In Memoriam Mgr. V. Kartasiswoyo Pr: Jadilah Imam Abadi (3A)

SEKEDAR sharing. Senin kemarin (16/6), saat masih masih di Kantor Majalah Salam Damai KAS pukul 14-an, saya mendapat SMS dari Sr. Chantal AK demikian: “Romo Gun, mohon doanya ya; Mgr. Karta kritis (di RS Panti Rapih). Berkah Dalem”.

Saya pun menjawab, “O Njih, Sr. Chantal. Nuwun infonya.”

Lalu, Sore hari sepulang dari kantor Salam Damai, saya mencoba mengontak Sr Luci CB di RS Panti Rapih untuk menanyakan kondisi Mgr. Karta.

Beliau menjawab, “Kondisinya sudah berat, sesak. Kalau panjenengan ada waktu, pasti beliau senang Romo rawuhi. …Nuwun”.

Lalu saya merencanakan untuk menengok beliau Selasa pagi, sebelum saya menghadiri pertemuan para Romo dengan Bapa Uskup di Rumah Retret SND Tawangmangu. Akan saya luangkan waktu mampir di Panti Rapih, baru menuju Tawangmangu.

Tapi tak lama kemudian, ada kabar dari Sr Luci CB, “Romo, Mgr. Karto baru saja seda (17.30)”.

“Sugeng tindak, Monseigneur….Maafkan saya yang tidak bisa sowan saat-saat terakhir di Panti Rapih. Saya sedih dan menyesal. Tetapi, kehendak dan rencana Tuhan pasti yang terbaik untuk Monseigneur…Doakan kami yang masih berjuang dan berziarah di dunia ini…

Berikut ini saya bagikan sharing, kesaksian atas hidup bersama dengan Mgr. Karta di Wisma Petrus yang dimuat di Buku “Kami Bersyukur Pada-Mu” Pesta Emas Imamat beliau tahun 2011 yang lalu.

——————–

Terima Kasih atas Senyumannya, Monseigneur

”Orang-orang lanjut usia, dengan kebijaksanaan dan pengalaman yang merupakan buah dari perjalanan hidup, telah memasuki suatu saat rahmat yang istimewa yang membukakan kepada mereka kesempatan-kesempatan baru untuk berdoa dan bersatu dengan Allah”. (Pidato Yohanes Paulus II di Forum Internasional tentang Lansia pada tahun 1980)

Perjumpaan demi perjumpaan bersama Mgr V. Kartasiswoyo semakin membuat saya semakin yakin bahwa Allah adalah kasih. Kasih Allah tampak nyata dan hadir dalam pribadi Mgr. Karta. Salah satu kesan yang kuat atas pribadi beliau adalah soal senyuman.

Senyumannya khas. Senyumannya tulus. Senyumannya menentramkan hati. Senyumannya membesarkan hati. Senyumannya menyuburkan Kehidupan. Senyumannya membuat saya dan siapa saja yang ada di dekatnya merasakan kedamaian dan kenyamanan. Senyuman yang tulus sampai usia sepuh (usia lanjut) sekarang ini mengingatkan saya akan seorang pelukis terkenal yang bernama Thomas Cole.

Bersyukur dan pasrah
Thomas Cole membuat sejumlah lukisan yang berjudul The Voyage of Life. Lukisan pertama menggambarkan seorang bocah yang duduk di dalam perahu di kelilingi aneka bunga yang cantik, sedangkan malaikat pelindung bersiaga menjaga sang bocah. Lukisan kedua menggambarkan seorang anak muda yang sedang berlayar, mengarahkan perahunya ke arah sungai, jarinya menuding ke atas ke arah sebuah istana yang berada di awan.

Lukisan ketiga menggambarkan seorang lelaki dewasa di dalam perahu yang menuju ke riam yang arusnya deras, langit mendung, dan seorang malaikat pelindung mengawasinya dari jauh dengan gelisah. Dan lukisan keempat menggambarkan seorang lelaki tua dengan wajah tersenyum bahagia di atas perahu. Matahari terbenam di antara awan-awan yang berwarna emas, ungu dan merah muda.

Sebuah istana terlihat jelas dan malaikat pelindung sedang menunggu kedatangan lelaki tua itu dalam keheningan yang agung.

Kebahagiaan sungguh menghiasi diri sang lelaki tua di atas perahunya itu. Sudah sekian lama pelayaran itu ia jalani. Sekian orang telah ia jumpai. Sekian pengalaman telah ia alami. Keras lembutnya kehidupan telah ia hadapi. Angin, topan, badai, arus dan gelombang pasang surutnya kehidupan telah ia lalui. Ia dengan pasrah dan kesiapsediaan diri menjalani masa tuanya. Di “ujung sana” ia sudah tahu ada yang menunggunya dan siap menyambutnya dengan tangan terbuka.

Bagi saya gambaran itu pula yang terjadi dalam diri Mgr. Karta selama 50 tahun mengarungi ”pelayaran” di jalan panggilan imamat yang agung ini. Sekian lama, sekian orang, sekian pengalaman, sekian keras lembutnya kehidupan, dan sekian aneka arus zaman telah berhasil beliau hadapi dengan penuh iman dan penuh syukur.

Maka, pantaslah pada perayaan syukur 50 tahun imamat Mgr. Karta dan Mgr Puja ini, saya ikut bergembira dan bersama pemazmur memuji Tuhan: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon… Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya” (Mzm 92).

Photo credit:

  • Dokumentasi Dokpen KWI
  • Dokumentasi  Seminari Tinggi St. Paulus Kentugan, Yogyakarta.

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.