Ingatan yang Membahayakan (2)

Ingatan-ingatan yang dikisahkan dalam buku ini boleh disebut sebagai ingatan-ingatan yang membahayakan.

Meskipun dikisahkan secara santun dan tanpa kemarahan sedikitpun, jika dibaca secara mendalam, ingatan-ingatan yang dikisahkan itu senyatanya berifat “menggugat” kesewenangan, ketidakadilan, ketidakpedulian dan  rasa aman. Ingatan yang mendorong gugatan dan mengundang keterlibatan dalam compassion (bela daya) adalah ingatan yang membahayakan (bagi mereka yang kepentingannya terusik).

Ingatan-ingatan semacam ini sangat diperlukan untuk membongkar ketidakpedulian yang mapan, mengakhiri kecenderungan kesewenangan-wenangan yang terus beranjut, dan untuk meruntuhkan mitos dan mantra politik yang melumpuhkan sikap kritis serta melanggengkan kebohongan.

Perempuan-perempuan Berdaya

Meskipun ada banyak aktor yang dikisahkan dalam buku ini, pantas dicatat bahwa di dalamnya ditemukan banyak aktor perempuan yang berdaya.

Ibu Nafisah adalah salah satunya dan cukup sentral. Bagi keluarga ini, ibu Nafisah dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya memiliki peran yang luar biasa terutama untuk menjagai diri tetap berada dalam kemanusiaan yang bermartabat.

Ibu Bidan Rakitem adalah perempuan yang lain. Jika tak memiliki sikap dan keberanian yang luar biasa, tentu saja ia tak akan berani melayani Ibu Nafisah dalam proses melahirkan bayinya karena dalam kondisi waktu itu, banyak orang cenderung tak mau berurusan dengan keluarga yang masuk dalam kategori “terlarang oleh negara”. 

Ibu Siswadi (istri Pak Siswadi) yang datang membawakan surat dari Pak Sayid untuk Ibu Nafisah adalah perempuan pemberani yang lain lagi. Nasibnya sama dengan Bu Nafisah karena suaminya juga ditahan di dalam penjara Ambarawa. Mak Rawi yang setia menemani keluarga karena yakin bahwa Pak Sayid adalah orang benar adalah perempuan lain lagi.

Perempuan-perempuan berdaya inilah yang seringkali justru harus menanggung akibat panjang dari tragedi kesewenangan dan ketidakadilan. Kaum perempuan ini bersama anak-anaknya, harus bergulat dalam banyak kesusahan dan berupaya menjagai “harapan” terus-menerus demi bertahan hidup semaksimal mungkin dalam kemartabatan yang masih tersisa.

Tampaknya, perspektif perempuan dan anak-anak ini tak pernah masuk dalam nalar dan dunia batin kaum kuasa yang cenderung menikmati gegap gempita dominasi dan kekuasaan. Akibatnya, upaya banyak kalangan untuk menjadi teman yang berpihak dan teribat membela para korban dan penyintas tragedi 1965 senantiasa disikapi dengan kekawatiran, ketakutan dan sikap terancam.

Siapapun yang berada dalam kekuasaan saat ini, baik laki-laki maupun perempuan, barangkali perlu lebih banyak menyelami “pengalaman dan ingatan kaum perempuan dan anak-anak korban serta penyintas tragedi 1965″ ini. Dibutuhkan lebih banyak kontemplasi tentang memoria passionis kaum perempuan dan anak-anak korban/penyintas tragedi 1965. Ini memang tidak mudah karena sungguh-sungguh membutuhkan “keheningan”, sementara dunia semakin serba cepat dan hiruk pikuk. Dalam dunia yang serba cepat dan hiruk pikuk, keheningan merupakan hal yang “menyakitkan”.

Semoga ingatan-ingatan para penyintas tragedi 1965 dan kekerasan masa lalu semakin menjadi milik banyak orang dan menjadi ingatan yang menggugat serta melahirkan keterlibatan untuk memperbesar daya-daya dan harapan yang ada di dalamnya. Terhadap ingatan-ingatan itu, tak ada netralitas.

Tautan:  Membagikan Ingatan sebagai Undangan Keterlibatan (1)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.