Jangan Takut Memanfaatkan Internet untuk Pewartaan!

UMUMNYA Gereja (Katolik) bersikap amat positif terhadap kemajuan pesat atas sarana-sarana komunikasi sosial, termasuk internet.

“Sikap itu selalu diungkapkan dalam acuan yang konsisten terhadap jati diri dan perutusan gereja sendiri bagiseluruh umat manusia di tengah dunia modern ini, khususnya setelah Konsili Vatikan II (1926-1965),” ujar Romo C. Putranto SJ dalam paparannya berjudul “Tambahlah Benua Digital: Dorongan Pimpinan Gereja Tentang Internet” di Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan Se-Indonesia X di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (12/9/2012).

Menurut Putranto, kendati tampak narsisistik, namun untuk zaman sekarang bergaul di internet itu amat diperlukan. Ini merupakan langkah gereja yang konkret dalam merefleksikan misterinya dalam terang wahyu ilahi dalam konteks zaman modern.

“Menarik sekali untuk disimak bahwa jati diri gereja tidak lagi dilihat sebagai suatu organisasi kelembagaan melainkan sebagai persekutuan yakni cara berelasi yang ditandai oleh saling berbagi kehidupan dan komunikasi,” jelas Putranto.

Menurut pakar kateketik ini, dalam konteks pewartaan Injil, semua media bisa dipergunakan oleh gereja pada suatau kedalaman yang melibatkan suara hati dan moralitas.

“Semua ini dalam semangat kekaguman dan syukur atas genialitas yang telah dianugerahkan Allah Pencipta kepada makhluk manusia untuk bisa menemukan sarana-sarana itu,” jelas mantan Provinsial Serikat Yesus ini.

Tentang ini pula, empat tahun setelah konsili, gereja menurut Putranto terus mengajak umat beriman untuk tidak takut memanfaatkan internet.

Dengan jelas Romo Putranto mengutip pesan Paus Yohanes Paulus II pada Hari Komunikasi Sedunia yang ke-24 (1990) yang menyebutkan dengan jelas.

” Metode-metode untuk memperlancar komunikasi dan dialog di antara anggota-anggota gereja dapat memperkokoh kesatuan antar mereka. Akses langsung padainformasi memungkinkan gereja untuk memperdalam dialognya dengan dunia dewasa ini: Gereja menjadi lebih siap menginformasikan kepada dunia tentang imannya, dan menjelaskan tentang posisinya mengenai pokok-pokok atau peristiwa tertentu. Gereja sendiri pun dapat mendengarkan dengan lebih jelas suara pendapat umum dan dengan demikian memasuki suatu dialog terus-menerus dengan dunia di sekitarnya…”

Photo credit: Romo C. Putranto SJ (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait:

Artikel terkait:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.