Jembatan

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:27
===========================
“Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.”

jembatan, barnabasJembatan adalah sebuah struktur atau sarana yang dibuat untuk menyambung dua area yang terpisah, membuat kita mampu melintasi rintangan, jurang atau sungai. Kita menemukan banyak jembatan sepanjang hidup kita. Ada jembatan sederhana dari titian kayu untuk menyeberangi sungai, atau cuma mempergunakan dua utas tali, ada yang lebih serius dengan sistem pembangunan yang lebih kokoh dan modern. Yang pasti jembatan-jembatan ini akan jauh mempermudah kita untuk mencapai tujuan. Saat ini jembatan tidak saja dipakai untuk menyambungkan dua area yang terputus oleh jurang atau untuk menyeberang sungai saja, tapi juga dipakai untuk menyambungkan dua daerah bahkan pulau yang berkilometer jauhnya. Baru-baru ini negara kita baru saja meresmikan jembatan Suramadu yang melintasi Selat Madura. Jembatan ini menghubungkan pulau Jawa dan pulau Madura dengan panjang mencapai lebih dari 5 kilometer. Di negara tetangga kita ada Jembatan Penang yang menghubungkan pulau Penang dengan Semenanjung Malaysia. Panjangnya sekitar 13,5 kilometer. Jika sebelumnya transportasi antara Penang dan Semenanjung Malaysia hanya bisa dilewati melalui kapal feri, mulai tahun 1985 jembatan tol ini sangat memudahkan dan mempercepat akses pulang pergi menuju Malaysia melalui pintu masuk Penang. Di Amerika kita mengenal Golden Gate, sebuah jembatan dengan panjang hampir 3 kilometer di San Fransisco. Jembatan dalam bentuk apapun, baik yang sederhana maupun yang dibuat dengan teknologi muktahir lengkap dengan fasilitas-fasilitasnya akan sangat berguna bagi manusia.

Dalam menjalani hidup ini seringkali kita pun butuh jembatan. Dalam proses lahir baru, saya pun membutuhkannya. Saya tidak tahu harus bagaimana di gereja, membuka alkitab mencari ayat pun masih bingung. Saya tidak tahu bagaimana untuk bisa dibaptis dan sebagainya. Puji Tuhan, ada teman-teman yang rela bertindak sebagai jembatan pada waktu itu, sehingga saya pun bisa menjadi diri saya hari ini. Tanpa mereka yang berfungsi sebagai jembatan dari hidup lama menuju hidup baru, mungkin saya tidak akan bisa bertumbuh. Jika hari ini saya aktif mewartakan kabar keselamatan kepada siapa saja, itu semua tidak lepas dari jasa para jembatan yang dahulu dengan kesabaran membimbing saya.

Alkitab mencatat peran penting seseorang dalam proses transformasi Paulus. Pada waktu itu Paulus yang masih bernama Saulus dikenal sebagai pembantai orang percaya. Begitu kejam dan sadis, begitu mengerikan. Dalam Kisah Para Rasul 9:1-19 kita bisa melihat proses pertobatan Paulus yang mengharukan. Saulus bertobat. Tapi masalah tidaklah selesai, karena ternyata orang tidak bisa percaya dan menerima dirinya. Orang masih merasa curiga mengingat seperti apa dia di waktu lalu. Ia bahkan hampir dibunuh. Ia tertolak dimana-mana. Untung ada seseorang yang berperan menjadi jembatan, sehingga ia pun akhirnya diterima di kalangan orang percaya. Orang itu adalah Barnabas. Ini terjadi ketika Saulus masuk ke Yerusalem dan seperti biasa mengalami penolakan. Sepertinya apa yang ia alami akan sama saja. “Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.” (ay 26). Reputasinya menjadi penghalang utama dimanapun ia sampai. Tidak ada yang percaya kepadanya. Tetapi ada Barnabas disana yang memberi perbedaan besar dengan kota-kota lainnya. “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.” (ay 27). Barnabaslah yang pertama menerima dia, lalu menjembatani Saulus dengan para rasul lainnya. Lewat Barnabas sang jembatan, akhirnya terjalinlah hubungan antara Saulus dengan rasul-rasul. Ia diterima, “Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan.” (ay 28). Setelah pertobatan, Paulus mengalami proses pertumbuhan yang luar biasa. Ia menjadi orang yang begitu berpengaruh dalam pertumbuhan awal gereja-gereja, dan hari ini kita bisa melihat banyak kitab yang ditulis olehnya. Semua ini mungkin tidak akan terjadi tanpa adanya sosok Barnabas. Jika Saulus menjadi seorang Paulus yang luar biasa, itu bisa terjadi karena ada seorang jembatan yang bernama Barnabas.

Seperti halnya Saulus, kita yang penuh dosa ini pun sebenarnya tidak layak untuk diselamatkan. Jangankan diselamatkan, untuk berhubungan dengan Tuhan, menghampiri tahta kudusNya pun kita sama sekali tidak pantas. Sesuatu yang kotor tidak bisa masuk ke dalam sesuatu yang suci dan kudus. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Tapi ternyata kita yang berdosa ini begitu dikasihi Allah, sehingga Dia pun mengutus anakNya yang tunggal, Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Yesus menjadi jembatan yang memulihkan hubungan antara kita dengan Tuhan lewat karya penebusanNya di atas kayu salib. Semua penyiksaan mengerikan hingga kematian dijalani Kristus semata-mata agar kita selamat dan mendapatkan pemulihan hubungan dengan Tuhan. Setelah semua itu diselesaikan dengan tuntas, Dia pun bangkit, kembali ke tahtaNya dan pada suatu saat nanti akan kembali turun untuk menjemput kita. Jika hari ini kita bisa “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16), itu adalah berkat jembatan yang dibangun Yesus.

Sudahkah kita mampu berperan sebagai jembatan-jembatan seperti itu kepada orang lain? Ada banyak orang yang masih baru menerima Kristus yang butuh dijembatani, dibantu dalam proses pertumbuhannya. Ada orang yang masih belum tahu apa yang harus ia lakukan untuk selamat. Mungkin anda melihat orang yang berpakaian tidak pantas ketika memasuki gereja, mungkin anda melihat orang yang imannya masih naik turun, orang yang sudah menerima Yesus namun hidupnya masih dikuasai dosa, orang yang belum menemukan tujuan hidupnya seperti yang digariskan Tuhan dan sebagainya. Anda bisa berperan sebagai jembatan bagi mereka. Jangan lakukan sebaliknya, menghakimi mereka, mengusir, mengata-ngatai, mengejek, mencibir atau menghujat, karena dengan melakukan hal seperti itu, justru kita menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Keselamatan dianugerahkan Tuhan untuk semua orang, tanpa terkecuali. Tapi ada kalanya orang membutuhkan jembatan untuk bisa mencapai jalan yang benar itu. Dan disana peran kita pun dibutuhkan. Kita dituntut seperti ini: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Jadilah jembatan yang terang benderang. Orang-orang baru percaya membutuhkan banyak Barnabas dalam hidupnya. Jadilah jembatan seperti Barnabas dan bukan batu sandungan. Let us all find the way to be the bridge in the lives of others.

Jadilah jembatan yang membawa keselamatan kepada jiwa-jiwa

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.