Kaleb dan Kesetiaannya

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
“Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.”

tetap setia

Berapa lama toleransi kita untuk bersabar menunggu sebuah janji digenapi? Jawaban bisa berbeda-beda pada setiap orang, dan mungkin akan tergantung pula pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk bubar karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu yang mampu ditolerir, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk bersabar. Ketidak sabaran pun bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidup kita.

Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, Musa, mereka mengalami saat-saat dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Rentang waktu yang harus mereka jalani untuk tetap setia pun terbilang tidak singkat. Satu lagi contoh yang akan saya angkat sesuai tema hari ini adalah mengenai Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai kita kenal ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dan Kaleb adalah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu, maka mereka pun kembali dengan kesimpulan sebagai berikut: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.” (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi tidak semua pengintai bersikap pesimis seperti itu. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif. Dengan tegas ia membantah pesimisme rekan-rekannya. “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Karena ia percaya jika Tuhan sendiri berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pun pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, masa Tuhan membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa kesetiaannya kepada Tuhan sungguh luar biasa.

Dalam kitab Yosua kita bisa melihat kisah Kaleb 45 tahun kemudian. Pada saat itu Kaleb sudah berusia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar setengahnya saja? Tentu sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata “Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya.” (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia “tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.” (ay 8). Ia melanjutkan “Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini” (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh melemah. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata “pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah, namun semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan, justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb. Dan Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. “Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” (ay 14).

Mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada happy ending. Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu tetaplah setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: