IYD 2106 di Manado: Live in Tiga Hari di Keluarga-keluarga Katolik dan non Kristiani di sejumlah Paroki

Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

BEGITU tiba di Manado, para rombongan IYD dari Keuskupan-keuskupan se-Indonesia dijemput oleh panita paroki dan dibawa ke paroki untuk live in di rumah-rumah umat. Rombongan itu ada yang disertai oleh para suster, romo bahkan uskupnya. Saya melihat di Facebook resmi IYD Manado, Mgr. Pius Riana Prabdi berfoto bersama umat yang menyambutnya. Foto-foto dari rombongan yang datang dengan mudah bisa dilihat di FB resmi IYD itu.

Mereka secara resmi live in di tengah umat selama tiga hari yaitu tanggal 1-3 Oktober. Namun kalau peserta sudah datang tanggal 29 atau 30 September, berarti mereka live in selama  4-5 hari. Ada seorang peserta yang live in di Paroki Tomohon dan memasang status di FB: “Bersama bapak angkat…mengunjungi pasar ekstrim di Tomohon.”

Dan ditunjukkan foto pasar yang menjual  ular, tikus, anjing, kelelawar dll.  Jadi dia so punya bapak angkat dang, deng mama angkat lei ada sto.  Yang menarik adalah mengetahui mereka buat apa saja selama live in itu.  Tentu maksud dari live in ini ialah untuk mengenal hidup keseharian dari umat dan mengenal lebih dekat orang-orang Manado, budayanya, makanannya, kegiatannya, lingkungan alam dan sosialnya; serta kegiatan-kegiatan rohani di wilayah Rohai, stasi dan paroki.

Besok hari Minggu, tanggal 2 Oktober pastilah semua peserta IYD masuk gereja di tempatnya live in. Kalau ada pastor atau romo dalam rombongan itu, mungkin merekalah yang diminta memimpin misa dan peserta IYD ambil bagian dalam liturgi, mungkin menyanyi koor atau ikut menyanyi atau membaca Kitab Suci.

Efek dari perjumpaan peserta IYD yang datang dari pelbagai wilayah di seluruh Indonesia dengan umat paroki tempat mereka live in ini pastilah sangat besar dan memberikan kesan yang berguna bagi masing-masing pihak. Pastilah sangat menarik bila kita bisa mendapatkan satu dua contoh dari pengalaman mereka. Tidak mungkinlah mengangkat dan melaporkan apa yang tejadi karena begitu banyaknya peristiwa yang harus diliput.

Namun yang perlu disadari adalah kemungkinan untuk membuat acara dan kegiatan yang bisa membuyarkan maksud live in ini. Saking ramahnya tuan rumah, maka bisa jadi mereka yang mau live in malah diajak jalan-jalan di tempat-tempat wisata yang sudah terkenal seperti Pulau Bonaken; Patung Yesus Memberkati, Bukit Kasih; Danau Tondano,  Danau Linau, Kelong atau Pulau Lembeh. Alih-alih mau live in dan mengenal kehidupan harian umat, malah mereka diajak jalan-jalan.

Bukan salahnya peserta IYD tapi salahnya tuan rumah yang terlalu ramah menyambut tamu. Semoga hal itu tidak terjadi, tetapi kalau terjadi tentu panitia tidak bisa buat apa-apa karena sudah terjadi. Apalagi kalau mereka berfikir, kapan lagi bisa sampai ke Bonaken dan Bukit Kasih kalau bukan sekarang mumpung IYD. Semoga semua pihak bisa menahan diri.

Sejauh saya pantau dari FB, rupanya diselenggarakan juga penyambutan resmi di pusat paroki dengan acara yang disiapkan panggung, ada baliho selamat datang peserta IYD dari keuskupan tertentu, dan pastilah kalau ada acara seperti itu, maka ada makan-makan ala Manado. Mungkin panitia lokal di setiap paroki mempunyai kreativitasnya masing-masing tergatung dari keputusan rapat koordinasi, termasuk mungkin mengundang bapak atau ibu pendeta, bapak ustad atau Bapak haji dan pejabat pemerintahaan. Mungkin kreativitas yang sama dengan ketika Perarayakan Salib IYD terulang lagi dalam peristiwa live in IYD ini.

Sementara mereka masih live in tenang-tenang di paroki, maka tuan rumah yang akan menjadi tempat berkumpul dari tanggal 4 sampai tanggal 6 Oktober sedang siap berbenah. Saya tinggal di kompleks Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng yang katanya akan menampung 700 peserta dari 10 Keuskupan.

Kamar-kamar para  frater akan dipakai untuk tidur peserta puteri; satu kamar tiga orang; dan peserta putera akan tidur di ruang-ruang kuliah yang sudah dilapisi karpet merah. Disiapkan juga tempat mandi umum yang hanya dipakai untuk kesempatan itu saja. Demikian pula Biara MSC dan rumah Pra-Novisiat MSC disiapkan untuk menerima peserta IYD sesuai dengan yang sudah diatur oleh panitia. Ada pula yang akan ditempatkan di kompleks sekolah Paroki Pineleng, Biara Suster DSY dan Sentrum Agraris Lotta.

Tidak kalah sibuknya yang menyiapkan tiga tempat pertemuan besar yaitu Gedung Olah Raga KONI; Lapangan Sepak Bola Stadion Klabat tempat misa pembukaan dan Amphiteater di Lotta. Mereka juga sedang menyiapkan dan merapikan semua yang diperlukan supaya acara yang sudah disiapkan oleh Panita dapat berjalan dengan lancar.

Kemarin dan hari ini cuaca sudah baik. Kemarin agak mendung tetapi tidak hujan, tadi malam langit Manado berbintang; pagi tadi cerah dan sampai siang ini langit tetap biru. Ada awan tipis-tipis di sana-sini, semoga awan itu pergi menjauh dibawa angin. Kita semua perlu banyak berdoa dengan rendah hati, semoga biarpun kita semua orang berdosa, namun doa-doa kita dikabulkan oleh Tuhan untuk memohkan cuaca yang baik sepanjang pelaksanaan IYD ini.

Doa yang dipanjangkan pasti sangat banyak dan berasal dari mana-mana. Para orangtua, paroki dan keuskupan tempat asal peserta IYD pastilah selalu mendoakan anak-anak mereka. Demikian pula tuan rumah di Keuskupan Manado pastilah berdoa untuk mohon cuaca yang baik. Apalagi sekarang sudah mulai bulan Oktober, Bulan Rosario.

Doa rosario sudah mulai bergulir dari rumah ke rumah di setiap wilayah rohani dan malam ini sudah mulai dengan keluarga yang mendapat giliran pertama. Pastilah peserta live in itu juga ambil bagian dalam doa-doa rosario itu.

Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Dengan senang hati,  saya menuliskan cerita di atas ini semoga bisa menjadi informasi bagi anda semua yang jauh dari Manado. Kita doakan dengan perantaraan Bunda Maria, semoga Allah Bapa – Putera – dan Roh Kudus memberkati Pertemuan IYD 2016 di Manado ini dengan cuaca yang baik, semua berjalan aman, tertib, lancar dan mendatangkan banyak berkat yang melimpah. Amin.

Romo Albertus Sujoko MSC berasal dari Paroki Purwosari. Tamat dari Seminari Pineleng (1983-1990), ia memperoleh gelar doktor teologi di Universitas Alfonsiana, Roma. Pernah menjabat Ketua STF Seminari Pineleng (2003-2011) dan sekarang Ketua Program Imamat untuk para frater MSC Seminari Hati Kudus Pineleng.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.