Indonesia Fashion Week 2014: Kisah Manusia Multi Dimensional (1)

KALAU saja penyair Arthur Rimbaud tidak berumur pendek, barangkali karya-karya puisinya yang menghentak akan lebih banyak lagi. Namun sungguh sayang, penyair kelahiran Charleville di Ardennes, Perancis (1854-1891) itu malah mati muda ketika umurnya belum genap 37 tahun.

Rimbau dikenal luas sebagai penyair dengan jiwa pengembara. Bahkan, sebagai serdadu dia pernah bertugas di Jawa pada masa pendudukan kolonial Belanda pada tahun 1876. Namun kemudian, mengikuti gejolak hatinya yang tiada ‘tenang’, ia malah lari ke hutan desersi dan tahu-tahu sudah muncul di Perancis dan beberapa bulan kemudian sudah melalang buana ke Larnaca, Siprus.

Yang pasti, jagad sastra Perancis mengenalnya sebagai penyair yang hatinya selalu resah, bahkan sering disebut  a poet with the restless soul.

Kisah pengembaraan

Salah satu puisinya yang boleh dibilang merupakan masterpiece berjudul Ma Bohème (Pengembaraanku) kurang lebih menggambarkan kondisi kebatinan jiwanya yang selalu resah. Namun dia cenderung cuek dan tetap menikmati hidup sembari berkeliling dunia tanpa beban.

Je m’en allais, les poings dans mes poches crevées;

Mon paletot aussi devenait idéal;

J’allais sous le ciel, Muse! et j’étais ton féal ;

Oh ! là là ! que d’amours splendides j’ai rêvées!

Kisah Manusia Multi Dimensional 2 ok

Indonesia Fashion Show 2014 (Mathias Hariyadi)

Meski hanya bermodalkan celana compang-camping dengan selop sudah berlobang, namun Sang Pengembara tetap merasa hepi dan nyaman dengan perjalanan pengembaraannya.

Barangkali tema tentang pengembaraan kita akan sosok manusia multi-dimensional inilah yang membuat pergelaran fashion show hasil besutan duet Hammer dan Deden Siswanto menjadi menarik untuk saya nikmati. Lebih karena paparan sosok-sosok manusia multi-faced yang menarik mata saya untuk mencermati setiap gerak para peragawan dan peragawati daripada mengikuti setiap lekuk analisis mengenai fashion-nya itu sendiri.

Panggung kehidupan

Duet Hammer dan Deden Siswanto yang tampil pada sesi ketiga di hari terakhir Indonesia Fashion Week 2014 mengetengahkan panorama kehidupan manusia yang ‘berubah-ubah’ sesuai dengan kondisi sosial-geographisnya. Maka di situ kita menemukan orang Persia, orang China, orang Arab, orang Afrika, orang Aljazair, orang Maroko, lengkap dengan corak perilakunya yang barangkali bisa disebut ‘pas’ karena sering dianggap mewakili karakter-karakter umum masyarakat berdasarkan ciri etnisitas dan lingkungan geografisnya.

Karikatural sirkus le jumelle okYang menarik bagi saya justru kecermatan duet Hammer dan Deden mengemas panorama manusia multi wajah itu dalam balutan tradisi sirkus yang menawan. Tampil eksentrik, cenderung menonjolkan sisi-sisi konyol dari setiap tokoh sirkus, maka itulah jiwa pengembaraan pameran busana yang dikemas bareng oleh Hammer dan Deden.

“Mon unique culotte avait un large trou,” demikian kata penyair Arthur Rimbau dalam Ma Bohème yang mengisahkan bagaimana hepinya dia punya celana pendeknya yang sudah bolong-bolong namun tetap setia dia pakai juga.

Lelaki congkak ok

Indonesia Fashion Shown 2014 (Mathias Hariyadi)

Sama seperti kehidupan manusia yang biasanya ditampilkan dalam panggung pertunjukan sirkus dimana para badut datang menyerbu panggung untuk menghibur para penonton, pangung peragaan busana besutan Hammer dan Deden juga menyuarakan ‘kisah’ kurang lebih sama. Panggung nan luas menjadi arena bermain bagi para peragawan peragawati yang berbusana layaknya para badut sirkus, lengkap dengan gayanya yang eksentrik, congak, lucu, dan tentu saja menawan karena menghibur mata-mata yang mulai lelah mengikuti peragaan busana ini sejak tengah hari sampai menjelang malam.

Semua mirip –seperti dalam analogi pemikiran Rimbaud—seperti kaum troubadour yakni para seniman-seniwati yang suka berkeliling kota untuk ‘ngamen’ dengan menampilkan kebolehannya melawak atau memainkan berbagai karakter manusia secara karikatural. Lucu, nggemesake tenan, dan enak ditonton.

Kali ini, pergelaran busana di arena hari keempat Indonesia Fashion Week 2014 sungguh tidak hanya tontotan tentang gadis-gadis molek nan rupawan dengan koleksi bajunya yang muahal dan eksetrik, tapi juga pergelaran tentang kisah hidup manusia yang diwarnai dengan cirikhasnya: multi-dimensional.

Pemain sirkus ok

Indonesia Fashion Week 2014: Pemain Sirkus (Mathias Hariyadi)

Pak Sinder ok

Indonesia Fashion Week 2014: Opzijnder alias Pak Sinder, sang pengawas perkebunan era kolonial Belanda (Mathias Hariyadi)

Model centil Deden Siswanto

Indonesia Fashion Week 2014: Perempuan molek centil dalam karikatural hidup manusia multi-dimensional (Mathias Hariyadi)

Kisah Manusia Multi Dimensional ok

Indonesia Fashion Week: Berbagai ragam ‘tampilan’ manusia dipamerkan secara karikatural. (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.