Alm. Romo Abbas Dom Frans Harjawijaya menyerahkan tongkat kepemimpinannya sebagai Abbas di Pertapaan Trappist St. Maria di Rawaseneng kepada Abbas Gonzaga. (Ist)

PERTAPAAN Santa Maria Rawaseneng adalah suatu kompleks biara para rahib Katolik dari Ordo Trappist atau disingkat OCSO yang terletak di Desa Ngemplak, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Rahib Cisterciensis sebutan lain OCSO ini termasuk golongan rahib senobit. Karena itu,  kehidupan bersama termasuk inti hidup mereka. Hidup bersama ini dinamakan juga hidup berkomunitas.

Kebersamaan ini terutama terletak dalam kebersamaan semangat, kebersamaan hati. Tetapi kebersamaan hati perlu diungkapkan dalam kebersamaan lahir. Karena itu, dalam biara banyak kegiatan bersama: doa bersama, kerja bersama, makan bersama.

Semua itu merupakan sarana untuk saling menguatkan dalam mengejar cita-cita bersama.

Perlu pemimpin

Setiap kehidupan bersama mengandaikan adanya seorang pemimpin. Begitu pun setiap biara Cisterciensis yang bercorak senobit. Pemimpin biara ini disebut Abbas, artinya Bapak Rohani.

Menurut St. Benediktus, yang disebut “Bapak Rohani” yang sesungguhnya di dalam biara adalah Kristus sendiri. Abbas diimani sebagai Wakil Kristus dalam biara. Karena itu Abbas harus memimpin para rahibnya menurut semangat Kristus sendiri, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Abbas harus melihat tugasnya lebih sebagai suatu pengabdian. Abbas berperanan penting untuk menyatukan komunitas dalam mengejar cita-cita bersama. Ia juga menyadarkan dan mengarahkan komunitas kepada cita-cita Ordo.

Selama 28 tahun (1978-2006), alm. Romo Abbas Frans Harjawijata OCSO telah menjadi pemimpin di Biara Trappist Rawaseneng. Saat memasuki usia 75 tahun, dimana seorang Abbas memasuki masa pensiun, ia memutuskan untuk mengambil Tahun Sabatikal selama setahun di luar Biara Rawaseneng. Hal ini juga untuk memberi keleluasaan bagi pemimpin yang baru menjalani masa peralihan.

Terus terang, sebagai mantan anggota Pertapaan St. Maria Trappist di Rawaseneng pada pada tahun 1982, saya belum mengenal secara mendalam alm. Dom Frans. Itu  karena saya  bergabung di komunitas Trappist Rawaseneng  sebatas postulan.

Tulisan ini kutulis berdasarkan cerita anggota komunitas lain. Namun, kesan pribadiku dalam kehidupan bersama cukup bersahabat

Tanpa memandang jenjang. Di dalam kamar makan, saya duduk tepat di hadapan beliau. Dom Frans sering mengambilkan lauk sembari melempar senyum meledek supaya aku tidak sungkan dengannya.

Pamit pulang

Hal yang paling berkesan ketika aku pamit pulang meninggalkan Pertapaan Rawaseneng untuk kemudian berkehendak ingin melamar menjadi imam diosesan. Alm. Romo Abbas Frans lalu meminta saya  melakukan  retret  pribadi di Seminari Mertoyudan. Ia juga minta saya agar mengambil pembimbing retret dari para romo di Mertoyudan agar membantu saya mengambil putusan apakah jadi masuk bergabung menjadi seorang Trappist atau tidak.

Akhirnya,  aku memutuskan tetap pulang meninggalkan Pertapaan Trappist Rawaseneng. Ketika itu, beliau dengan senyum melepaskan dengan penuh kebapaan.

Terima kasih  Dom Frans. Selamat jalan dan doakan kami.

Salam sumringah

avatar Umat Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur, pengacara dan pengurus YLBH Tri Dharma Adi Sucipto Keuskupan Purwokerto; pernah menjadi rahib Trappist di Biara Santa Maria Rowoseneng, Temanggung.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.