Kampung Setonan 1

< ![endif]-->

Awal Mula Kampung Setonan

CANGKRUK atau pos ronda di pojok Kampung Setonan mulai hangat. Petrus Mlekentus terlihat memulai menggelar ‘dagangannya’. Tentu saja maksudnya adalah obral obrolan apa saja. Pak Petrus yang sudah setahun ini ditunjuk warga menjadi Ketua RT Kampung Setonan memang jago soal jual abab alias jual busa mulut. Apalagi sore itu Yu Sirem mengantar pisang goreng dan bakwan goreng daur ulang yang tidak pernah tidak enak.

Maksudnya daur ulang adalah sisa dagangan di sekolah yang tidak laku. Di rumah digoreng ulang sebelum disajikan sehingga hangat.

“Kang Sirem, ini soal sejarah. Soal asal mula Kampung Setonan. Sebagai penghuni paling lama, Kang Sirem mestinya tahu to, awal mula Kampung Setonan. Kita pengin mendengar, Kang. Biar kita tidak dikatakan lupa sejarah. Jas merah, kata Presiden Soekarno,” kata Pak Petrus.

“Betul Kang. Ya sembari menikmati pisang goreng daur ulang istrimu ini loh, ayo bicara,” sambut Thomas, bujangan abadi di Kampung Setonan.

Kang Sirem cuma senyum-senyum. Ia ragu. Kalau bicara dengan rumput dan bunga-bunga di kebun sekolah, ia bisa. Karena itu pekerjaannya. Tapi kalau di tengah komunitas penghuni Kampung Setonan, Kang Sirem lebih banyak diam. Apalagi di hadapan Pak Petrus yang cerdas, meskipun istrinya sering ikutan tetangga lain menyebutnya dengan tambahan nama ‘Mlekentus’.

“Ayo, Kang. Jangan cuma senyam-senyum,” desak Pak Petrus.

“Sebenarnya saya tidak tahu apa-apa,” kata Kang Sirem. Tetapi akhirnya ia bercerita. Datar saja, bahwa dulu ia tidak punya tempat tinggal. Lalu Romo Vas Pasent menawari meninggali tanah itu yang kelak menjadi perumahan para guru dan karyawan sekolah serta gereja, ya Kampung Setonan itu.

“Kalau menurut saya sebagai orang Jawa, Romo Pas Pasent itu istilah saya memang pas. Beliau meminta saya tinggal di sini, ya pas, pas saya memang tidak punya tempat tinggal. Cangkruk ini lalu dibangun di dekat gubug kami, ya pas karena kalau istri saya mengantar makanan tidak jauh. Pokoknya apa-apanya pas,” kata Kang Sirem dengan senyum sederhana yang tidak pernah tertinggal.

ilustrasi Kampung Setonan 1

Akan hal nama Setonan menurut Kang Sirem, berasal dari kata Setu atau Sabtu. Itu juga pas, tepat, menurutnya. Karena penghuni Kampung Setonan itu orang yang menggunakan hari Sabtu dan Minggu untuk memuji Tuhan. “Memang Romo Pas Pasent sungguh pas segalanya,” gumam Kang Sirem.

Thomas mengernyitkan dahi. Sikap skeptisnya muncul. Ia tidak yakin kalau Romo Vas Pasent merencanakan seperti Kang Sirem ungkapkan. Sebagai Romo Londo menurut Thomas, tidak mungkin beliau berencana membuat kampung khusus orang Katolik. “Saya kira, orang kita saja yang di bawah sadar memimpikan tinggal di satu kampung sendiri bersama keluarganya. Karena merasa mendapat tekanan, lalu membangun kampung khusus agama A. Nanti akan ada ada kampung khusus agama B, atau bahkan pulau khusus suku C, suku D, suku Z, dan sebagainya,” kata Thomas mulai dengan lagak inteleknya.

“Nah, itu kan ya tidak becik. Tidak baik. Antaranggota suku tertentu atau antar umat agama terpisah pisah secara fisik. Kalau perlu dibuat pagar tembok tebal tiga meter… Tidak baik itu,” ujar Thomas dengan wajah serius.

“Itu sama saja hidup di jaman pra Konsili Vatikan II. Menganggap tidak ada yang baik di luar sana. Apa kalau satu kampung berisi orang Katolik saja, lantas kampung menjadi baik? Belum tentu,” jurnalis musiman tersebut seperti tidak terbendung.

“Mas Thomas, teorimu itu ketinggian,” potong Pak Petrus. Menurutnya, kebetulan Gereja punya tanah, kebetulan ada karyawan-karyawan yang belum punya rumah.

“Lalu dibuatlah beberapa rumah, lantas kita-kita yang tidak kuat beli rumah bisa tinggal di sini dengan cicilan murah. Begitu saja,” tambah Pak Petrus yang kali ini tampak bijak dan tidak mlekenthus.

“Iya-iya, betul kata Pak Petrus. Wah, kalau saya harus beli rumah sendiri… uang dari mana,” gumam Kang Sirem.

“Nah betul kan,” sambut Pak Petrus.

Wajah Thomas masih tertekuk serius. Bibirnya seperti hendak bicara lagi tetapi tidak ada suara.

ilustrasi kampung setonan 2“Mas Thomas, saya paham ketakutanmu. Tetapi kampung kita ini kecil. Lagi pula, meskipun kita satu kompleks, tak ada pagar khusus yang memisahkan kompleks ini dengan masyarakat tetangga. Yu Munah juga tiap sore bebas jualan gorengan di sini, Pak Marno leluasa bawa gerobak baksonya. Mbah Karyo setiap hari datang merawat tanaman dari rumah ke rumah,” cerocos Pak Petrus bergaya seperti kalau rapat RT.

“Anak saya paling kecil senang kalau Yu Munah lewat. Walau di rumah ada pisang goreng, ia beli pisang goreng Yu Munah,” cetus Kang Sirem.

Dalam suasana yang menghangat, ditingkahi wajah Thomas yang masih serius, suara mangkuk melenting-lenting terdengar. Ting, ting, ting…!!! Itu pertanda Pak Marno hendak memasuki Kampung Setonan.

“Coba dengar, sebelum masuk kampung sini, Pak Marno pun merasa perlu untuk memberi tanda dengan mangkuknya, takut kalau ada apa-apa,” kata Thomas.

“Hallah, Mas Thomas ini ada-ada saja. Kalau itu sih bukan hanya  Pak Marno, Yu Munah dengan jajanannya juga selalu memberi salam dengan caranya,” ujar Kang Sirem yang kali ini tangkas.

“Kalau Mbah Karyo lain lagi Kang Sirem,” kata Pak Petrus sambil mata melirik nakal pada Thomas. “Dia datang dengan tawaran khusus. ‘Mas Thomas, ini calon istri, cantik, tinggi, berambut panjang,’” seloroh Pak Petrus yang berlanjut dengan tawa lepas. Kang Sirem juga ikut tertawa. Thomas yang menjadi sasaran tembak hanya tersenyum kecut.

Sabtu petang di cangkruk Kampung Setonan itu berakhir dengan skor 0-1. Thomas, bujangan abadi sekaligus jurnalis musiman kalah oleh Pak Petrus, ketua RT yang suka mlekenthus, alias omong besar.

Photo credit:

  • Kampung Setonan (Ir. R. Sutriyono)
  • Makan bersama (Mathias Hariyadi)

 

 

 

 


Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.