Itu Isa Almasih, Nabi yang Penuh Welas Asih

Mbah Suratman/ foto : Anis Dewanti

NAMANYA Mbah Suratman. Usianya hampir 90 tahun. Aku melihat beliau sedang berteduh di bawah pohon tempat biasanya aku memarkir mobilku. Aku menyapanya tapi beliau tampak kurang semangat. Aku menghampirinya dengan perasaan yang kurang enak. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.

“Bapak ngapain di situ?” tanyaku. Beliau tidak menjawab. Hanya tersenyum.

“Bapak sakit ya?,” tanyaku lagi.

“Ndak sakit. Saya cuman neduh,” kali ini beliau menjawab.

“Pak, di situ ada warung. Kita neduh di situ yuk…” ajakku. Beliau memandangiku seperti menyelidik sebelum akhirnya menerima ajakanku.
“Bapak ngopi nggak? Mau minum kopi? Atau teh manis hangat?” aku coba tawarkan.

“Oh.. ndak usah. Ndak perlu repot,” beliau menolak.

Tapi aku tetap memesan segelas kopi dan segelas teh. Aku katakan pada beliau bahwa semua itu untukku. Di emperan warung itu aku ngobrol ngalor ngidul memancing si bapak terkadang tertawa.

Setelah mulai akrab, aku coba tawarkan makan, tetapi dengan tegas ditolaknya dengan alasan sudah kenyang. Tapi ciri-ciri fisiknya mengisyaratkan bahwa beliau lapar.

Aku merasa sedikit gerah maka aku buka jaketku sambil terus ngobrol. Sekali lagi aku sedikit memaksa bapak itu agar mau makan bersamaku. Ternyata kali ini beliau tidak menolak. Sambil terus ngobrol, sepiring penuh nasi sayur dan lauknya ludes disantapnya. Bahkan dua gelas pesanan pertamapun dihabiskannya.

“Pak. Bapak kan lapar dan haus. Kenapa bapak tadi nolak tawaran saya?” tanyaku menggodanya. Sejenak beliau terdiam sambil menatap tajam ke arah dadaku.

“Saya kenal sama itu.” katanya sambil menunjuk leontin Salib yang aku kenakan di kalungku.

“Apa ini pak?” tanyaku sambil menujukkan leontin itu padanya.

“Itu nabi Isa Almasih. Nabi yang penuh welas asih” jawaban itu membuatku terhenyak.

“Terus, apa hubungannya dengan rasa lapar bapak?” tanyaku penasaran.
“Saya ini kan lelaki dari Jawa. Ndak pantes kalau dibelikan makan dan minum sama wanita. Saya juga kan ndak tau maksud mbak Anis ini apa. Tadi kan bandul Nabi Isa itu ketutup jaket. Saya ndak liat kalau mbak itu pengikutnya Nabi Isa. Begitu saya tau ya saya jadi percaya kalau mbak ini welas asih sama saya” jelasnya bersemangat.

Bagai mendengar gita surgawi. Hatiku sungguh berdendang mendengar pengakuannya…. Aku memujaMu…. Nabi Isa……

Keterangan Foto: Mbah Suratman sedang makan. (Dok. Pribadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.