In Memoriam Romo I. Kuntara SJ: Disertasi Beratnya 10 Kg (3)

< ![endif]-->

SAYA tidak pernah hidup dalam satu komunitas residensi dengan alm. Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ yang hari Jumat (26/7) dinihari tadi dipanggil Tuhan untuk selamanya di RS Elizabeth Semarang.

Namun saya ingat betul tentang sedikit kisah unik sekaligus menarik di balik sosok imam ahli Sastra dan Bahasa Jawa Kuna ini.

Sekali waktu, dalam sebuah pertemuan di forum SJ di Provindo, almarhum berkisah bagaimana dia berkutat hampir selama 10 tahun untuk merampungkan disertasinya tentang teks naskah kuna Kakawan Arjunawiwaha.

Beliau mengerjakan disertasinya di Pasturan Kolese de Britto waktu itu, persis ketika sekali waktu saya main ke SMA de Britto dari Kolese Loyola di Semarang.

Promotor beliau adalah Sang Begawan Ahli Sastra dan Bahasa Jawa Kuna di UGM  yakni Romo Prof. Dr. Piet Zoetmoelder SJ yang tak lain adalah rekan satu Ordo Jesuit sendiri.

Saat itu, Pater Zoetmoelder masih tinggal di Pasturan Kidul Loji Yogyakarta bersama rekan-rekan SJ lainnya seperti alm. Romo Th. Hendriks SJ (dulu bekerja di Percetakan dan Penerbit Kanisius Yogyakarta) dan Romo Jacques Lampe SJ yang kini telah pulang ‘mudik’ ke Negeri Belanda.

Belakangan, Romo Piet Zoetmoerlder SJ pindah dari Kidul Loji ke tempat lain di sebuah pastoran sederhana di sekitaran Malioboro, Yogyakarta.

Oleh sesama rekan Jesuit lainnya –demikian isi omongan glenak-glenik alm. Romo Kuntara SJ waktu itu—dirinya sering menjadi bahan olokan dan sindiran orang kalau pas ada acara temu dengan para Jesuit lainnya. Pokok perbincangan mereka tiada lain adalah soal waktu bertele-tele untuk bisa menyelesaikan disertasi.

Biasalah, di kalangan Jesuit yang pinter-pinter, menyelesaikan disertasi pada waktunya menjadi urusan penting di kelompok ini. Kalau tidak, ya pastilah menjadi bahan olok-olok di antara teman-temannya. Kadang bernada serius dan gurauan, tapi adakalanya juga menjadi obrolan serius yang nylekit.

Romo Kuntara boleh dibilang membiarkan dirinya jadi olok-olokan itu. Dia membuat dirinya tuli atas omongan-omongan nylekit itu. Itu terjadi bertahun-tahun sampai akhirnya beliau sukses merampung disertasinya dengan sangat menawan di UGM dengan ketebalan naskah yang lumayan dan katanya –sesuai omongan alm. Romo Guido Sabda Utomo SJ waktu itu di Kolese de Britto Yogyakarta awal tahun 1990 an— “Beratnya sampai 10 kilogram kalau naskah disertainya ditimbang!”

Untuk menyelesaikan naskah disertasinya yang konon seberat 10 kg ini, alm. Romo Kuntara SJ sering bolak-balik ke Jerman dan Belanda untuk melakukan studi dan riset naskah-naskah kuna di Leiden.

Lahir tahun 1946 di Delanggu, Kabupaten Klaten di Jawa Tengah, alm. Romo Kuntara menikmati masa kecilnya di desa dan baru kemudian masuk seminari menengah dan lalu masuk Novisiat Serikat Jesus di Kolese St. Stanislaus Girisonta, Ungaran.

Photo credit: Alm. Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ memimpin perayaan ekaristi dalam sebuah acara peringatan (Ist)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.