Jumat 22 Agustus 2014: Kasih kepada Allah dan Sesama, PW St. Perawan Maria Ratu

mecintai sesama by blackbeggar

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 107:2-9; Matius 22:34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37,39)

Baiklah hukum kasih ini kita baca dan renungkan dalam kontek Kasih. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Karenanya, kita pun harus saling mengasihi. Kasih itu rahmat yang mengagumkan dari Allah untuk kita.

Sebagai murid-murid Kristus, kita sadar bahwa dalam Dia, kasih Allah selalu baru. Kasih Kristus itu daya kekuatan yang tak terduga dalam hidup kita. Kasih Kristus selalu mendorong kita untuk maju dan berada di depan dalam hal mengasihi.

Hidup dalam kasih tak sekadar berpegang pada hukum kasih dan perintah-Nya. Orang-orang Farisi sering bersikap legalistik, bangga dengan hanya tahu hukum semata tanpa pelaksanaan. Mereka setia pada hukum Musa, lupa pada Allah. Yesus mengritik sikap ini.

Maka, kepada mereka yang mau mencobai Yesus tentang hukum kasih, Yesus mengajak mereka masuk ke kedalaman hukum itu sebagai hukum utama.

Yesus menegaskan bahwa hukum kasih tersimpan dalam Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

Sederhana saja, hukum kasih itu berwujud pada tindakan kasih kepada Allah dan sesama. Sumbernya adalah Allah yang mengasihi. Kita harus mengasihi seperti Allah mengasihi kita.

Allah adalah kasih. Segala tindakan Allah mengalir dari kasih-Nya. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia agar setiap orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Mengapa? Allah adalah kasih. Orang yang tidak mengasihi tidak mengenal Allah karena Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8-9).

Allah lebih dahulu mengasihi kita dan kita membalas kasih-Nya. Kalau Allah sudah berkenan mengasihi kita, maka kita pun harus saling mengasihi. Pertama, kita mengasihi Allah. Selanjutnya, kita mengasihi sesama. Kasih kepada sesama selalu berdasarkan kasih Allah kepada kita.

Kian kita mengenal kasih-Nya, kita pun kian mengasihi-Nya dan kian pula mengasihi sesama. Kasih kita kian bertumbuh oleh iman dan harapan. Itulah kekuatan kita.

Syukur kepada Allah karena pengalaman kasih yang dinyatakan kepada kita. Kasih-Nya membebaskan kita dari cinta diri dan egoisme. Maka marilah kita saling mengasihi. Mengasihi Allah dan sesama.

Adorasi Ekaristi Abadi menguatkan kita dalam mengasihi Allah dan sesama. Adorasi Abadi adalah ekspresi mengasihi Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Juga kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri. Gereja memerlukan Adorasi. Tanpa Adorasi hidup mudah lelah. Gerakan Adorasi Abadi yang tumbuh di babyak tempat menggembirakan kita (lih. Evangelii Gaudium 262)

Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk memahami kasih-Mu. Syukur atas kasih-Mu. Semoga kasih kami kepada Allah dan sesama berkembang baik kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem.

SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman.

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of Blackbeggar)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.