lagi bisa meregang. Kantong pun akan jebol dan kemudian membuat semua anggur tumpah terbuang percuma. Untuk menghindari hal tersebut pilihannya ada dua: mengganti dengan kantong baru atau memasukkan hanya sedikit saja pada kantong lama, jauh dibawah kapasitas maksimal yang seharusnya.

Sebuah kantong kulit biasanya akan meregang setelah dimasuki anggur, karena anggur terus mengalami fermentasi, dan kemudian mengeras. Bisa dibayangkan jika kantong tua yang sudah mengalami peregangan diisi kembali dengan anggur baru. Anggur baru itu akan melanjutkan proses fermentasinya dan beresiko mengoyak kantong tua yang sudah lapuk akibat terus mengalami peregangan dan pengerasan itu. Yang terjadi adalah, anggur akan tumpah terbuang percuma. Terlebih jika sudah terlanjur sobek, kantong itu tidak akan bisa dipergunakan kembali. Intinya adalah, kita tidak akan bisa menampung apa-apa lagi apabila wadah yang dipakai sudah terlalu tua dan tidak lagi layak guna. Sebelum ayat ini, Yesus pun menyatakan: “Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.” (ay 21). Bayangkan apabila baju yang anda miliki sudah tua dan sobek, adakah gunanya anda menambalnya meski dengan kain yang baru? Dalam setiap proses tambalan itu anda justru akan semakin memperbesar sobekan pada baju karena baju itu sudah lapuk. Seperti itulah yang terjadi apabila kita tidak menganggap penting untuk terus belajar dan berlatih untuk menjadi lebih baik lagi, dan seperti itulah “kantong-kantong” atau “baju-baju” kita apabila kita terus mempertahankan yang usang dan tidak memiliki yang baru.

Sangatlah menarik bahwa Yesus mempergunakan contoh kantong anggur ini dalam mengingatkan kita akan perlunya memperhatikan kapasitas daya tampung kita dalam menerima curahan berkat dari Tuhan. Perhatikan ayat berikut. “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Markus 2:22). Kantong lama tidak akan maksimal dalam menampung yang baru, bahkan bisa jadi sama sekali tidak sanggup sehingga semua akan terbuang sia-sia saja. Sebuah kantong anggur tidak akan bisa menampung apa-apa lagi apabila sudah terlalu tua dan tidak lagi layak guna. Demikian pula kapasitas kita yang tidak dikembangkan akan membuat kemampuan kita dalam menerima berkat dari Tuhan tidak bisa maksimal atau malah tidak sama sekali.

Sebelum ayat ini, Yesus juga menyatakan: “Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.” (ay 21). Apabila baju yang anda miliki sudah tua dan sobek, adakah gunanya anda menambalnya meski dengan kain yang baru? Dalam setiap proses tambalan itu anda justru akan semakin memperbesar sobekan pada baju karena baju itu sudah sangat lapuk dimakan umur. Seperti itulah yang terjadi jika kita tidak mengabaikan pentingnya untuk terus belajar dan berlatih untuk menjadi lebih baik lagi. Seperti “kantong-kantong” atau “baju-baju” yang sudah tua, kapasitas kita yang tidak terus diperbaharui akan membuat semua kebaikan yang dicurahkan Tuhan menjadi terbuang sia-sia.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.