Jadilah Mediator, Bukan Makelar

mediasi

Kepada para politisi Paus Fransiskus berpesan agar para politisi menjadi mediator publik yang senantiasa perlu berada di tengah-tengah masyarakat. Pesan Paus itu kiranya juga cocok untuk para politisi yang akan bertarung memperebutkan suara rakyat.

Peta politik di atas kertas sudah tergelar setelah pasangan capres/cawapres mendaftar ke KPU. Kedua pasangan tersebut diajukan oleh dua kubu koalisi yang terdiri dari beberapa partai politik yang merasa punya platform atau pun kepentingan serupa.

Menarik melihat proses pembentukan koalisi, ada transaksional tersurat, ada yang tersirat.  Dinamika politik yang akan menentukan ‘nasib’ bangsa lima tahun ke depan ini, perlu ditelisik dan semua dari kita yang punya hak pilih seyogyanya menggunakannya karena ini titik penentuan arah mana bahtera negara ini bertolak.

Mediator Publik

Salah satu landasan untuk refleksi adalah pesan Paus Fransiskus pada tanggal 5 April 2014 lalu, saat Bapa Suci bertemu dengan 120 politisi yang terdiri dari para walikota, pejabat publik lainnya, anggota parlemen, dan pemimpin partai politik Italia.

“Menjadi politisi adalah menjadi mediator publik. Seorang walikota, misalnya, perlu berada di tengah-tengah masyarakat. Kalau ia tidak melakukannya, bagaimana ia bisa menjadi seorang mediator yang wajib mengerti apa kebutuhan masyarakat yang diwakilinya,” demikian kata Paus Fransiskus.

Sangatlah berbahaya, tandas Sri Paus, ketika politisi tersebut tidak mampu memposisikan diri  menjadi seorang mediator, tetapi menjadi ‘perantara’ yang bertindak seperti seorang ‘makelar’ dan mengambil keuntungan dari kebutuhan masyarakat.

Paus memuji para pemimpin yang menjadi mediator dan mempersembahkan hidupnya untuk mempersatukan rakyatnya, untuk kesejahteraan masyarakat, dengan mencari berbagai solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Paus mengakui bahwa hal itu sama sekali bukan tugas mudah. “Sering politisi merasa patah arang ketika saatnya dia pulang kerja tetapi masih banyak hal yang belum terselesaikan.”

Paus menekankan bahwa tugas tersebut merupakan panggilan mereka.

Lelah yang membahagiakan

Seyogyanya pemimpin publik dan politisi pulang ke rumah dengan rasa lelah, tetapi hatinya penuh dengan cinta karena dia telah menjadi seorang mediator. “Saya berterima kasih dan mengucapkan selamat kepada politisi yang seperti itu,” tandas Sri Paus disertai senyum mengembang kepada para politisi yang terlihat mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Bertindaklah seperti Yesus,” saran Paus, “Yesus yang menemukan diriNya berada di kerumunan masyarakat ramai, sampai kadang Dia sulit bernafas.”

Masyarakat mencari Yesus,  karena tahu Dia akan menjawab mereka.

“Saya sungguh berharap Anda semua begitu, kelelahan berada di kerumunan rakyat yang datang mencarimu karena mereka tahu mereka bisa mengandalkanmu,” pesan Paus di akhir audiensi tersebut.

Mari kita bertanggung jawab atas nasib sendiri, mari kita menggunakan hak istimewa lima tahunan kita. Inilah saat semua warga negara berkedudukan sama; tidak ada suara yang lebih besar maupun lebih kecil: masing-masing punya satu suara setara.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.