Inilah Jalan Menuju Surga

MINGGU BIASA 17, A; 27 Juli 2014
1Raj. 3:5.7-12; Rom. 8:28-30; Mat. 13:44-52

KALAU kita mendengar perumpamaan tentang harta dan mutiara ini, biasanya dikatakan bahwa kita HARUS mencari Kerajaan Allah dengan seluruh kekuatan kita dan HARUS mengurbankan apa pun juga untuk mendapatkannya. Jika kita menyimak perumpanaan tentang harta dan mutiara, kesannya tidak demikian.

Buruh yang membajak ladang itu menemukan secara tak terduga harta terpendam di ladang itu. Pedagang itu mencari dan menemukan mutiara yang sangat indah. Yang satu menemukan, yang lain mencari; tetapi mereka punya sikap yang sama: mereka berusaha mendapatkan yang sangat berharga itu dengan menjual segala miliknya dengan rela hati dan dengan sukacita menikmati yang tak ternilai itu.

Tidak ada yang mengharuskan. Buruh itu pasti bersukacita karena dia menjadi kaya. Pedagang itu bangga, ia punya mutiara langka yang sangat indah. Seperti apa orang yang mempunyai harta atau mutiara itu?

Sepasang suami-istri beruntung mendapatkan tiket untuk kembali ke rumah orangtuanya di kampung. Ketika naik bus, ternyata telah ada seorang ibu duduk di tempat duduk mereka. Inilah cerita si istri: Suami memintaku duduk dulu di sampingnya, namun tidak meminta ibu ini berdiri. Ketika kuperhatikan, ternyata kaki ibu itu cacat, barulah aku tahu kenapa suamiku memberikan tempat duduknya.

Suamiku terus berdiri dari Jiayi sampai Taipei. Dari awal, dia tidak ada memberi tanda kalau itu adalah tempat duduknya. Setelah turun dari bus, aku berkata pada suamiku: “Memberikan tempat duduk pada orang yg butuh memang baik, namun pertengahan perjalanan ‘kan boleh memintanya berdiri agar gantian kamu yang duduk”. Suamiku menjawab: “Ibu itu sudah tidak nyaman seumur hidup, aku hanya kurang nyaman selama 3 jam saja”. Mendengar perkataan ini, aku sangat terharu karena suamiku sedemikian baik, namun tidak mau orang lain tahu akan kebaikannya, itu membuat diriku merasakan dunia ini penuh dengan kehangatan.

Itu lah harta atau mutiara berharga suami itu. Dia bahagia melakukan pengurbanan itu, ia tidak perlu memamerkannya dan hasilnya, ibu, istri dan dirinya bahagia melakukannya. Apakah itu berarti kita harus punya sikap tulus hati dan rela berkurban seperti suami itu?
Alkisah, ada seorang yang baik hati yang sedang mencari jalan menuju kebahagiaan, mencari jalan menuju kebenaran.

Dia pergi mencari seorang tua yang bijaksana, minta petunjuk jalan kepadanya untuk mencapai tujuannya tersebut. Orang tua yang bijaksana itu sedang duduk di muka pintu tendanya. Sambil menjamu tamunya dengan segelas teh rasa mentol, orang tua itu menjelaskan rahasia menuju kebahagiaan dan kebenaran.

“Itu merupakan perjalanan yang jauh,” kata orang tua itu. “Tapi kamu pasti dapat menemukannya. Kamu harus mendatangi sebuah desa yang akan saya jelaskan nanti, di sana rahasia itu akan kamu temukan.” Memang itu perjalanan yang jauh. Si pencari melewati banyak lembah dan menyeberangi banyak sungai. Pada akhirnya dia sampai juga di desa itu.

Katanya dalam hati, “Ini tempatnya. Pasti ini tempatnya.” Dia yakin bahwa ini tempatnya. Dia menemukan tiga toko kecil. Ketika dia masuk kedalam toko-toko tersebut si pencari sangat kecewa. Di toko yang pertama, dia hanya menemukan gulungan kabel. Di toko yang kedua dia menemukan tak lebih dari beberapa keping kayu. Di toko ketiga, hanya ada beberapa besi yang bentuknya tidak beraturan.

Letih dan putus asa, dia meninggalkan desa itu dan menemukan tempat istirahat malam itu. Sebuah daerah terbuka yang tidak terlalu jauh dari desa.

Ketika malam tiba, bulan purnama menyinari tempat itu dengan cahayanya yang lembut. Sesaat sebelum dia tertidur, terdengarlah olehnya suara indah berasal dari desa. Alat musik apakah yang sanggup melahirkan sebuah harmoni yang sempurna? Segera dia berdiri dan berjalan menuju tempat dimana si musisi berada.

Dia terpukau ketika menemukan bahwa suara indah itu berasal dari sebuah sitar. Sitar yang sederhana yang terbuat dari kawat, kayu dan kepingan besi yang dia remehkan sebelumnya. Saat itu juga dia menyadari dan mengerti bahwa kebahagiaan adalah gabungan dari hal-hal yang telah ada didalam diri kita selama ini.

Kita tidak harus meniru suami pada cerita pertama. Tetapi kita hari ini diajak melihat ke dalam diri kita dan merenungkan: Kapan kita pernah melakukan sesuatu bernilai yang membahagiakan hidup kita dan bermakna bagi seseorang lain? Apa hal-hal baik yang ada dalam diri anda sehingga anda mau melakukan hal itu?

Ulangilah tindakan itu pada masa depan, sehingga anda menemukan kembali kebahagiaan dan semangat itu. Jika hal ini kita ulangi terus menerus, maka tindakan itu menjadi kebiasaan; yang dapat tumbuh menjadi sikap hidup. Itu lah harta dan mutiara berharga yang anda temukan dalam hidup anda. Dan jika demikian, maka anda termasuk ikan yang nanti akan dijaring dan dipilih untuk dibawa masuk dalam Kerajaan Allah. Amin

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.