Jelang Pertemuan Keluarga Mondial di Philadelpia Sept 2015: Tantangan Keluarga dalam Evangelisasi (4)

menikah

Keluarga mengalami krisis budaya
Krisis budaya terkait dengan semakin menguatnya budaya individualisme yang dihayati oleh masyarakat luas dan umat Katolik. Dalam budaya individualisme, yang mewujud dalam penguatan otonomi manusia, dimana nilai-nilai dan kebenaran individual dimutlakkan membuat orang sulit untuk menerima sistim nilai yang datang atau ditawarkan dari luar, termasuk nilai-nilai yang diajarkan oleh Gereja. Demikian juga, upaya untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran yang diyakini oleh Gereja mengalami benturan dan halangan yang kuat manakala kebenaran yang disampaikan itu berbeda dengan kebenaran yang diyakini secara individual.

Dalam perspektif ini, dengan mudah dapat dimengerti mengapa orang pada zaman ini semakin sulit untuk menerima nilai-nilai tradisional perkawinan, seperti kesetiaan dalam perkawinan, monogami dan tidak terputusnya ikatan perkawinan. Manakala otonomi manusia dimutlakkan, maka satu-satunya kebenaran yang ada adalah kebenaran yang bersifat individual, dan dalam pemahaman semacam itu, tidak dimungkinkan adanya keterbukaan sikap terhadap penerimaan nilai yang datang dari luar. Inilah krisis budaya yang dialami oleh keluarga zaman sekarang ini. Di satu sisi ada tuntutan untuk menghayati nilai-nilai dan kebenaran ajaran Gereja tentang perkawinan dan hidup keluarga, namun dari sisi lain, berkembang sikap dan pola pikir yang ingin menegasikan semua tatanan nilai yang berasal dari luar, termasuk yang disampaikan oleh Gereja.

Gereja dan kesetiaan pada ajaran
Berhadapan dengan situasi demikian itu, Gereja tidak boleh menyesuaikan diri atau mengambil sikap kompromi dengan arus pemikiran yang sedang berkembang dalam masyarakat.

Sebaliknya, Gereja harus tetap setia berpegang pada ajaran yang diyakini kebenarannya, walau berbeda dengan pemahaman umum yang berkembang dalam masyarakat. Sikap kompromis, tentu bukan pilihan tepat yang harus diambil oleh Gereja. Sikap semacam itu dapat memunculkan persepsi bahwa Gereja tidak setia pada ajarannya atau telah mengubah ajarannya. Anggapan semacam itu, tentu merugikan Gereja. Oleh karena itu, Gereja harus kembali kepada Injil sebagai sumber kebenaran ajaran.

Ajaran Gereja berkembang dalam perjalanan sejarah manusia, mengalir dari pengalaman umat yang dihayati sebagai sebuah keniscayaan. Ajaran Gereja tidak pernah bersifat kaku dan beku, tetapi mengalir dari pengalaman umat dalam sejarah yang bersumber dari Injil. Dengan kata lain, ajaran Gereja bersifat “cair” dalam pengertian hidup dalam sejarah umat yang mengalami perkembangan, selalu berusaha menanggapi situasi “kekinian” yang dihadapi oleh manusia pada zamannya.

Apa yang dulu dianggap sebagai kebenaran mutlak, yang karenanya tidak dapat dipersoalkan, seperti hukuman ekskomunikasi yang dikenakan kepada pasangan Katolik yang hidup dengan pasangan baru tanpa ikatan perkawinan yang sah, sebagaimana ditegaskan dalam KHK 1917, tidak lagi dipahami secara demikian dalam KHK 1983. Dengan kata lain, ada perkembangan baru dalam hal pemahaman berkaitan dengan “hukuman” yang dikenakan kepada pasangan yang hidup dalam situasi yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja (iregularitas) tanpa harus mengingkari kebenaran ajaran Gereja.

Gereja dan ketetapan Tuhan tentang perkawinan
Perpisahan, perceraian dan persoalan lain yang terkait dengan perkawinan bukanlah persoalan baru yang muncul dalam Gereja dewasa ini. Persoalan yang sama sudah ada seiring dengan keberadaan umat manusia. Bahkan kitab Kejadian bab 2, sudah membicarakan hal itu.

Solusi yang diberikan sangat jelas bahwa “apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusia” (Kej 2, 14). Dengan kata lain, sejak awal mula sudah ada kasus perceraian, sejak awal mula sudah ada pasangan suami-istri yang tidak mampu mempertahankan kesetiaan dalam ikatan perkawinan sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan.

Berhadapan dengan kasus semacam itu, orang berusaha untuk mencari solusi yang tepat atasnya. Tindakan apa yang harus diambil berhadapan dengan kasus semacam itu? Solusi yang diberikan oleh Kitab Kejadian bab 2 hanya satu, yakni tidak mengizinkan adanya perceraian. Alasan pokok atau pendasaran atas larangan perceraian didasarkan pada Sabda Tuhan yang menegaskan bahwa Tuhan telah mempersatukan suami-istri dalam perkawinan, maka manusia tidak dapat memisahkan mereka. Hak pemisahan hanya diberikan kepada Tuhan, sebab Dialah yang telah mempersatukan suami-istri. Tidak membuka alternatif atau kemungkinan lain bagi terjadinya penyelesaian secara berbeda.

Dalam perkembangan, Musa dihadapkan juga dengan kasus perceraian. Umat meminta supaya mereka diizinkan untuk bercerai. Menanggapi hal itu, Musa sebagai penjaga dan pembela ajaran yang benar tidak memberikan izin untuk bercerai. Musa mau megingatkan umatnya akan kewajiban dan tanggungjawab dalam menjaga, memelihara dan mempertahankan ikatan kesetiaan dalam perkawinan, sebab Allah yang telah menetapkan aturan tersebut tidak menghendaki manusia melanggarnya, sebaliknya, Ia menghendaki manusia memegang teguh ketetapan itu seperti halnya ketetapan lain yang dibuat oleh Tuhan bagi umat-Nya.

Sebagai utusan Tuhan, Musa sungguh percaya bahwa apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan tentang perkawinan itulah yang terbaik bagi umat-Nya, oleh karena itu manusia tidak mempunyai hak untuk menolak atau membuat aturan baru, sebab aturan Tuhan bersifat sempurna dan tidak memerlukan adanya perubahan atau tambahan dari pihak manusia. Apa yang dituntut dari pihak manusia adalah kerelaan untuk menerima serta kesetiaan untuk menghayati ketetentuan tersebut agar shalom yang dijanjikan oleh Tuhan menjadi kenyataan dalam hidup manusia.

Kalaupun akhrinya Musa memberikan izin untuk bercerai seperti dikisahkah dalam Injil, itu bukanlah izin yang diberikan secara umum, artinya berlaku untuk semua orang dan dalam semua kasus. Izin itu diberikan karena kekerasan hati manusia yang tidak mau mengikuti ketetapan Tuhan. Kekerasan dan kedegilan hati telah “membutakan” manusia, sehingga tidak lagi mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang.

Apa yang ditegaskan oleh Penulis Kitab Kejadian dan Musa tentang perkawinan dipertegas lagi oleh Yesus. Dalam pengajaran-Nya, sebagaimana terekam dalam ke-4 Injil, nampak dengan jelas bahwa bagi Yesus tidak memberikan kompromi atau jalan tengah berkaitan dengan peraturan tentang perkawinan. Bagi Yesus, ketetapan atau peraturan tentang perkawinan itu sifatnya final karena sudah ditetapkan oleh Bapa sejak awal penciptaan dan sampai saat ini tidak pernah direvisi atau dirubah, artinya ketetapan itu tetap berlaku seperti sediakala, saat pertama ditetapkan oleh Bapa.

Oleh karena itu, Yesus dengan sangat tegas menolak permintaan untuk bercerai yang diajukan oleh orang Yahudi pada masa itu. Jawaban penolakan Yesus itu tidak didasarkan pada aturan baru, tetapi didasarkan kepada ketetapan sebagaimana yang sudah ditetapkan sejak awal mula ”Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia” (Mat 10, 18-19).

Gereja dan kerahiman Allah
Dalam sejarah iman umat Allah, nampak dengan sangat jelas adanya situasi yang bersifat kontradiksi antara kesetiaan Allah di satu sisi, dan ketidaksetiaan manusia di sisi lain. Berulangkali manusia tidak setia, namun Allah tetap menunjukkan kerahiman dan belaskasih-Nya. Kerahiman Allah senantiasa mengatasi ketidaksetiaan dan kedosaan manusia, dan karena sikap Allah yang demikian itu, manusia masih tetap mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat.

Dengan kata lain, Allah – dalam kerahiman-Nya – tidak menghukum, melainkan menyelamatkan manusia dengan memberi kesempatan untuk bertobat. Pintu pertobatan senantiasa terbuka bagi manusia yang menghendaki keselamatan.

Dalam perspektif kerahiman Allah itu, para Bapa Sinode mencoba untuk membuat terobosan baru berkaitan dengan situasi iregularitas yang dialami oleh pasangan-pasangan akibat dari perpisahan dengan pasangan. Dari data yang ada, harus dikatakan bahwa situasi demikian jumlahnya sangat banyak. Itu berarti ada sekian banyak pasangan suami-istri Katolik yang mengalami kehidupan yang tidak normal dan terus hidup didalam situasi ketidaknormalan itu, sampai nanti (entah kapan) Gereja mengambil sikap yang dapat mengatasi situasi demikian itu.

Berhadapan dengan situasi yang demikian itu, Gereja tidak bisa berdiam diri. Sebagai penerus karya keselamatan Allah, Gereja berkewajiban untuk mengambil sikap berupa pencarian terobosan baru untuk membantu pasangan-pasangan yang hidup dalam situasi tersebut diatas.

Dengan kata lain, Gereja harus mampu menghadirkan kerahiman Allah bagi umat-Nya. Kerahiman Allah bagi pasangan-pasangan yang hidup dalam ketidak teraturan itu, berarti membantu mereka agar bisa hidup kembali dalam keteraturan sebagaimana mestinya, bisa hidup layaknya orang Katolik lainnya: berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan menggereja.

Dalam perspektif ini, para Bapa Sinode telah mendiskusikan tentang kemungkinan “pemberesan” perkawinan bagi pasangan yang hidup dalam situasi iregularitas itu dengan konsekuensi positif yang mengikutinya, yakni berpartisipasi penuh dalam kehidupan sakramental Gereja. Dasar pertimbangan atau argumentasi yang dipakai oleh para Bapa Sinode (walau tidak semua) adalah kerahiman Allah. Kalau Allah saja tidak menghukum, haruskah Gereja bersikap lebih keras dengan menghukum mereka, tanpa memberikan jalan lain bagi suatu solusi yang bersifat membebaskan dan menyelamatkan?

Pendasaran Biblis atas posisi sebagaian Bapa Sinode yang mengetengahkan kerahiman Allah dan yang didukung penuh oleh Paus Fransicus mengacu kepada beberapa teks: (1). 2 Ptr 2:4-6: “Sebab jikalau Elohim tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa… dan jikalau Elohim tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; dan jikalau Elohim membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian”.

Lewat kutipan ini, sebagain Bapa Sinode bersama dengan Paus Fransiscus mau menegaskan soal keramiman Allah yang lebih memilih untuk menyelamatkan manusia daripada menghacurkannya, meski manusia telah berdosa.

Lukas 11:29-32. Menurut Paus yang dikutip oleh Radio Vatican, ”Para ahli Kitab adalah para pelindung Torah yang keluar dari kasih. Mereka lupa semua hal-hal yang Elohim telah berbuat di dalam sejarah.” Mereka tidak mampu melihat apa yang Yeshua saat itu sedang perbuat, sebuah tanda menunjukkan…”waktunya telah tiba”. Paus mengutip sabda Yeshua, ”Generasi ini adalah sebuah generasi yang jahat, sebab mencari jenis tanda yang salah,” Lebih lanjut dengan bertolak dari teks Luk 11, 29-32, Paus menambahkan bahwa Yeshua selalu berada bersama dengan orang-orang berdosa untuk mempertobatkan mereka agar selamat dari hukuman dosa – dan Ia memerintahkan mereka semua ”jangan berbuat dosa lagi!”

Perintah Torah berasal dari YAHWEH, bersumber dari 10 Perintah YAHWEH yang ditulis oleh jari-Nya sendiri. Sepanjang sejarah Alkitab, Elohim tetap sama, dahulu, sekarang dan selamanya bahwa Dia membenci Dosa, sebab Dosa adalah pembunuh manusia yang adalah ciptaan-Nya yang spesial: sesuai gambar dan rupa Elohim dan tercipta dengan jari-jari-Nya sendiri.

Sekretaris Jenderal Sinode, Kardinal Coccopalmerio, dengan mengutip Sabda Yesus tentang perbuatan baik yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat meski tindakan itu dilarang oleh hukum Sabat, mengingatkan kembali kepada para Bapa Sinode tentang interogasi yang disampaikan oleh Kristus dua ribu tahun yang lalu kepada khalayak ramai: “Ketika dombamu jatuh atau anakmu jatuh ke dalam sumur pada hari Sabtu, apa yang akan kau lakukan? Hukum Sabat tetap berlaku, kita menghormatinya, tetapi ada kasus-kasus yang mengharuskan intervensi dari pihak Gereja, intervensi mana membawa konsekuensi kepada sikap perlawanan terhadap “hukum Sabat”.

Ada orang-orang yang memerlukan bantuan Gereja. Oleh sebab itu, jawaban harus diberikan kepada “orang-orang yang sungguh-sungguh berada dalam kondisi yang parah dan mendesak”. Orang-orang semacam itu, ibaratnya adalah orang-orang yang “jatuh kedalam sumur” dan memerlukan bantuan supaya mereka tidak mati karena terus “berenang” dalam air sumur kedosaan.

Yesus telah memberikan contoh nyata berhadapan dengan kasus-kasus semacam itu dalam karya pewartaan-Nya membawa kabar gembira kepada manusia zaman itu. Sebagai penerus karya Kristus, Gereja pun harus berani menganbil pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang dalam upaya untuk menyelamatkan manusia. “Manusia lebih penting daripada hari Sabbat”.

Ortodoksi dan ortopraksi ajaran Gereja
Sekilas nampak dua posisi yang muncul diantara para Bapa Sinode selama Sinode berlangsung. Satu posisi menegaskan kesetiaan kepada doktrin Gereja tentang pernikahan yang tidak terceraikan, dan posisi lain, menekankan pendekatan pastoral yang penuh belas kasih dan murah hati tanpa bersikap murahan. Jadi tidak ada antagonisme, pertentangan atau permusuhan antara kedua posisi ini; sebaliknya, sikap yang muncul adalah saling mendengarkan dengan penuh perhatian, dengan kerendahan hati dan kejujuran satu terhadap yang lain.

Sebagai realitas historis, Gereja tidak bisa menutup diri terhadap perkembangan sejarah manusia, termasuk juga terhadap berbagai perkembangan yang terjadi dalam praksis internal Gereja. Salah satu diantaranya adalah praksis pastoral perkawinan berhadapan dengan situasi zaman sekarang ini. Berhadapan dengan kasus pepisahan, bahkan sampai kepada kasus dimana masing-masing pihak hidup dengan pasangan baru tanpa ikatan apapun, sementara itu mereka hidup lebih berbahagia dibandingkan dengan ketika hidup dengan pasangan sebelumnya, Gereja diharapkan mengambil pilihan pastoral yang bersifat cura animarum, tentu saja dengan tidak meninggalkan ortodoksi iman.

Persoalan pastoral praktis yang muncul adalah bagaimana Gereja harus bersikap berhadapan dengan orang-orang semacam ini? Apakah tidak akan menimbulkan batu sandungan bagi umat ketika Gereja menunjukkan “kemurahan hati” dengan memberi izin untuk berpartisipasi secara penuh dalam perayaan ekaristi? Apakah tindakan semacam itu tidak menimbulkan “perbantahan” di kalangan umat seolah-olah Gereja telah mengubah pendiriannya mengenai perkawinan? Kalau demikian, apa yang masih dapat dianggap sebagai kebanggaan dari Gereja Katolik? Bukankah karena Gereja Katolik berpegang kepada monogamitas dan indissolubilitas perkawinan telah membuat pihak lain menaruh hormat kepada Gereja Katolik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang harus dijawab oleh Gereja seandainya Gereja mengambil pilihan pastoral demikian itu, tanpa harus meninggalkan ortodoksi iman. Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa Gereja harus mengambil pilihan pastoral yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa daripada sebatas mentaatti peraturan dan hukum yang berlaku. Pertimbangan kemanusiaan serta keselamatan jiwa adalah pertimbangan yang mendasari keputusan Gereja manakala harus mengambil kebijakan yang mungkin kelihatannya agak menyimpang dari ortodoksi iman, tetapi sebenarnya justru menghadirkan ortodoksi iman itu dalam situasi kongkret yang dialami oleh manusia pada zamannya.

Kerahiman Allah hendaknya dijadikan dasar dalam pengambilan setiap pilihan pastoral itu. Manakala hal itu dijadikan sebagai pendasaran, tentu dipastikan tidak akan membawa dampak negatif dalam ortopraksi ajarannya. Tentu saja, pertimbangan pastoral, moral dan hukum akan tetap dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan itu, seraya menegaskan bahwa kebijakan yang diambil harus dipahami bukan sebagai kebijakan yang bersifat umum, artinya berlaku dalam setiap kasus; sebaliknya adalah kebijakan yang bersifat kausitik, artinya tergantung kepada kasus-kasus yang ditemui dalam karya pastoral. Karena sifatnya kasuistik, maka penyelesainnya pun bersifat partikular, artinya tergantung kepada kasus-kasus itu sendiri. Kasus yang satu penyelesainnya bisa berbeda dari kasus lainnya.

Tentu kita berharap dengan pelaksanaan sinode keluarga yang akan datang (thn 2016) dengan melibatkan utusan-utusan dari setiap negara, kita berharap akan mendapatkan pegangan yang pasti berkaitan dengan reksa pastoral terhadap pasangan-pasangan yang hidup dalam situasi iregularitas itu, sehingga semakin banyak pasangan yang dibantu untuk hidup secara normal dalam pangkuan Gereja Katolik.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist0

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.