In Memoriam Pater Gilbert Keirsbilck CICM

wpid-romo-gilbert

Homili Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo saat Misa Requiem 18 Juli 2015, di Paroki Santo Thomas Rasul (Sathora) Bojong Indah, Jakbar

“Rela Kehilangan demi Menyempurnakan Kehidupan Beriman”

Para ibu-bapa, para suster, frater, bruder, kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih, rekan-rekan imam sekalian.

Bersama-sama kita ingin menghantar Pastor Gilbert untuk kembali kepada Bapa yang menjadi asal dan tujuan hidup kita. Kita percayakan Pater Gilbert kepada kerahiman Allah Bapa.

Selama hidup beliau, sebagai imam, beliau merayakan ekaristi sebagai lambang dari perjamuan abadi di surga. Kita percaya sekarang, beliau sudah mengalami perjamuan yang sesungguhnya bersama-sama dengan para kudus di surga.

Sebagai umat beriman di dalam kehilangan, kita ingin bersyukur. Kita bersyukur atas anugerah kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Pastor Gilbert. Hidup itu diterima beliau dengan penuh syukur, dikembangkan dengan tekun dan setia, dijadikan berkat bagi banyak orang dan pujian kemuliaan bagi Tuhan.

Terima kasih kepada Tarekat CICM atas nama Keuskupan Agung Jakarta yang telah mengutus Pastor Gilbert sejak tahun 1995 untuk melayani di Keuskupan Agung Jakarta ini . Dan tentu bukan hanya Keuskupan Agung Jakarta yang berterima kasih, tetapi seluruh gereja di Indonesia ini.

Saudari-saudaraku terkasih umat di paroki ini dan teman-teman yang lain, pasti amat mengetahui Pastor Gilbert, orang yang sangat baik. Saya sendiri hanya mengenal dari jauh karena tidak pernah tinggal bersama-sama dengan beliau. Tetapi sejak saya mengenal beliau, sejak awal saya sudah terkesan.

Saya tidak bisa menyampaikan di dalam kata-kata apa yang mengesankan dalam diri beliau. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun, saya mesti merumuskan di dalam satu kalimat. Salah satu yang yang amat menonjol dalam diri Pastor Gilbert adalah kehadirannya di banyak kesempatan. Pasti sebagai imam beliau selalu hadir di dalam perjumpaan-perjumpaan dengan rekan-rekan imam entah di dalam dekenat entah dalam rangka keuskupan. Tetapi saya juga yakin karena saya sering bertemu dengan beliau di dalam pertemuan-pertemuan umat. Beliau hadir di tengah-tengah umat.

Dan itu berarti apa yang menjadi kegembiraan umat, menjadi kegembiraan beliau. Yang menjadi harapan umat, menjadi harapan beliau . Tetapi juga yang menjadi keprihatinan umat, kecemasan-kecemasan umat, juga menjadi keprihatinan dan kecemasan beliau. Dalam satu kata, Pastor Gilbert sungguh menghayati semangat di Keuskupan Agung Jakarta ini, gembala yang baik dan murah hati. Bukan di dalam konsep, bukan di dalam teori, tetapi dalam kehidupan beliau sebagai imam.
Ketika renungan saya sampai di sini, saya bertanya di dalam hati apa yang kira-kira membuat Pater Gilbert menjadi pribadi yang seperti ini.

Jawabannya pasti bermacam-macam.

Salah satu jawaban yang saya temukan di dalam bacaan-bacaan hari ini, ada di dalam bacaan kedua pada halaman lima buku panduan ini. Rasul Paulus menulis begini,baris keempat dari atas : “tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”. Perjalanan beliau sebagai imam adalah perjalanan menjadi manusia batin, menjadi manusia yang semakin baru.

Tetapi syaratnya adalah kehilangan. Saya sendiri yakin bahwa hidup sebenarnya adalah suatu proses kehilangan dari awal sampai akhir. Mengapa saya katakan demikian.

Saya membayangkan ketika seorang anak berada di dalam kandungan ibu, anak itu sungguh merasa aman dan damai, tidak kena sinar matahari dan tidak kena hujan dan sebagainya. Sekali dia lahir ke alam dunia ini, ia kehilangan rasa damai itu, rasa aman itu. Ketika dia masih bayi, semua orang sayang. Tidak ada yang memarahi bayi kecuali orang aneh.

Tetapi ketika dia menjadi seorang anak , kakak-kakaknya dan mungkin orang tuanya memarahinya. Ia kehilangan keamanan. Sebagai anak ia tidak pernah berpikir mengenai masa depan, tidak pernah susah. Maka seorang anak kecil bisa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sesudah ia menangis.

Ketika ia menjadi dewasa, kemerdekaan seperti itu tidak ada lagi. Ia berpikir tentang masa depan. Ia berpikir tentang barang-barang yang tidak jelas. Tetapi ia tetap sehat . Fisiknya tetap kuat.

Ketika usia bertambah, satu per satu secara fisik menjadi tidak sesuai lagi dengan ketika ia masih orang muda. Dan begitu seterusnya proses kehilangan itu terjadi terus menerus sampai akhirnya orang harus kehilangan hidupnya. Hidup manusia adalah suatu proses kehilangan.

Dan kita semua tahu kehilangan itu tidak enak. Tetapi kalau kita tidak rela kehilangan, kita tidak akan pernah menjadi manusia. Tidak pernah akan terjadi manusia rohani, seperti dikatakan oleh rasul Paulus. Kalau kita tidak mau kehilangan masa kanak-kanak, ketika kita sudah dewasa kita , kita akan dicap kekanak-kanakan. Dan itu bukan sesuatu pujian.
Dan begitulah seterusnya Paterr Gilbert pasti juga mengalami pasti.

Ketika beliau memutuskan untuk menjadi imam di dalam Tarekat CICM, ia kehilangan kebebasan untuk memilih jalan hidup yang lain. Ketika ia diutus untuk pergi ke tanah misi, beliau juga kehilangan, jauh dari keluarga, jauh dari kehidupan yang mungkin lebih nyaman di tempat asal. Tetapi kehilangan itu, ia rela jalani demi manusia rohaninya yang akan dianugerahkan kepadanya ketika ia kehilangan hidupnya.

Saudari-saudaraku yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini menghibur kita semua yang merasa kehilangan besar dengan kepergian Pater Gilbert secara tiba-tiba. Kita semua sedih, tetapi sebagai orang beriman kita boleh yakin bahwa Allah telah menyediakan suatu tempat di surga bagi Pastor Gilbert, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh manusia.

Dalam rasa kehilangan, marilah kita syukuri atas anugerah Tuhan bagi kita yang sangat besar, Pastor Gilbert yang telah melayani gereja di Indonesia sekian tahun lamanya. Semoga semua pengorbanannya menjadi pujian kemuliaan bagi Tuhan dan berkat keselamatan bagi kita semua. Dan semoga keutamaan-keutamaannya menjadi warisan yang bernilai bagi kita semua. Dengan keyakinan itu marilah kita lanjutkan ibadat kita.

Diolah oleh Wim K Liyono, mantan murid Pater Gilbert di Seminari Menengah Santo Petrus Claver pada periode 1969-1970.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.