Iman Seperti Emas Murni

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:7
===============
“Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Banyak orang yang mengenal emas sebagai benda padat yang diukir indah sebagai perhiasan. Padahal emas yang murni sebenarnya lembut/lentur, kuning berkilat sehingga mudah ditempa. Cara pemurnian emas ditempuh lewat proses pembakaran. Emas dibakar dengan suhu yang sangat tinggi sampai cair. Setelah cair, kotoran-kotoran yang melekat pada emas seperti karat, debu dan/atau logam-logam lain akan mudah dipisahkan dan disingkirkan. Suhu dinaikkan lagi dan kotoran yang masih tertinggal akan naik ke permukaan lalu sehingga bisa dibuang. Proses ini terus dilakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan unsur logam lainnya. Seorang pemurni emas akan bisa melihat mana emas murni dan tidak dari proses pembakaran. Saya membayangkan seandainya emas itu hidup dan bisa bicara, tentu emas akan berteriak-teriak kesakitan penuh penderitaan karena harus ‘tersiksa’ dalam proses pemurniannya. Tapi pada akhirnya kita bisa melihat perbedaan kualitas. Harga emas murni jelas jauh di atas emas dengan berbagai campuran meski hadir dalam bentuk-bentuk perhiasan menarik.

Apa yang saya alami ketika baru saja lahir baru mungkin berbeda dengan harapan banyak orang saat bertobat. Ada banyak orang yang berpikir bahwa ketika bertobat, seketika itu pula hidup menjadi jauh lebih mudah, tanpa masalah sama sekali. Padahal apa yang saya alami tidak seperti itu. Saya justru mengalami tempaan berat selama sedikitnya 5 tahun yang sempat membuat saya jatuh dulu pada titik terendah dalam hidup saya. Saya mendengar langsung dari banyak orang yang mengalami hal yang sama. Pada akhirnya, saya bisa merasakan perbedaan jauh dari proses pemurnian itu. Apa yang saya pikir bisa saya andalkan sebelum bertobat seperti uang, koneksi kepada orang-orang tertentu, kehebatan diri sendiri dan lain-lain dibakar habis hingga tuntas. Segala perilaku buruk/jahat yang dahulu biasa saya lakukan pun dikikis sampai bersih. Anda bisa bayangkan jika hal-hal buruk itu seperti melekat pada diri anda, tentu proses pembakaran atau pengikisan itu bisa terasa sangat menyakitkan. Itulah yang saya rasakan disaat menjalani proses selama 5 tahun itu. Tetapi sekarang saya bersyukur bahwa saya pernah diberi kesempatan untuk melewati proses itu. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak melalui itu, apa jadinya saya hari ini. Tentu saja ini bukan bermaksud menyombongkan diri karena saya masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang harus diperbaiki dan dibenahi, tetapi dasar pijakan yang baik untuk bertumbuh saya peroleh justru dari saat-saat berat itu, dimana semua yang buruk dibersihkan dan saya tidak lagi hidup dalam gelap melainkan bisa menatap hari depan tepat seperti yang dijanjikan Tuhan dengan terus menjaga agar saya tidak terjatuh kepada hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Hal yang sama dikatakan oleh begitu banyak orang yang pernah menyampaikan kesaksiannya kepada saya.

Ketika Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses lewat serangkaian ujian yang mungkin terasa sangat perih, itu bukan ditujukan untuk menyiksa kita, tetapi itu diperlukan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus terlebih dahulu melalui proses pemurnian yang bisa jadi sakitnya bagai dibakar api dalam suhu tinggi. Selain itu, seperti halnya pengujian kemurnian emas, iman kita pun akan kelihatan kemurniannya lewat reaksi kita ketika menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup. Itu bisa dijadikan sebuah tolok ukur sampai dimana tingkat keimanan kita saat ini. Sebab, bagaimana mungkin kita mengaku beriman jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, ragu/bimbang, khawatir/cemas atau bahkan menyerah? Bagaimana bisa kita mengaku percaya kalau kita masih hidup penuh ketakutan dan keputus-asaan? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupannya.

Mari kita lihat kehidupan orang Kristen mula-mula pada jaman Petrus. Menjadi orang Kristen waktu itu sama sekali tidak mudah. Ada banyak tekanan dan ancaman yang sewaktu-waktu bisa menghilangkan nyawa mereka. Sehubungan dengan hal itu, Petrus merasa perlu untuk mengingatkan akan manfaat dari tekanan atau peneritaan yang mereka sama-sama alami supaya orang-orang percaya dapat menangkap esensi dari semua itu. Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup dalam Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” (1 Petrus 1:3-4). Sebuah hidup yang penuh dengan pengharapan dimana kita bisa menerima keselamatan kekal, itu disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus mengingatkan agar jemaat tetap kuat, tidak kehilangan sukacita ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” (ay 6). Apa maksudnya? Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (ay 7). Perhatikanlah bagaimana Petrus membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Seperti yang saya sampaikan pada ilustrasi di awal renungan, emas harus dibakar berkali-kali hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga. Jika emas bisa bernilai tinggi setelah dimurnikan, bayangkan betapa tinggi nilainya jika iman kita yang dimurnikan. Iman jelas jauh lebih berharga dari emas, karena emas adalah benda fana, yang tidak kekal sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9).

Bicara tentang tokoh yang paling menderita dalam Alkitab, nama Ayub tentu akan selalu menjadi salah satu yang paling sering disebut. Itu wajar karena ia adalah salah satu tokoh yang mengalami serangkaian penderitaan yang mengerikan, yang mungkin terasa tidak adil dijatuhkan kepada orang yang setia dan bergaul karib dengan Allah sepanjang hidupnya. Tetapi pada akhirnya Ayub menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10).

Pesan Petrus yang menguatkan jemaat di masa itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan sangat relevan bagi kita hari ini. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan dan ketidak adilan yang kita hadapi sebagai pengikut Kristus, belum lagi berbagai bentuk godaan dari berbagai arah yang setiap saat bisa meluluh-lantakkan iman kita. Kalau dipikir-pikir, setiap hari sesungguhnya kita berhadapan dengan berbagai ujian yang sangat tepat utnuk dijadikan tolok ukur kemurnian iman kita. Bagaimana sikap dan reaksi kita menghadapi permasalahan akan menjadi ukuran sampai dimana iman kita akan Tuhan saat ini. Pencobaan yang sedang kita alami bisa sangat menyakitkan bahkan membuat kita menderita. Tapi itu sanggup membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses “pembakaran” iman kita akan mampu melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Tentu kita perlu memeriksa terlebih dahulu apakah kita memang tengah menghadapi pencobaan atau mengalami masalah karena kesalahan kita sendiri melanggar ketetapan Tuhan. Tapi jika anda sudah serius untuk hidup benar tapi masih berada dalam banyak pergumulan, bertahanlah, bahkan bersyukurlah, sebab itu bertujuan untuk memurnikan. Pada saatnya nanti, anda akan sangat berterimakasih dengan penuh sukacita kepada Tuhan karena sudah diijinkan menempuh proses pemurnian yang tidak saja berguna bagi hidup saat ini tapi juga bagi kehidupan yang akan datang.

Iman yang diuji mampu menghasilkan iman murni, seperti emas murni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.