Jangan Jadi Oknum Pencemar

Ayat bacaan: Keluaran 20:7
================
“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.”

Saya tertarik melihat sebuah running text di sisi sebuah jalan yang dibuat oleh Kepolisian Republik Indonesia yang menyatakan tekad untuk berusaha menjadi lebih baik. Citra kepolisian memang sempat memburuk, tapi komitmen untuk menjadi lebih baik terus diupayakan, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini. Saya yakin masih banyak polisi yang menjalankan tugasnya dengan baik, tapi segelintir oknum mencoreng citra institusinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Oknum, begitulah mereka ini disebut, yang mengacu kepada pribadi atau sekelompok orang yang membuat institusi, lembaga atau badan tempat mereka bernaung menjadi tercemar.

Jika dalam institusi atau lembaga saja hal ini sudah jelek, ada banyak oknum-oknum yang berani mencemari Tuhan. Lihat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan tindakan-tindakan yang memalukan seperti intimidasi, kekerasan hinga teror. Ironisnya, di kalangan orang percaya sekalipun termasuk di antaranya segelintir hamba-hamba Tuhan yang mencemari iman kekristenan lewat perilaku buruk mereka. Bisa lewat sikap-sikap menghakimi seolah-olah mereka paling tahu dan paling benar, dalam perilaku di masyarakat, berbagai tindak kecurangan sampai korupsi dan sebagainya. Mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang untuk mengenal pribadi Kristus. Kalau apa yang ditabur hanya dituai sendiri itu memang harus diterima sebagai konsekuensi, tetapi bayangkan jika itu berdampak bagi pengenalan orang banyak yang keliru tentang esensi Kekristenan. Orang akan mendapatkan pemahaman keliru tentang cara hidup yang benar sebagai anak-anak Allah, tentang bagaimana gambaran sikap sebagai murid Kristus. Dan itu bisa membuat image Tuhan tercoreng lewat perilaku orang percaya yang menyimpang dari kebenaran/ketetapan Tuhan.

Akan perilaku ini, Tuhan sejak semula sudah memberi peringatan yang bisa kita dapati dalam kitab Keluaran. “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Keluaran 20:7). Peringatan ini adalah satu dari 10 Perintah Allah, yang dikenal sebagai the Ten Commandments, yang tentu tidak asing lagi bagi kita. Menyebut nama Tuhan, itu bisa mengacu kepada ucapan yang keluar dari mulut, tapi bisa pula berhubungan dengan berbagai sikap kita secara umum sebagai orang yang mengaku percaya kepadaNya. Sebagai orang percaya, kita harus benar-benar memperhatikan sikap, perbuatan dan gaya hidup kita karena sadar atau tidak, kita menyandang namaNya dengan iman kita. Kita harus memperlakukan Tuhan dengan penuh hormat dan takut, dan sikap itu akan terlihat dari bagaimana cara kita hidup, apakah dari gaya hidup, pergaulan, dalam berbicara, dalam menghadapi masalah dan sebagainya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana seandainya Tuhan disebut sia-sia tidak pada tempatnya. Ada  yang berani memasukkan kata Tuhan sebagai bagian dari lontaran kata negatif atau makian, dalam mengutuk orang lain, atau bahkan berteriak-teriak menyebut Tuhan sambil menyiksa/menyakiti orang lain. Jika kita menyebut atau merepresentasikan Tuhan secara sembarangan atau tidak benar, maka itu dipandang sebagai kesalahan, dan kita tahu konsekuensi yang harus kita pikul sebagai akibatnya.

Kalau kita tahu bahwa kita tidaklah boleh menyebut nama Tuhan sembarangan tanpa rasa hormat atau takut, ada satu hal yang akan menjaga kita dari kemungkinan memberi cap buruk atau pengenalan yang keliru mengenai Tuhan, dan itu adalah KASIH. Kasih akan membawa pengaruh penting dan menunjukkan sebuah perbedaan nyata dari sikap dan cara kita dalam memandang orang lain atau bahkan memandang hidup. Yesus berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Sebuah kasih dengan ukuran atau standar kekristenan seharusnya menjadi identitas kita sebagai orang percaya atau dikenal sebagai pengikut Kristus. Standar kasih  yang sangat tinggi itu seharusnya mampu membuat kita tampil berbeda dari dunia. Sebuah kasih yang harus mampu menyentuh semua orang tanpa terkecuali, terlepas dari apapun latar belakang seseorang, tidak membuat perbedaan, tanpa batas dan sekat.

Perilaku keliru yang bertentangan dengan itu bisa memberi pemahaman yang salah terhadap Tuhan. Selain itu akan mempermalukan Tuhan, itupun dipandang sebagai sebuah kesalahan yang besar dimata Tuhan. Paulus pun menyinggung hal ini. “..Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (2 Timotius 2:19). Kemanapun kita melangkah, seharusnya kita tetap sadar bahwa kita sedang membawa Kabar Sukacita kepada orang lain. Ingatlah bahwa dalam setiap langkah kita membawa nama baik Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita. Apakah itu lewat kata-kata, sikap, bahasa tubuh kita, perbuatan dan sebagainya, kita haruslah bisa menunjukkan sikap yang benar sebagai murid Yesus. Itu akan memberi kesaksian tersendiri kepada orang lain, dan lewat itu kita bisa memuliakan Tuhan. Bahkan kita pun dikatakan sebagai surat Kristus yang ditujukan bagi orang-orang yang belum mengenalNya. “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (2 Korintus 3:3).

Cara kita hidup, sikap, tingkah dan perilaku kita, itu akan mencerminkan siapa yang kita sembah. Bukan hanya nama baik anda yang anda pertaruhkan, tetapi pengenalan akan Tuhan pun demikian. Orang bisa melihat Yesus secara benar jika anda berperilaku benar mengikuti firman-firman Tuhan, sebaliknya orang akan mencemooh jika apa yang anda pertontonkan adalah hal-hal yang buruk dan memalukan. Di saat Yesus memberi amanat agung yang tertulis dalam Matius 28:19 agar kita menyebarkan bergerak menjadikan semua bangsa muridNya, Yesus juga mengatakan “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Jadi apabila perilaku kita saja tidak terpuji, terus menjadi batu sandungan dengan melakukan hal-hal yang buruk di masyarakat, bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan atau mengenalkan orang kepada pribadi Kristus?

Saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita membawa nama Yesus kemanapun kita pergi, kapan dan dimana pun kita berada. Baik atau tidak nama Yesus dikenal orang, benar atau tidak pemahaman orang tentang Dia, itu akan sangat tergantung dari gerak langkah kita sehari-hari ditengah masyarakat. Apakah kita menjadi oknum yang mempermalukan Kerajaan Surga atau menjadi orang-orang yang mencerminkan kedamaian dan kebahagiaan Surgawi di dunia ini, itu semua tergantung dari bagaimana kita hidup. Mari bangkit menjadi orang-orang yang hidup kudus, jujur, baik, ramah, rajin menolong dan lain-lain sesuai kebenaran sehingga orang bisa mengenal pribadi Tuhan secara benar lewat kita.

Jangan jadi oknum pencoreng nama Tuhan, tapi nyatakan terang lewat kehidupan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.