Ingin Natal Diiringi Desau Dedaunan

< ![endif]-->

TERUS  terang, Natal tahun ini adalah Natal yang saya tunggu-tunggu.

Mengapa? Itu karena setelah hampir seperempat abad saya tidak pernah (bisa) merayakan Natal di kampung halaman di Stasi Santo Agustinus Piero, Paroki Kristus Raja, Waimangura, Sumba, NTT.  Natal adalah momen dimana harapan  saya bisa kembali berkumpul dengan keluarga besar dan orang-orang sekampung bisa sekali waktu terpenuhi.

Saya benar-benar menantikannya. Saya “alpa” selama 25 tahun karena setelah tamat SMA, saya selalu berada di rantau. Menjadi peregrinari.

Saya rindu mendengarkan kembali alunan lagu-lagu Natal diiringi desau angin yang menerpa dedaunan pepohonan di sekitar kapel.

Kampung Piero

Ada aneka pohon seperti bambu, kelapa, mahoni, waru, dan lain-lain. Beberapa pohon itu berada di pekarangan rumah orangtua saya yang jaraknya dengan kapel hanya sepelempar batu jauhnya. Desau dedaunan ini terrekam sangat dalam di benak saya. Boleh dikata, setiap kali saya berada di sebuah daerah yang rimbun dan malam harinya diiringi gesekan dedaunan, saya sepertinya berada di Kampung Piero.

Kerinduan saya yang lain adalah berkumpul dengan umat yang sangat sederhana dalam segala hal. Mereka berpenampilan dengan sederhana, beralas kaki sendal jepit. Untuk menjangkau kapel, ada yang harus berjalan kaki berapa kilometer. Dan tentu saja untuk menghadiri Malam Natal, mereka harus menembus kegelapan malam dengan penerang senter atau obor. Belum lagi kalau turun hujan. Romantis.

Pengalaman menembus malam seperti itu, persis dengan pengalaman saya saat masih SD. Saya dan saudara-saudari harus menempuh 4 km perjalanan ke pusat paroki di Waimangura hanya untuk bisa mengikuti misa Malam Natal. Saya dan adik atau kakak tidak melewatkan misa Malam Natal, terutama karena ada pementasan drama Natal, yang kemudian kalau dipikir-pikir, sangat sederhana.

Psumba island

ada Natal tahun ini, dua hari sebelum malam Natal, saya dan putri semata wayangku Theresia Loise Angelica Dapa Loka (Loise) dan istriku Suryani Ambrosia Gultom (Sury) sudah berada di rumah orangtua (mama masih ada, sedangkan papa sudah pulang ke Surga). Kedatangan kami sudah sangat dirindukan mama dan saudara-saudari.

Saya berasal dari keluarga besar, dan terbiasa ramai-ramai di rumah. Bayangkan saja, jika kami 10 bersaudara datang dengan pasangan dan anak masing-masing. Kalau tidak salah, ponakan saya  ada 27 orang. Kalau semua datang, akan bingung mencari tempat tidur. Mau tidak mau, akan ada yang tidur di lantai beralas tikar. Namun suasana ini bagi kami, adalah suasana yang sangat penuh romantika. Tidak sabar menantikannya.

Setelah perayaan Natal, saya akan mengajak Loise dan Sury berkunjung ke rumah keluarga yang jaraknya berjauh-jauhan. Ada yang bisa ditempuh dengan menumpang angkutan pedesaan. Saat ini lagi ramai orang memiliki mobil pick up. Jadi, inilah angkutannya. Namun ada juga yang harus dikombinasikan antara kendaraan dan jalan kaki. Meski bagi kedua kesayanganku, ini adalah hal baru, saya yakin mereka akan menikmatinya.

Di sini, romantika baru bakal tercipta. Wow!

Sumba yang asli

Saya pun tidak akan lupa mengajak kedua kesayanganku berkunjung ke berbagai tempat wisata yang membuat Sumba tersohor hingga ke mancanegara. Di sana masih terpelihara dengan baik sejumlah perkampungan tradisional. Rumahnya terbuat dari alang-alang dan berbagai bahan dari alam. Dalam satu kampung yang dikeliling pagar batu, berderet puluhan rumah dengan menara yang tinggi-tinggi. Sementara itu, di dalam kampung itu berderet pula makam atau kubur batu megalitikum. Di dalam kampung semacam ini, berbagai pesta atau ritual adat dilaksanakan seperti woleka, saiso, bhandara, urata, dan lain-lain. Mereka yang oleh karena tuntutan hidupnya harus merantau ke kampung lain, pada hari tertentu kembali ke kampung untuk berkumpul dengan keluarga dan berpesta.

Terus terang, tidak banyak lagi tempat di Indonesia yang mempertahankan keasliannya seperti Sumba masih setia mempertahankannya. Sejumlah daerah di sudut-sudut Indonesia telah saya kunjungi, namun keaslian mereka telah berubah sedemikian rupa dan berwajah modern.

Saya juga akan mengajak kedua kesayangan saya mengunjungi berbagai pantai yang indah memesona. Pantainya luas dengan hamparan pasir putih dan aneka karang. Ombaknya sangat cocok untuk berselancar. Sayangnya, saya sendiri tidak bisa berenang sebab saya berasal dari desa yang tak punya sungai atau jauh dari pantai sehingga tidak pernah punya pengalaman berenang saat kecil.

Dan salah satu kesan terindah pada Natal tahun ini adalah, inilah pertama kali pula saya bersama mama saat dia merayakan ulang tahunnya pada 31 Desember. Inilah ulang tahun ke 77 tahun mama tersayangku.

Natal yang saya rindukan ini pasti kami rayakan dengan sederhana untuk merasakan kembali nuansa-nuansa saat kami masih kecil dan bertumbuh di desa. Ah….! Tak sabar lagi.

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.