Jangan Malas

Ayat bacaan: Amsal 12:27
=====================
“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.”

jangan malas

Ada sebuah warung makan tidak jauh dari rumah saya. Sajian mereka sangat lezat, namun mereka buka sekehendak hatinya saja. Tidak ada jadwal teratur untuk berjualan. Hari ini buka, besok tutup, dan ketika ditanyakan jawaban mereka pun terkadang begitu santai, “kemarin kita diajakin mancing pak.. jadi kita tutup.” Dengan etos kerja dan disiplin seperti ini bagaimana mau maju? Anehnya si penjual masih saja heran karena merasa dagangannya tidak mengalami kemajuan. Begitulah kebiasaan kita manusia. Banyak orang cenderung mengharapkan berkat jatuh dari langit tanpa perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk diam di rumah, uang akan turun sendiri bagai kucuran hujan. Kalau tidak? Mereka akan dengan ringan berkata itu sudah takdir. Mengatakan takdir sama saja dengan menyalahkan Tuhan yang seolah-olah menciptakan mereka untuk miskin dan menderita hidup di dunia ini.

Kemalasan semakin lama semakin membudaya dimana-mana. Hidup yang semakin sulit ternyata tidak membuat orang menjadi semakin giat berjuang, tetapi sebaliknya malah semakin malas. Ini fenomena dan realita yang bisa kita saksikan di sekitar kita. Kepinginnnya jangan hanya diberi makan, tapi disuapi sekalian. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya tumbuh menjadi orang-orang yang malas. Berkat Dia sediakan secara berlimpah, tapi kita tidak diajarkan untuk menjadi manja dan hanya menanti saja. Kita harus pula bekerja giat untuk mencapainya. Bukankah selain menyediakan berkat Tuhan pun menyediakan berbagai talenta, bakat atau kemampuan bagi kita untuk dipergunakan agar bisa menerima berkat-berkat itu? Tuhan tidak senang menyediakan segala sesuatu secara instan, meski Dia sanggup untuk itu. Mengapa? Karena itu tidak mendidik, malah akan melemahkan atau merusak. Tuhan lebih senang menyediakan kail yang dapat dipergunakan untuk memancing ikan ketimbang melemparkan ikan-ikan itu dari langit langsung ke rumah kita.

Mari kita lihat sedikit kisah ketika bangsa Israel berada di Silo (Yosua 18). Pada saat itu segenap umat Israel berkumpul dan mendirikan Kemah Pertemuan di sana. Tuhan telah menyertai mereka sedemikian rupa sehingga negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu secara umum telah berhasil mereka taklukkan. Meski Tuhan sudah memberkati mereka dengan tanah yang melimpah madu dan susunya seperti itu, dan Tuhan sendiri pula sudah menyertai mereka dalam setiap langkah untuk merebut tanah yang dijanjikan itu, tetapi tetap saja suku-suku tersebut enggan berangkat berperang untuk menguasai wilayah yang masih tersisa. Tuhan sudah menyediakan segalanya dan membantu, tetapi mereka masih juga malas-malasan. Maka akhirnya datanglah teguran melalui Yosua atas mereka. “Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?” (ay 3). Sikap malas dan senang menunda-nunda ternyata sudah ada sejak dulu dan terus membudaya hingga hari ini. Pesan yang sama dalam konteks yang sedikit berbeda pun berlaku pula bagi kita. Berapa lama lagi kita harus bermalas-malasan sehingga tidak pergi menggapai janji-janji yang telah disediakan Tuhan bagi kita?

Ada banyak ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan atas orang-orang yang malas. Salah satunya dikatakan: “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27). Bagaimana kita bisa menangkap janji Tuhan jika kita enggan bergerak dan mulai melakukan sesuatu dengan serius? Sangat disayangkan ketika Tuhan sudah meletakkan berkat-berkatNya di depan kita, tetapi kemalasan membuat kita tidak akan pernah bisa meraihnya. Mengharapkan berkat tanpa adanya usaha sama saja dengan mengharapkan bintang jatuh dari langit. Kita harus mulai melakukan sesuatu dan berhenti membuang-buang waktu serta kesempatan.

Keselamatan pun demikian. Kita memang mendapatkan keselamatan lewat iman sebagai kasih karunia yang diberikan Allah pada kita dan bukan karena hasil pekerjaan kita (Efesus 2:8), tetapi kita tidak berhenti disana. Kita masih tetap harus bekerja keras memelihara keselamatan itu agar tidak lepas dari genggaman kita. Paulus mengatakan hal itu dengan menyatakan bahwa kita harus terus mengerjakan keselamatan kita. “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” (Filipi 2:12). Tuhan sudah begitu baiknya, Dia bahkan telah mengatakan bahwa Dia sendirilah yang bekerja di dalam kita untuk memampukan kita (ay 13). Tapi semua itu akan sia-sia jika kita tidak mau bergerak dan memilih untuk diam saja. Lihatlah ketika Tuhan Yesus memberi perumpamaan ini: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” (Matius 7:24). Tuhan Yesus memberi perumpamaan dengan membangun rumah. Itu berbicara mengenai sebuah proses terus menerus, berkelanjutan dan usaha yang tidak sedikit. Ketika kita sudah mendengar firman Tuhan, kita harus melanjutkannya ke tahap selanjutnya, yaitu melakukannya. Itupun melalui proses secara bertahap dan kontinu, seperti sedang membangun rumah.

Contoh lain, lihatlah ketika Yesus bertemu Petrus untuk pertama kalinya (Lukas 5:1-11). Pada saat itu Petrus sedang bersedih karena ia tidak menangkap seekor ikan pun semalaman. Apa yang dilakukan Yesus? Dia tidak menurunkan ikan secara langsung dari langit, tetapi Dia malah menyuruh Simon untuk kembali bertolak ke tempat yang dalam dan kembali menebarkan jala. (ay 4). Meski Yesus sanggup untuk langsung memberi ikan, tetapi Dia lebih memilih untuk memberkati lewat usaha kita. Ikan-ikan, atau berkat-berkat, sudah disediakan Tuhan di depan bagi kita. Ia pun sudah menyediakan kail atau jala untuk menangkapnya. Semua tinggal tergantung kita, apakah kita mau masuk ke dalam untuk melemparkan jala atau memilih hanya menjadi penonton di luar tanpa melakukan apapun. Orang malas tidak akan pernah bisa mendapatkan buruannya, tetapi hanya orang yang rajinlah yang akan memperoleh harta yang berharga.

Dimana kita saat ini? Apakah kita masih berleha-leha menyia-nyiakan berbagai peluang mulai dari peluang kesuksesan hingga keselamatan, atau kita sudah berusaha untuk mencapainya dengan serius dan sungguh-sungguh? Marilah kita berhenti sebagai orang malas, dan mulai berpikir untuk mewujudkan rencana-rencana Tuhan bagi kita lewat sebuah kehidupan yang rajin. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang-orang yang manja dan malas. Dia sudah menyiapkan berkat bagi kita, maukah kita bergerak untuk mendapatkannya?

Jadilah orang-orang rajin yang mau menggapai berkat Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.