Jangan Gegabah, Sabarlah dalam Tuhan

sabar dalam tuhan by william matthews

Minggu, 20 Juli 2014, Hari Minggu Biasa XVI
Keb 12:13,16-19; Mzm 86:5-6,9-10,15-16a; Rom 8:26-27; Mat 13:24-43

“Biarkanlah keduanya (= gandum dan ilalang) tumbuh bersama sampai waktu menuai.” (Matius 13:30)

SABDA ini disampaikan oleh Yesus dalam perumpamaan tentang gandum dan ilalang. Jenis tanaman yang serupa tapi tak sama. Bentuk mirip namun berbeda secara substansial dan fundamental.

Seseorang menaburkan benih gandum. Namun tiba-tiba kedapatan bahwa di antara gandum yang tumbuh itu ternyata tumbuh pula ilalang. Kita hanya dan baru bisa membedakan gandum dan ilalang pada saat panen tiba. Gandum ditandai bulir-bulirnya yang bermanfaat. Ilalang tanpa bulir-bulirnya.

Dalam perumpamaan ini kita belajar sabar dalam Tuhan. Jangan gegabah untuk mencabuti ilalang yang tumbuh di antara gandum. Bisa-bisa justru tenaman gandum akan turut tercabut sia-sia. Tidak gebabah dan bersikap sabar dalam Tuhan secara spiritual disebut sikap diskretif.

Sikap diskretif adalah sikap menimbang baik buruk dalam perspektif Roh Kudus. Maka, sering disebut discretio spirituum. Buah-buah sikap diskretif biasanya baru akan diketahui setelah beberapa saat. Orang Jawa bilang, “Becik ketitik ala ketara!” (Yang baik akan tampak demikian pula yang jahat!).

Dalam iman Kristiani, bahkan yang jahat itupun selalu akan mendapat kesempatan untuk bertobat, sebab seperti diwartakan oleh penulis Kitab Kebijaksanaan “Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: Apabila mereka berdosa, Kauberi kesempatan untuk bertobat” (Keb 12:19).

Jadi, kesabaran dalam Tuhan memberi rahmat yang luar biasa istimewa. Yang baik mendatangkan rahmat berlimpah. Yang jahat pun menerima pengampunan yang berlimpah.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar bersikap sabar dalam Tuhan dan tidak gegabah mudah menilai orang lain. Dalam keheningan sembah sujud di hadirat Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus, kita pun berdoa agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat tobat dan pengampunan kepada kita.

Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami sabar dan tidak gegabah untuk menilai apalagi menghakimi orang lain! Semoga kami sendiri belajar bertobat terus-menerus, kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.