Jadilah Gembala, Bukan Domba!

KEBANYAKAN orang Katolik (Kristen?) menempatkan diri sebagai domba. Bahkan tidak sedikit yang memosisikan sebagai domba yang hilang. Kalau demikian, apa lagi yang dapat diharapkan, sebab domba tidak seperti harimau yang sendirian sanggup berburu, menantang dunia.

Bukankah domba selalu punya konotasi lemah, manutan, tergantung gembala atau pemimpinnya? Kalau gembala tidur atau main pun paling domba hanya diam atau teriak ‘mbek-mbek’ kalo lapar, kepanasan, atau ketakutan. “Kasihan deh elu, domba!” Pertanyaannya, apa memang demikian yang dimaui Yesus dari  kita, para muridNya?

Kita percaya bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. Apa wujudnya (nasib) memang harus jadi domba? Saya yakin tidak demikian kehendakNya.

Ide menempatkan diri kita sebagai domba itu pasti datang dari pewartaan gereja. Manakala gereja menafsirkan bahwa yang dimaksud “gembala” adalah paus, uskup, pastor. Kalau mereka gembala, lalu umat yang lainnya adalah domba-dombanya. Padahal Petrus, pertama-tama adalah muridNya.

Ketika Petrus menjalankan perutusan, ia adalah rasul. Kalau demikian, setiap murid Kristus yang menjalankan perutusan adalah rasul. Apa yang dilakukannya, sebetulnya de facto sama dengan menggembalakan. Maka, menjadi jelas bahwa setiap murid Tuhan diserahi tugas untuk menggembalakan domba-domba, bukan untuk menjadi domba-domba.

Di mana pun menghyatai diri sebagai murid, asal melakukan tugas kerasulan, di sanalah kita “menggembalakan domba”. Jadi gembala atau domba bukan tergantung pada imam atau awam, tetapi pada kerasulan yang kita lakukan. Karena itu setiap dari kita dapat menjadi gembala atas orang lain, tetapi kita pun dapat menjadi domba dari orang lain yang jadi gembala kita.

Di keluarga, entah ayah, ibu, anak, pembantu bisa jadi gembala atas orang lain di keluarganya. Misalnya, seorang ayah yang menyejahterakan keluarga secara lahir dan batin, ia menjalankan fungsi kegembalaan dengan baik bagi keluarganya.

Seorang ibu dapat menjadi gembala bagi suaminya ketika mendorong suaminya untuk setia dan cinta pada komitmen imannya. Seorang anak dapat menjadi gembala bagi orangtuanya, ketika ia bisa meyakinkan orangtuanya untuk menghentikan tindakan pemerasan terhadap orang kecil lewat posisinya. Seorang pembantu menjadi gembala bagi tuannya, bila ia dapat mencegah perbuatan tidak senonoh tuannya.

Di sekolah, guru dapat menjadi gembala bagi anak didiknya, jika ia sanggup menciptakan suasana belajar yang baik bagi murid-muridnya.  Seorang murid dapat menjadi gembala bagi gurunya, ketika ia berhasil mengingatkan gurunya untuk bertindak adil terhadap setiap muridnya, kaya atau miskin, cakep atau biasa saja.
Atau seorang murid menjadi gembala bagi teman-temannya, ketika ia berhasil menjadi contoh yang baik dalam belajar, tidak mengandalkan contekan. Di kantor, seorang direktur bisa menjadi gembala bagi staf dan karyawannya bila ia menumbuhkan iklim kerja yang jujur dan bertanggungjawab.

Seorang karyawan bisa menjadi gembala bagi pimpinannya ketika ia berani mengungkapkan kecurangan di perusahaannya. Seorang sopir menjadi gembala saat ‘menjaga’  bosnya tetap berjalan di jalur yang benar demi keluarga dan kariernya.

Di lingkungan agama, pemimpin jemaat menjadi gembala bagi umatnya ketika memperhatikan kesejahteraan umatnya, tak sekadar saat ia memperhatikan ibadat umatnya. Seorang umat dapat menjadi gembala bagi pemimpin atau pemuka jemaat ketika berani mengungkapkan permainan licik tak terpuji, di seputar “rebutan” kedudukan, obyekan atau uang di di lingkungan agamanya. Ketika menegur sesama anggota jemaat yang bermain kuasa, tak peka pada masalah sosial kemanusiaan,   ia pun menjalankan fungsi gembala.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa semua itu tak mungkin terjadi, selama kita selalu menempatkan diri dalam posisi domba yang hanya manut atau mengembik ke mana “gembala” membawa. Atau kita hanya mampu berteriak “mbek” tetapi tak tahu arah jalan menemukan “rumput  yang hijau dan air tenang menghidupkan”.

Jika menghayati diri sebagai gembala, bukan domba,  kita pasti lebih aktif berusaha dan berbuat sesuatu untuk orang lain, tanpa menunggu isyarat, komando dari ‘gembala’ ciptaan kita pula.

Cukup jelas bukan bahwa kita tak mungkin menyerahkan nasib kita di perusahaan, tempat kerja kita,  dengan mengandalkan gembala kita, apalagi kalau yang kita beri tempat ‘gembala’ itu adalah ‘pastor’?

Lagi pula, apa tidak lebih bijaksana, jika berdiri sebagai gembala, bukan sebagai domba yang siap digembalakan orang lain, sementara keluarga menggantungkan masadepannya pada putusan kita? Yang menentukan kita menjadi domba atau gembala adalah kita sendiri, bukan orang lain. Jadi, di mana pun kita berada dan diutus jadilah gembala, jangan domba!

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.