Is It (Are We) a Coincidence? (1)

Ayat bacaan: Ester 4:14
====================
“Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Betapa lucunya melihat anak-anak kecil di jaman sekarang. Mereka sudah begitu familiar dengan gadget bahkan sebelum mereka belajar jalan. Mereka sudah mengerti menggeser layar dengan menggunakan jari, memencet tombol ini dan itu, bahkan untuk selfie alias memotret diri sendiri. Ada beberapa teman saya yang anaknya masih di bawah usia 2 tahun tapi sudah pintar mengoperasikan gadget milik orang tuanya. Saat saya lahir semua itu belum ada. Bermain masih harus dengan mainan berbentuk fisik atau dengan tetangga atau teman-teman seumuran di kebun.

Ada satu seri di Youtube yang kerap saya tonton berjudul “REACT”. Dalam seri ini anak-anak diberikan teknologi kuno seperti walkman, PC jadul dengan floppy disk, gameboy dan sebagainya, sedang yang sudah tua diminta memainkan game-game terkenal saat ini di gadget terbaru, kemudian direkam bagaimana reaksinya dan apa yang ada di pikiran mereka. Bisa dibayangkan, komentar yang keluar pun lucu-lucu. Adanya gap antara teknologi dan perbedaan generasi memang bisa menimbulkan reaksi yang menarik untuk disimak.

Maka pertanyaan pun muncul. Kenapa kita ada di masa sekarang? Kenapa bukan dulu, kenapa bukan nanti? Orang tua kita lahir di generasi berbeda, kakek dan nenek kita di generasi sebelumnya, kelak anak cucu kita akan merasakan jaman yang berbeda pula di depan.  Adakah keberadaan kita pada tempat dan jaman tertentu hanya kebetulan belaka? Ketika memikirkan mengenai hal ini, saya diingatkan pada kisah Ester.

Mari kita lihat ringkasannya. Ester adalah seorang wanita Yahudi yang dipilih raja Ahasyweros, raja Persia-Media yang berkuasa atas 127 daerah, mulai dari India hingga Ethiopia untuk menggantikan permaisurinya, ratu Wasti, yang ia lepas karena dianggap telah berani menentang perintahnya dan mempermalukannya di depan para tamu penting. Ketika Ester menjadi ratu, timbullah masalah ketika Haman, seorang pejabat tinggi di istana membuat peraturan yang bermasalah. Haman mengeluarkan perintah agar semua rakyat berlutut dan sujud di hadapannya setiap kali ia lewat. Bagi orang Yahudi, perintah ini sulit untuk dilakukan, karena sesuai dengan kepercayaan yang dianut, orang Yahudi hanyalah bersedia untuk sujud kepada Tuhan saja.

Salah satu yang menentang dengan keras tidak lain adalah Mordekhai, saudara Ester sendiri. Haman tentu saja murka, dan merencanakan untuk menghabisi orang-orang Yahudi, terutama Mordekhai. Mordekhai pun menganjurkan Ester untuk pergi menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya. Dan sampailah kita kepada ayat bacaan hari ini yang berisi tentang perkataan Mordekhai kepada saudaranya Ester. “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Ester 4:14b). Dalam bahasa sehari-hari, Mordekhai kira-kira berkata begini: “siapa tahu memang engkau menjadi ratu justru dengan tujuan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi, bukan hanya kebetulan dan tanpa maksud.” Dan hasilnya, Ester berhasil melakukannya. Penyertaan Tuhan terlihat nyata. Ester menjadi ratu memang ada dalam rencana Tuhan. Kisah Ester ini menyatakan kepada kita semua bahwa Tuhan bisa memakai seorang gadis yatim piatu untuk menyelamatkan umat Allah di tengah-tengah kekuasaan penguasa Persia-Media yang begitu besar.

Ester menjadi ratu tentu bukanlah suatu kebetulan. Semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang luar biasa. Tuhan bisa memakai seseorang yang tidak disangka-sangka, melampaui logika kita untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dan menyertai anak-anakNya. Demikian Tuhan menciptakan kita semua, pada tempat dan waktu masing-masing, demikian pula ketika kita saat ini ditempatkan di berbagai belahan bumi yang berbeda, semua bukan kebetulan, bukan tanpa tujuan. Tuhan meletakkan kita di sebuah generasi tertentu, dan menempatkan kita di sebuah tempat tertentu, pada waktu tertentu sesuai dengan rencanaNya bagi hidup kita. Apa yang Dia rencanakan adalah sesuatu yang indah bagi kita. Begini firman Tuhan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.