Jembatan Comal di Saat Mudik Lebaran 2014

Jembatan Comal by Solo Pos

PARA pemudik yang melewati Pemalang menuju ke arah timur pada Lebaran tahun 2014 ini mengalami kelelahan karena kemacetan lalu lintas. Jembatan Sungai Comal belum selesai diperbaiki sehingga arus lalu lintas terhambat.

Jalur ke arah timur sudah bisa memakai jembatan sebelah utara. Meski demikian, antrian kendaraan terjadi sejak dari Petarukan (depan RM Pringjajar) hingga Jembatan Comal.

Sedangkan jalur dari arah timur, para pengendara masih harus memutar dari Comal ke selatan melalui Desa Muncang, Bodeh, Kemuning, Karang Talok, Blimbing, Wonogiri, Sokawati dan Paduraksa-Pemalang. Ini berjarak kurang lebih 50 km.

Menurut rencana per 1 Agustus 2014 ini, arus akan diubah sebaliknya. Arus balik akan diperbolehkan melewati jembatan.

Pemda kurang sigap
Perjalanan melewati desa-desa tersebut bisa makan waktu 3 jam karena harus antri panjang dan jalannya sempit. Terlebih ketika melewati jembatan dan harus bergantian; system buka tutup.

Dalam sebuah reportase di koran Radar, pemerintah kabupaten dinilai tidak siap dengan jalur alternatif. Selain sempit dan harus memutar jauh, kondisi jalan alternatif itu rusak dan berlubang. Apalagi kendaraan yang diarahkan melalui Kajen, Kesesi, ke arah Bantarbolang.

Jalan menanjak lewat pegunungan, lalu turun terjal, berliku-liku dan sempit. Pernah terjadi upaya pemotongan gaji PNS sekian persen, terutama guru dengan alasan untuk perbaikan infrastruktur jalan, namun kenyataannya masih belum ada perbaikan.

Siang maupun malam kondisi jalan alternatif itu akhirnya harus dipakai. Sebagian penduduk memanfaatkan situasi ini untuk berjualan dan mengatur jalan dengan menyodorkan kaleng untuk diisi uang para pengguna jalan. Jalan-jalan yang biasanya sepi menjadi ramai dan padat kendaraan.

Jembatan Comal dengan panjang 120 meter dan lebar 2×6 meter dibangun dan kemdian direnovasi pada tahun 2003 (arah menuju Jakarta, sebelah selatan) dan kemudian tahun 1989 (arah menuju Semarang, sebelah utara).

Namun sejak Kamis malam (17 Juli lalu) pk. 12.10 WIB jembatan tersebut ambles dua-duanya, pada tepi sebelah barat karena tergerus air sungai dan akibat banjir pada bulan April yang lalu.

Jembatan Comal pernah putus pada tanggal 17 maret 1989 dan setelah itu rupanya dirasa aman-aman saja. Kementrian Pekerjaan Umum memberikan anggaran darurat Rp. 7 miliar untuk memperbaiki sementara amblesnya jembatan Comal. Beberapa pipa baja telah ditanam dan ditimbun aspal sehingga bisa dilalui kendaraan.

Di sebelah selatan, tepatnya di desa Ujunggede, ada jembatan yang bisa dilalui dengan kendaraan sepeda motor, sepeda atau becak. Di situ pun kendaraan harus antri panjang dan bergantian; sistem buka tutup diberlakukan.

Arus balik

Untuk arus balik, direncanakan mulai 1 Agustus arus ke arah barat (Jakarta) akan dilewatkan jembatan yang utara, sedangkan arus lalu lintas dari arah barat dialihkan melalui jalur alternatif Bodeh, Kajen dst.

Sungguh para pengendara jalur pantura memang harus berpikir dua tiga kali untuk melewati jalur Comal. Banyak truk yang diberhentikan di tepi jalan dan tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Selain berat di ongkos solar, juga sulit memutar balik kendaraan yang panjang itu.

Setelah misa kudus di Comal Minggu kemarin ada ungkapan dari seorang Bapak yang kasihan melihat para sopir truk yang kelaparan sewaktu terjadi kemacetan panjang.

Mereka mau mencari makan susah karena warung-warung tutup dan uang makannya pun terbatas.

Dalam situasi seperti itu Gereja belum tergerak untuk membantu mereka dengan pembagian nasi bungkus.

Demikian reportase seputar amblesnya jembatan Comal dan serba-serbi di sekitarnya.

Kredit foto: Amblasnya Jembatan Comal di Pemalang jadi objek wisata. (Courtesy of Solo Pos)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.