Kamis Putih, Paus Fransiskus Basuh Kaki Pengungsi


TAHUN lalu, dalam ritual misa Kamis Putih,Paus Fransiskus mencuci kaki para tahanan dan kaum difabel. Tahun ini, giliran migran dan pengungsi yang mendapat berkat istimewa tersebut.


Misa Kamis Putih dipersembahkan di CARA, salah satu tempat penampungan pengungsi yang terletak 25 km dari kota Roma. Misa ini dihadiri 900 migran yang tinggal di CARA dan 100 sukarelawan. Sebagian besar migrant yang ditampung di CARA bukan katolik, mereka berasal dari sub-Sahara Afrika.


Paus membasuh 11 kaki migran dan satu sukarelawan. Dari 11 migran tersebut, empat orang muda Katolik yang berasal dari Nigeria, tiga wanita penganut Koptik yang berasal dari Eritrea, tiga muslim, dan satu pemuda Hindu berasal dari India.


Alasan Paus merayakan Kamis Putih di lokasi pengungsian erat berkaitan dengan keprihatinannya terhadap hak-hak pengungsi yang membanjiri Uni Eropa.


Paus pada 16 Maret menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk membuka hati dan membuka pintu bagi para pengungsi, sebagian besar dari mereka hidup dalam situasi nyata dan dramatis dalam pembuangan. “Mereka jauh dari kampung halaman, dengan mata yang masih dipenuhi reruntuhan rumah mereka, para pengungsi tersebut sering menemukan pintu-pintu yang tertutup ketika berusaha masuk ke suatu Negara,” demikian pesan Paus waktu itu.


Penderitaan dan persaudaraan


Ketika acara pembasuhan kaki berlangsung, air mata mengenangi mata sebagian besar dari 12  orang terpilih tersebut. Seorang wanita menangis tersedu ketika selesai mencuci kakinya, Paus memberkati bayi yang digendongnya.


Paus menekankan kepada mereka bahwa ketika banyak orang di dunia yang mencari aksi kekerasan di dunia, Yesus memperlihatan jalan ke arah persatuan, persaudaraan, dan damai.


“Hari ini, ketika saya melakukan hal yang sama seperti Yesus mencuci kaki para rasul, semua dari kalian hendaknya melakukan hal yang menguatkan persaudaraan. Kita memang berbeda, kita semua unik. Kita memiliki budaya dan agama yang berbeda, tetapi kita bersaudara dan kita ingin hidup di dalam kedamaian,” tegas Paus dalam homilinya.


“Setiap dari kalian memiliki cerita masing-masing. Begitu banyak salib, begitu banyak penderitaan, tetapi juga memiliki hati yang terbuka yang menginginkan adanya persaudaraan,”


Dua sikap: Yesus dan Yudas


Dalam homilinya, Paus juga menjelaskan tentang dua sikap yang berlawanan yang tersirat dalam bacaan hari itu. Satu adalah Yesus yang menunjukkan pelayanannya dengan aksi pembasuhan kaki 12 rasulnya. Kedua adalah Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus demi 30 keping uang perak.


“Saat ini pun kedua sikap tersebut bisa kita lihat di dunia sekarang. Yang pertama, seperti orang-orang dari budaya dan agama berbeda berkumpul bersama. Berbeda tetapi bersaudara, anak Tuhan yang ingin hidup dalam kedamaian. Tetapi kita melihat juga yang kedua, pihak yang memilih peran dan terror, seperti aksi terror di Belgia pada 22 Maret lalu,” tukas Paus.


Menurut Paus yang lahir pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires Argentina ini, di belakang Yudas ada orang yang memberinya uang untuk menyerahkan Yesus. Di belakang aksi teror di Brussel, ada pabrik dan pedagang senjata yang menginginkan perang.


Paus mengharapkan para pengungsi untuk berdoa sesuai bahasa agama mereka masing-masing kepada Tuhan agar persaudaraan menyebar di dunia.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: