Jelang Pertemuan Keluarga Mondial di Philadelpia Sept 2015: Tantangan Keluarga dalam Evangelisasi (2)

cari kerja by reuters

Kesulitan pekerjaan
Para Bapa Sinode juga memberikan perhatian khusus kepada keluarga-keluarga yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Konsekuensi yang muncul dari situasi itu, bahwa keluarga-keluarga semacam itu, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk anggota keluarga mereka.

Lebih lanjut, situasi yang demikian itu tentu membawa konsekuensi yang lebih jauh. Konsekuensi logis yang muncul dari situasi itu, tidak hanya membawa dampak jangka pendek berupa tidak terpenuhinya hak-hak dan kebutuhan dasar bagi suatu keluarga: pangan, sandang dan papan; tetapi juga membawa pengaruh yang serius untuk masa depan anak-anak.

Karena ketiadaan biaya, pendidikan anak-anak akan terbengkalai. Pada gilrannya hal ini akan menciptakan suatu “lingkaran setan” bagi kesejahteraan segenap anggota keluarga. Kita selalu meyakni bahwa pendidikan adalah pintu masuk (entry point) menuju kepada suatu perubahan, termasuk didalamnya kesempatan untuk mengubah masa sekarang yang dinilai kurang baik ke arah yang lebih baik. Tidak mengherankan dalam situasi semacam itu, orang-orang muda memandang ke masa depan dengan harapan kosong dan rentan menjadi korban obat bius dan kejahatan.

Situasi kemiskinan yang dialami oleh keluarga-keluarga kerap memaksa mereka harus berangkat dengan transportasi seadanya, dengan perahu untuk mencapai pantai negara lain yang dianggap lebih menjanjikan untuk kehidupan yang lebih baik. Ribuan jumlah keluarga-keluarga semacam itu yang mempertaruhkan hidup mereka.

Ada yang berhasil mencapai negara “impian” dan berhasil “mengubah” hidup dan masa depan mereka; tetapi, tidak terbilang pula jumlahnya yang menjadi korban ganasnya badai dan ombak yang dahsyat, sehingga tidak pernah sampai menginjakkan kakinya di negeri impian. Selain itu, tidak terbilang jumlah para pengungsi yang mengembara di padang gurun tanpa harapan, akibat dari peperangan yang berkepanjangan di negara masing-masing. Mereka terhempas dari lingkungan keluarga dan budaya yang selama ini memberikan rasa aman dan kenyaman.

Keluarga yang mengalami penganiayaan iman
Situasi yang mirip juga dialami oleh keluarga-keluarga yang dianiaya karena iman, karena nilai-nilai kemanusiaan dan harta rohani yang mereka yakini. Situasi yang demikian itu, secara khusus dialami oleh keluarga-keluarga yang hidup di negara-negara yang menganut sistim pemerintahan otokrasi atau semi otokrasi yang menempatkan agama kelompok mayoritas sebagai agama negara dengan konsekuensi menjadikan warga minoritas sebagai warga negara kelas dua dengan segala bentuk perlakuan yang diskriminatif.

Hak-hak dasar dan kebebasan mereka untuk beribadah dan menjalankan kewajiban keagamaan kerapkali terhalang atau sengaja dihalangi oleh pihak penguasa. Situasi yang demikian itu, tentu saja tidak menguntungkan bagi kelompok minoritas.

Selain itu, perlakuan diskriminatif karena perbedaan keyakinan juga merambah dalam dunia pekerjaan dan pendidikan. Kerapkali karena keyakinan yang berbeda dengan kelompok mayoritas, mereka mengalami kesulitan dalam menemukan pekerjaan dan terhalang dalam menempuh pendidikan. Walaupun tidak ada relasi yang bersifat langsung antara pekerjaan dengan iman, sebab pekerjaan mensyaratkan pendasarannya pada kemampuan/kualifikasi dan kompetensi, dan bukan pada pilihan atas keyakinan keagamaan tertentu; namun dalam realita, pecampuradukan semacam itu sungguh terjadi dan kerap dijadikan sebagai justifikasi atau pembenaran untuk perlakukan diskriminatif. Menjadi kelompok minoritas di negara-negara semacam ini, sungguh dialami sebagai kenyataan yang menyakitkan.

Keluarga dan budaya kesejahteraan

Budaya kesejahteraan yang menguasai dunia dewasa ini, di satu sisi menawarkan begitu banyak bentuk kenyamanan dan kesejahteraan kepada keluarga-keluarga; namun dari sisi lain, budaya yang sama telah mematikan perasaan kita. Kita bergairah ketika pasar menawarkan sesuatu yang baru untuk dibeli; namun pada saat yang sama, mereka yang hidupnya terhambat karena kurangnya kemampuan dan kesempatan untuk dapat membeli dan memilikinya, tawaran-tawaran itu tampak hanya sekedar sebuah tontonan belaka yang baik untuk dipandang tetapi terlalu “jauh” untuk dapat diraih.

Oleh karena itu, budaya semacam itu ternyata tidak mampu menggerakkan hati keluarga-keluarga yang secara ekonomi tidak tergolong kedalam keluarga yang berada (bdk.Evangelii Gaudium 54).

Berhadapan dengan situasi yang demikian itu, para Bapa Sinode menghimbau pemerintah-pemerintah dan organisasi-organisasi internasional untuk mempromosikan hak-hak keluarga, memberikan perlindungan dan bantuan finansial agar keluarga dapat memenuhi kebutuhan dan kewajiban dasarnya sebagaimana yang diamanatkan oleh Santo Yohanes Paulus II, yakni menjadi “komunitas cinta” (bdk. Familiaris Consortio, no. 18).

Gereja sebagai “Rumah” dan pancaran cahayaNya
Berhadapan dengan situasi yang demikian itu, Gereja diharapkan mampu menjadi sebuah “rumah” dengan pintu yang selalu terbuka untuk menyambut semua orang, tanpa mengecualikan seorang pun, sebagaimana yang diamanatkan oleh Kristus. Dalam kaitan dengan hal ini, patut untuk digarisbawahi peranan dari para Gembala, kaum awam, dan komunitas-komunitas yang senantiasa siap untuk mendampingi pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga yang berada dalam kesulitan serta merawat “luka-luka” mereka.

Mereka hadir, ibaratnya seperti seorang ibu yang selalu siap memberikan kesejukan, kenyamanan dan perlindungan bagi anak-anaknya manakala situasi menuntut Gereja harus bertindak demikian.

Dalam kehangatan yang demikian, dapat diharapkan bahwa keluarga-keluarga masih mampu memancarkan cahayanya. Cahaya tersebut bersinar dari rumah di kota-kota, di kediaman-kediaman sederhana pinggiran-pinggiran kota dan desa-desa, dan bahkan dalam gubuk-gubuk belaka. Cahaya ini adalah karunia, rahmat yang terungkap – sebagaimana dikatakan Kitab Kejadian (2:18) – ketika keduanya “bertatap muka” sebagai pribadi yang setara dan sebagai penolong satu bagi yang lain.

Kasih pria dan wanita mengajarkan kepada kita, bahwa masing-masing membutuhkan pasangannya agar dapat menjadi diri sendiri. Masing-masing tetap berbeda dari yang lain dalam jati dirinya, yang membuka diri dan mengungkapkan diri sebagai anugerah timbal balik. Inilah yang dikidungkan oleh sang pengantin dalam Kidung Agung : “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia… Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku” (Kid 2:16; 6:3).

“Perjalanan” menuju kepada pemberian diri ini – agar menjadi otenteik – dimulai dengan pacaran, sebagai saat penantian dan persiapan. Perjumpaan ini terjadi secara penuh dalam sakramen di mana Allah menetapkan meterai-Nya, dan menyatakan kehadiran serta rahmat-Nya. Perjalanan ini juga mencakup seksualitas, kelembutan, keintiman, dan keindahan yang mampu berlangsung lebih lama daripada daya dan kesegaran kaum muda.

Kasih, dari kodratnya, terarah untuk menjadi selamanya hingga titik memberikan hidupnya bagi orang yang dikasihi (bdk. Yoh 15:13). Dalam terang ini kasih suami-istri, yang adalah satu dan tak terpisahkan, bertahan meskipun banyak kesulitan karena keterbatasan manusia. Kasih seperti ini adalah satu dari antara mukjizat yang paling indah meskipun juga yang paling umum.

Kasih ini menyebar melalui kesuburan dan kesediaan untuk melahirkan, yang tidak hanya berarti kelahiran anak-anak, tetapi juga karunia hidup ilahi dalam baptisan, katekese, dan pendidikan mereka. Ini mencakup kemampuan untuk memberikan hidup, kasih sayang, dan nilai-nilai – pengalaman yang mungkin bahkan bagi mereka yang belum mampu melahirkan anak-anak. Keluarga-keluarga yang menjalani petualangan penuh cahaya ini menjadi sebuah tanda bagi semua orang, terutama bagi kaum muda.

Kredit foto: Ilustrasi (Reuters)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.