In Memoriam Mgr. V. Kartasiswoyo Pr: Mencintai dan Merawat Makam Para Romo KAS (3B)

HARI itu tanggal 13 Juli 2010.

Tercatat dalam buku harian saya. Hari yang tak akan saya lupakan dalam perjalanan panggilan imamat saya. Saya dan teman-teman angkatan tahbisan merayakan misa syukur di Ruang Doa di Wisma Petrus. Pada waktu itu saya diminta teman-teman untuk menjadi selebran utama.

Umatnya hanya dua orang, yaitu Mgr. Kartasiswoyo dan Fr. Novian Ardi (kini, Romo Novian Ardi Pr).

Tampak sekali kegembiraan dan keceriaan yang terpancar dari wajah Mgr. Karta. Apalagi, ketika kami bersembilan memberikan berkat meriah kepada mereka berdua. Umat yang berjumlah dua orang itu diberkati oleh sembilan Romo. Rasanya gimana gitu…berkatnya melimpah ruah hehehe….

Saya sungguh bersyukur dan bergembira bisa merayakan ekaristi di Wisma Petrus itu. Seusai misa, kami berfoto bersama.

”Terima kasih atas berkat perdananya, Romo. Semoga para romo bisa menjadi imam yang abadi seperti para romo yang sudah sumare di sana”, harap Mgr. Karto sambil tangannya menunjuk ke arah makam para Romo praja KAS di depan Wisma Petrus.

Imam yang abadi…imam yang abadi….imam yang abadi.

Kata-kata itu terus-menerus mengiang-ngiang dalam hati saya. Imam yang abadi itu seperti apa yach?

Salah satu jawabannya, saya temukan saat melihat kelompok ibu-ibu (Ibu Wiyono dkk) yang rutin sepekan sekali membersihkan makam para room diosesan KAS.

Dari jendela kamar di Wisma Petrus, saya melihat kecintaan dan kegembiraan para ibu yang membersihkan makam para Romo yang sudah sumare. Imam yang abadi itu tak lain tak bukan adalah orang yang hidup dan meninggal dunia tetap sebagai imam. Hidup imami sungguh setia dihayatinya dalam segala kelebihan dan kerapuhannya sebagai manusia.

Untuk sampai ke sana, itulah yang tidak mudah. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Selain usaha ketekunan manusia, dibutuhkan juga campur tangan rahmat Allah sendiri agar seseorang bisa sungguh menjadi imam yang abadi. Kesaksian hidup imamat sampai mencapai pesta emas imamat bukanlah sekedar prestasi pribadi Mgr. Karta, tetapi tentu juga berkat penyerahan diri dan keterbukaan hati pada rahmat Allah sendiri.

Tidak menghindari masalah dan tantangan, tetapi selalu mohon kekuatan untuk bisa menghadapi masalah dan tantangan yang ada.

Saya yakin doa dan kata-kata Rabindranath Tagore, penerima hadiah Nobel Sastra tahun 1913, ini juga dihidupi dan dihayati Mgr. Karta.

Tagore menulis: ”Tuhan, aku berdoa bukan agar terhindar dari bahaya, melainkan agar aku tiada takut menghadapinya. Izinkanlah aku memohon bukan agar penderitaanku hilang, melainkan agar hatiku teguh menghadapinya. Izinkanlah aku tidak menginginkan untuk diselamatkan dalam ketakutan dan kegelisahan, melainkan harapan akan kesabaran untuk memenangkan kebebasanku. Berkatilah aku agar tidak menjadi pengecut dengan merasakan kemurahan-Mu dalam keberhasilanku, melainkan biarkan aku menemukan genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku”.

Pemakaman untuk para romo KAS
Terkait dengan imam yang abadi, pada suatu hari Mgr. Karto bercerita bagaimana awal mula makam para romo praja Keuskupan Agung Semarang itu dibangun. Pada waktu itu banyak orang bingung dan bertanya-tanya di mana Romo YB. Mangunwijaya Pr akan dimakamkan.

Kita tahu Romo Mangun seda tanggal 9 Februari 1999. Pada saat itu Mgr. Karta menjadi Rektor Seminari Tinggi. Lalu beliau mengusulkan agar Romo Mangun dimakamkan di Seminari Tinggi.

Mgr. V. Kartasiswoyo Pr by Hidup

Mulai saat itulah makam para Romo praja KAS ditetapkan di Seminari Tinggi. Semua nisan untuk para Romo dibuat sama dan seragam. Semua Romo sama dalam menghayati diri ikut ambil bagian dalam imamat Sang Imam Agung, Yesus Kristus, sampai akhir hidup di dunia ini.

Kecintaan Mgr. Karta dengan makam itu pun sangat kentara.

Ketika masih frater, saya sering melihat hampir setiap sore Mgr. Karta menyirami dan membersihkan makam. Dengan memakai kaos oblong dan celana pendek, beliau melewati gang-gang unit sambil membawa selang air menuju ke makam.

Mgr V. Kartasiswoyo Pr (Dok. Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta)

Pesta Emas 50 Tahun Imamat: Alm. Mgr. Valentinus Winardi Kartosiswoyo Pr (1935-2014) merayakan pesta emas 50 tahun imamatnya bersama Mgr. Blasius Pudjarharjo Pr –mantan Uskup Keuskupan Ketapang– di Yogyakarta, tahun 2011. (Dok. Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta)

Sebuah keteladanan dan kesaksian yang langka tetapi nyata dari seorang rektor, ahli hukum Gereja, dosen, mantan  Sekretaris Eksekutif KWI dan Direktur Kantor KWI, Direktur Penerbit dan Toko Buku OBOR, Moderator Gerakan Imam Maria, Koordinator Panitia Hukum Gereja sejak 1983, tim Tribunal Keuskupan, Moderator Marian Centre Indonesia, Penasehat DPP WKRI, Perkumpulan Warakawuri “St. Monika”, Perkumpulan dokter Katolik “St. Lukas” dan Yayasan St. Gabriel.

Singkatnya, bagi saya beliau itu orang ’besar’ dengan deretan litani tanggung jawab yang tidak ringan, tetapi tetap sederhana, prasaja, dan rendah hati. Dalam kesehariannya, saya mengenal sosok Mgr. Karta sebagai orang yang jernih dalam berpikir, sederhana dalam bertutur kata, ramah menyapa, bijaksana dalam menasihati.

Sadar atau tidak sadar, hal ini rupanya sejalan dengan nasihat St. Paulus kepada Titus: “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. (Tit 2:2).

Photo credit:

  • Dokumentasi Dokpen KWI
  • Dokumentasi  Seminari Tinggi St. Paulus Kentugan, Yogyakarta.

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.