In Memoriam Mgr. Valentinus Kartasiswoyo Pr: Bahagia Menjalani Masa Senja (3C)

KEBAHAGIAN alm.  Mgr. Valentinus Winardi Kartasiswoyo Pr dalam hidup sehari-hari tampak dalam senyumannya. Senyuman menjadi salah satu tanda orang itu bahagia. Kebahagiaan batiniah itu terpancar keluar dan terasakan oleh orang lain melalui senyuman.

Jarang ditemui beliau mengeluh, apalagi memarahi orang. Beliau mencintai dan menyayangi siapa saja. Bahkan beliau juga menunjukkan rasa sayangnya pada binatang.

Saya sempat takut ketika si Ronald –anjing kecil buah cinta Si Badut (anjing kesayangan alm. Romo St. Darmawijaya Pr- red.) dan Si Sunarti (anjing para Romo di Wisma Vianey- red.)– masuk ke ruang makan Wisma Petrus.

Pada waktu itu Mgr. Karta sedang dhahar. Saya bermaksud mau menggiring anjing itu keluar ruang supaya tidak mengganggu selera makan Mgr. Karta. Eh, ternyata apa yang terjadi? Sambil dhahar, Mgr. Karta justru berbagi lauk-pauk dengan anjing kecil itu. Anjing itu menikmati tulang yang diberikan Mgr. Karta itu di lantai. Dan terlihat Mgr. Karta begitu akrab dan tidak menunjukkan kemarahan atas kedatangan anjing kecil itu.

Masa senja

Selain itu, dalam kondisi sakit pun, beliau masih bisa tersenyum dan peduli pada orang lain. Kondisi sakit dan usia lanjut bukanlah penghalang beliau untuk bersyukur dan menjadi berkat bagi orang lain. Beliau menyatukan seluruhnya dalam diri Sang Imam Agung yang rela mengurbankan diri di kayu salib di puncak Kalvari. Di tembok di samping tempat tidurnya ada salib Kristus yang besar. Setiap kali mau berbaring, mau bangun, atau duduk membaca buku, beliau bisa memandang Tuhan yang tersalib itu.

Sejauh saya amati, bagi Mgr. Karta masa lanjut usia adalah masa penuh syukur dan berkat. Hal ini kiranya sesuai dengan refleksi Paus Yohanes Paulus II dalam surat untuk para lanjut usia (Letter to the Elderly). Kita tahu bahwa dalam puncak peringatan Tahun Lansia Internasional 1 Oktober 1999, Bapa Suci Yohanes Paulus II menulis sepucuk surat secara khusus untuk para lanjut usia, baik kaum awam maupun kaum religius yang sudah lanjut usia.

Mgr. Karta di RS Panti Rapih

Saat-saat akhir: Dalam kepasrahan dan jiwa bahagia, alm. Mgr. Valentinus Winardi Kartasiswyo Pr menerima Sakramen Perminyakan Suci di Ruang Lukas RS Panti Rapih Yogyakarta. Adik kandungnya Ny. Woro tampak mendampingi almarhum di saat-saat akhir. (Dok. Romo Willem Pau Pr)

Bapa Suci mengungkapkan bahwa masa lanjut usia merupakan masa yang penuh keuntungan, penuh rahmat, berkembangnya kebijaksanaan yang matang berkat pengalaman masa silam.

Ditegaskan oleh Bapa Suci demikian:
“…masa-masa kanak-kanak dan muda itu waktu-waktu pribadi manusia sedang dibentuk dan seluruhnya diarahkan ke masa mendatang, dan –dalam mulai menghargai berbagai kecakapanya sendiri– menyusun rencana-rencana untuk masa kedewasaan, lanjut usia bukannya tanpa keuntungan-keuntungannya sendiri. Seperti diamati oleh St. Hieronimus, dengan makin meredanya nafsu-nafsu ”berkembanglah kebijaksanaan, dan mendatangkan lebih nasehat-nasehat yang matang”.

Dalam arti tertentu itulah musim kebijaksanaan, yang pada umumnya bertumbuh dari pengalaman, sebab “waktu itu guru yang ulung”. Doa pemazmur terkenal: “Ajarilah kami menghitung cermat hari-hari kami, supaya kami mencapai kebijaksanaan hati” (Mzm 90:12) [Surat kepada Umat Lanjut Usia (Letter to the Elderly), 13-14].

Bapa Suci menegaskan kembali keluhuran martabat hidup manusia dengan terlebih dahulu mendaftar manusia lanjut usia menurut Kitab Suci. Para tokoh Perjanjian Lama yang sampai berusia lanjut, antara lain Abraham, Musa, Tobit, dan Eleazar. Sedangkan Para tokoh Perjanjian Baru yang sampai berusia lanjut, antara lain Elisabet, Zakharia, Simeon, Hana, Nikodemus, Petrus, Yohanes, dsb. Mereka yang hidup sampai lanjut usia dipandang sebagai orang yang mendapat berkat Allah.

Usia lanjut sungguh dijunjung tinggi. Hidup yang panjang diyakini sebagai tanda kemurahan hati Ilahi (bdk. Kej 11:10-32). Selain itu, masa lanjut usia juga menjadi masa yang sungguh menguntungkan bagi usaha mengantarkan hidup hingga kepenuhannya sesuai dengan rencana Allah bagi setiap orang. Usia lanjut merupakan tahap akhir kematangan manusiawi dan tanda berkat Allah.

Lebih lanjut, Bapa Suci merefleksikan keadaan aktual masyarakat berhadapan dengan para lanjut usia. Bapa Suci melihat di antara berbagai bangsa para lanjut usia dihargai dan dinilai, tetapi di bangsa-bangsa lain hal itu banyak kurang terjadi. Sikap tidak menghargai para lanjut usia dikarenakan oleh mentalitas masyarakat yang memprioritaskan kemanfaatan manusiawi langsung dan produktivitas.

Mgr V Kartasiswoyo bersama Mgr. Puja dalam sebuah misa

Lintas generasi: Alm. Mgr. Valentinus Winardi Kartosiswoyo Pr (tengah) bersama Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr (kanan) dan Romo Yohanes Gunawan Pr. (Dok. Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta)

Bahkan Bapa Suci menyayangkan adanya sikap sekelompok orang yang menjadikan euthanasia sebagai pemecahan situasi-situasi yag serba sukar akhir-akhir ini. Menyingkirkan para lanjut usia dalam arti tertentu berarti mengingkari masa lampau, masa sekarang ini berurat-akar mendalam, atas nama modernitas tanpa kenangan.

Terkait dengan penghormatan martabat orang yang lanjut usia, Bapa Suci menyerukan bahwa menghormati orang-orang tua mencakup tiga tugas, yaitu: menyambut baik mereka, menolong mereka, dan memanfaatkan baik sifat-sifat mereka. Menyadari akan keyakinan Gereja bahwa hidup di dunia ini sebagai peziarahan menuju ke rumah Bapa Surgawi, akhirnya Bapa Suci menegaskan ”usia lanjut ialah waktu yang paling wajar untuk memandang ke arah ambang pintu keabadian” [Surat kepada Umat Lanjut Usia (Letter to the Elderly), 24].

Bahkan dalam memasuki milenium baru, Bapa Suci Yohanes Paulus II menulis Surat Apostolik yang menyerukan dan mengajak orang untuk mengenangkan masa lalu dengan penuh syukur, menghayati masa sekarang dengan penuh antusiasme, dan menatap masa depan dengan penuh kepercayaan.

Mgr Situmorang Kardinal Julius Darmaatmadja dan Mgr Valentinus Kartasiswoyo Pr by Dokpen KWI ok

Saat masih muda: Alm. Mgr. Valentinus Winardi Kartasiswoyo Pr (kanan) terlihat sangat sumringah bersama Uskup Agung Semarang –waktu itu– Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ dan Uskup Keuskupan Padang Mgr. Situmorang OFMCap. (Dokpen KWI)

Dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte tanggal 6 Januari 2001, Bapa Suci mengungkapkan bahwa banyak orang yang lanjut usia di berbagai tempat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menghayati hidup rohani dan doa. Praktek religius yang dilakukan itu disadari ternyata sungguh dapat membantu orang untuk bersentuhan dengan nilai-nilai transendental yang semakin mendekatkan diri pada Allah Sang Pencipta.

Secara lebih detail diungkapkan demikian:

”Kurban-kurban misa yang mereka (orang lanjut usia) ikuti di sepanjang hidupnya, komuni kudus yang mereka sambut, doa-doa yang mereka panjatkan, dapat mendatangkan rahmat melimpah bagi sesama. Gereja membutuhkan aneka wawasan dan pengalaman yang telah mereka alami dan mereka olah dalam hidupnya… membutuhkan iman yang menopang dan menerangi hidup mereka…membutuhkan teladan dalam harapan, iman, dan kasih mereka yang matang…kebijaksanaan yang dapat menawarkan kepastian dalam situasi bimbang. Mereka menjadi pendorong bagi generasi muda untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai rohani yang lebih tinggi”.

Gereja pun menyadari kedalaman hidup rohani dan doa setiap orang lanjut usia sungguh bervariasi dan relatif berbeda. Pada masa lanjut usia seseorang mempunyai panggilan yang luhur untuk kerasulan doa dan juga kerasulan yang lain sesuai dengan kemampuan dan cara mereka masing-masing. Hal ini tak lepas dari tanggung jawabnya untuk ikut ambil bagian dalam karya Kristus di dunia mewartakan kabar keselamatan dan memberikan kesaksian hidup.

Tekun berdoa

Dalam menikmati usia senjanya, Mgr. Karta semakin kuat dan tekun berdoa, entah setiap pagi dan malam di ruang doa Wisma Petrus maupun di kamar tidur. Sebelum misa harian, beliau selalu mengawalinya dengan doa Brevir, ibadat pagi (laudes). Dari tempat yang tenang dan sejuk di Wisma Petrus, ia berdoa untuk Gereja dan bersama Gereja sedunia. Ketika tidak terapi –biasanya terapi seminggu tiga kali yaitu Senin, Rabu, dan Sabtu– di Bantul, sebagian besar waktunya diisi dengan berdoa dan membaca.

Bagi saya Mgr. Karta menghayati betul kerasulan doa sebagaimana diharapkan oleh Bapa Suci tersebut. Doa-doa yang beliau panjatkan mendatangkan rahmat melimpah bagi sesama. Dan secara tidak langsung kesaksian hidup beliau itu menjadi pendorong saya sebagai imam yang masih muda ini untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai rohani yang lebih tinggi. Perutusan dan pelayanan imamat haruslah bersumber dan berakar pada Sang Pokok Anggur, yaitu Yesus sendiri.

Mgr Karta Mgr Blasius Pudjaraharjo dan Kardinal

Cium tangan: Kerendahan hati alm. Mgr. Valentinus Winardi Kartasiswoyo Pr terungkap dengan kesediaan beliau mencium cincin Kardinal Julius Darmaatmadja SJ. Di sebelah kiri adalah mantan Uskup Keuskupan Ketapang (Kalbar) Mgr, Blasius Pudjarahardja Pr. Di tengah adalah Romo Yohanes Gunawan Pr. (Dok. Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta)

Hidup imamat saya haruslah menempel terus pada Dia. Barangsiapa yang tinggal dalam Kristus akan menghasilkan buah. Yesus sendiri memberikan jaminan, ”Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, dia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).

Monseigneur, matur sembah nuwun, terima kasih atas kesaksian, kesetiaan, dan keteladanan hidup imamat sejak 50 tahun yang lalu. Terima kasih atas keceriaan, kebahagiaan dan senyuman yang tulus, sehingga membuat kami merasa nyaman dan damai. Ndherek bingah dan proficiat atas Pesta Emas Tahbisan imamat, Monseigneur.

Berkah Dalem

Di kala pagi yang tenang di Wisma Petrus
Salam Damai yg hangat

Photo credit:

  • Dokumentasi pribadi Romo Willem Pau Pr
  • Dokumentasi Dokpen KWI
  • Dokumentasi  Seminari Tinggi St. Paulus Kentugan, Yogyakarta.

Tautan: 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.