IYD 2016 Manado: Kehangatan di Bawah Rerimbunan Pohon Kelapa di Tanawangko

Kehangatan terasa membuncah bunga di bawah rerimbunan pohon-pohon kelapa di Paroki Hati Kudus Tawanangko, Manado. (Yohanes Indra/Dokpen KWI)

LIVE in menjadi salah satu program unggulan selama berlangsungnya perhelatan besar skala nasional berlabel Indonesian Youth Day 2016 di Keuskupan Manado, Provinsi Sulawesi Utara.  Rupanya, program live in ini diadopsi  dari program Days in Dioceses di acara World Youth Day  (WYD) – acara perjumpaan akbar Orang Muda Katolik Sedunia.

Kalau di program Days in Dioceses para peserta yang datang dari berbagai negara lalu “dititipkan” ke paroki-paroki  di wilayah konferensi waligereja dimana WYD berlangsung, maka dalam acara live in para peserta yang datang dari berbagai keuskupan di segala penjuru Indonesia diajak untuk mencicipi pengalaman hidup bersama dalam keluarga-keluarga di paroki-paroki dalam wilayah keuskupan dimana perjumpaan akbar OMK Indonesia ini digelar.

Dalam live in ini, para peserta diharapkan dapat menimba dan menyerap daya-daya hidup yang dihadapi dan dihidupi oleh setiap keluarga dimana mereka tinggal. Karenanya, panitia mencoba setepat mungkin menempatkan para peserta pada wilayah yang berbeda dengan kondisi dan situasi asal peserta.

Kontingen OMK dari Keuskupan Agung Jakarta, misalnya, umumnya dan  sebagian besar berasal dari wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang penuh ingar-bingar kehidupan kota. Karena kondisi masyarakat urban itulah, maka dengan sengaja mereka lalu  ditempatkan di dua paroki terjauh dari  Manado, yaitu Guwaan di Kotamobagu dan Kokole.

Sementara itu, delegasi Keuskupan Agats malahan ditempatkan di paroki yang berada di pusat kota, yakni paroki St. Ignatius supaya mereka bisa mencicipi hidup dalam hiruk pikuk kota yang tidak pernah mereka temui di tempat asal mereka, wilayah dengan “jembatan terpanjang” di Indonesia.

Penempatan yang dibuat sedemikian rupa ini memang bukan tanpa maksud.  Menurut Rm. Christ Ludong Pr, koordinator live in yang juga merupakan pastor Paroki Mukopa, penempatan semacam itu dimaksudkan agar peserta mendapatkan pengalaman berbeda dari situasi darimana mereka berasal. Juga para peserta IYD 2016 bisa  mencerap dan mencecap banyak  hal lain yang tidak ditemuinya di daerah asalnya, entah itu berupa cara hidup, cara bergaul, bahasa, bahkan makanan yang berbeda.

Kehangatan keluarga di kebun kelapa

Salah satu paroki di Keuskupan Manado yang mendapat penempatan peserta IYD 2016 adalah Paroki Hati Kudus Yesus, Tanawangko, dengan jarak kurang lebih 45 km Manado. Stasi ini berada di selatan Kota Manado dengan jarak tempuh normal 1,5 – 2 jam. Letak paroki ini jauh dari keramaian dan berada di daerah pantai.

Para OMK Keuskupan Bandung  yang terdiri dari 69 orang ditempatkan di tiga stasi di paroki ini.  Menurut  Laurensius Lerry Tering, hukum tua (kepala desa)  sekaligus  Ketua Wilayah Rohani Stasi Poopoh dengan jumlah penduduk  sekitar 209 jiwa, terdapat sebanyak 6 orang  OMK Keuskupan Bandung yang ditempatkan di enam keluarga. Salah satunya tinggal di keluarga muslim, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kak Kumtua ini agar mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Pengalaman yang berbeda ini juga dirasakan oleh Eci, demikian panggilan mojang Priangan 21 tahun dari Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, Buahbatu, Keuskupan Bandung.  Kami menemui dia  di sela-sela rekreasi bersama di areal kebun kelapa milik Keuskupan Manado di Stasi Kumbu.

Di keheningan dan kerimbunan kebun kelapa yang disertai desau angin sepoi-sepoi, Eci menuturkan pengalamannya tinggal bersama keluarga angkatnya. Mahasiswi Universitas Media Nusantara di Tangerang Selatan ini merasa merasakan denyut  kehangatan di tengah keluarga Dince Suma, ‘ibu asuhnya’ selama mengikuti program live in.

“Di sini, saya justru menemukan dan merasakan kehangatan kasih keluarga. Di rumah saya  bisa ngobrol dan sharing tentang hidup sehari-hari. Mereka sungguh menerima dan memperlakukan aku sebagai anak sendiri. Bahkan saya  merasa agak dimanjakan,  karena tidak boleh ikut mengerjakan pekerjaan harian,” demikian Eci.

“Dalam keluarga saya sendiri,  saya  jarang mendapat  kesempatan ngobrol bareng seperti ini,  karena tiap-tiap anggota keluarga  sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Biasanya,  kami sampai rumah sudah malam,  sudah capai dan tinggal tidur saja,” imbuhnya.

Bukan hanya kehangatan keluarga saja yang dialami pemilik  nama lengkap  Tracya Widita di keluarga dimana dia ber-live in ini.  Ia juga belajar bisa mengalami  situasi hidup yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-harinya, baik di Bandung bersama keluarganya maupun di Tangerang Selatan sebagai tempat studinya.

“Kalau suatu saat nanti saya menemukan situasi yang mungkin berbeda lagi, saya akan mampu menghadapinya,” katanya dengan nada optimis khas anak muda.

 Semakin meneguhkan dan mencintai pilihan hidup

Dari panggung live in, Fr. Stefanus Augusta Yudiantoro, calon imam praja Keuskupan Bandung mendapatkan pengalaman berbeda. Fr. Yudi yang saat sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Maria Garut menuturkan, pengalaman live in merupakan sebuah pengalaman indah baginya.

“Sejak saat kedatangan kami di Tanawangko ini, kami sungguh merasakan sambutan yang luar biasa. Kami disambut dengan sangat meriah, sangat ramah dan bersahabat.  Ada tarian penyambutan dan musik dari para bapak di Paroki Hati Kudus Yesus.  Bahkan konon katanya, masyarakat penyambut delegasi Keuskupan Bandung ini juga melibatkan komunitas agama lain,” tuturnya.

Selain sambutan yang luar biasa meriah, Fr. Yudi juga merasakan bahwa umat Paroki Hati Kudus Yesus Tanawangko ini juga menerima mereka dengan baik dan mereka juga berusaha bisa memberikan pelayanan yang terbaik serta membangun persudaraan dengan para tamu yang datang ke paroki mereka.  Ia sendiri sebagai orang asing yang masuk ke wilayah ini juga belajar bisa menyesuaikan diri dengan dinamika hidup masyarakat,  belajar secara nyata tentang umat setempat, berbagi dan mendengarkan kisah dan cerita mereka. Dengan demikian, ia semakin mengenal karakter dan  budaya masyarakat  Minahasa ini.

Tidak hanya itu saja.

“Perjumpaan dengan umat, terutama OMK Tanawangko ini, telah membuat saya semakin mencintai pilihan hidup saya sebagai calon imam Keuskupan Bandung. Saya juga semakin mencintai keuskupan saya. Sungguh, saya menimba semangat dan kegembiraan dari para OMK Keuskupan Manado dan semakin membulatkan tekad saya untuk melanjutkan jalan menuju imamat saya,”  tandas Fr. Yudi.

“Kalau OMK merupakan masa kini dan masa depan Gereja, maka Gereja bisa berkembang bila menimba semangat dan kegembiraan kaum mudanya,” tambahnya.

Sekembali dari ajang perjumpaan dan peziarahan OMK se-Indonesia ini dalam IYD 2016, Fr. Yudi berharap bahwa dia akan bisa membawa OMK Keuskupan Bandung menjadi pribadi-pribadi  yang unggul, solid, dan berani  peduli pada sesama. “Terutama, OMK harus berani menjadi pewarta Injil di tengah masyarakat Pasundan melalui tindakan dan hal-hal baik lainnya,” pungkasnya di akhir wawancara.

Tautan: http://www.dokpenkwi.org/2016/10/03/iyd-2016-manado-kehangatan-di-bawah-rerimbunan-pohon-kelapa-di-tawanangko/

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.