Iman Disertai Perbuatan

Ayat bacaan: Yakobus 2:18
=========================
“Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Sebuah kata iman sesungguhnya memiliki pengertian sangat dalam yang berkenaan dengan kepercayaan atau keyakinan yang sepenuh atau seteguh hati. Penulis Ibrani menggambarkan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). The assurance/confirmation, the title deed of the things we hope for, the proof of things we do not see and the conviction of their reality. In other words, faith perceiving as real fact what is not revealed to the senses. Dengan kata lain, iman membuat kita mampu memperoleh pemahaman dan keyakinan bahwa hal-hal yang tidak atau belum kita alami/lihat sepanjang kemampuan nalar dan logika kita bisa menjadi sesuatu yang nyata pada waktunya. Adalah iman yang akan sangat menentukan kemana kita nantinya melangkah, adalah iman pula yang menentukan kita tampil menjadi orang seperti apa dalam hidup. Sayangnya, ada banyak orang yang menilai atau menganggap iman hanya secara sempit, berbicara cuma pada koridor identitas agamawi tanpa menyadari makna besar yang terkandung di dalamnya. Mereka menempatkan iman pada kotak yang berbeda dengan perbuatan atau perilaku dalam kehidupan. Tidaklah mengherankan kalau kita masih sering melihat orang-orang yang mengaku beriman tapi hidupnya masih melenceng jauh dari kemana iman itu sesungguhnya berpusat. Mengaku beriman tapi korupsi, mengaku beriman tapi menipu dan terus melakukan perbuatan jahat lainnya, mengaku beriman tapi hidup masih saja dipenuhi ketakutan dan kekuatiran, bahkan rasa takut yang tidak perlu seperti takut mendengar cerita seram, takut hantu dan lain-lain. Dengan kata lain, meski iman bukan lagi sebuah kata asing dan akan dengan cepat diproklamirkan orang sebagai sesuatu yang mereka miliki dalam diri dan hati mereka, tapi jarang sekali iman itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari secara langsung.

Bukan hanya di luar Kristus, tapi orang-orang yang percaya pun sering keliru menafsirkan makna iman. Ada banyak orang yang kalau dilihat hidupnya sangat religius. Tidak pernah lupa ke gereja, selalu berdoa sebelum makan tapi tidak didukung sikap atau tindakan yang menunjukkan ketaatan mereka pada Tuhan. Malah tidak jarang ada orang-orang percaya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Biar bagaimanapun kita harus menyadari bahwa Yesus bisa dikenal orang lewat diri kita murid-muridNya. Alkitab sudah menyatakan bahwa kita adalah surat Kristus (2 Korintus 3:3). Orang bisa mengenal sebuah pohon dari buahnya. Bayangkan jika orang-orang percaya seperti ini yang tampil di dunia, maka orang di luar sana akan terus mendapatkan gambaran keliru tentang Tuhan dan bentuk kasihNya yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa antara pengakuan keimanan dan perbuatan belumlah tentu sejalan.

Hal inilah yang disampaikan Yakobus. Dalam suratnya pasal dua pada perikop 14-26 ia dengan panjang lebar mengingatkan pentingnya mengaplikasikan iman dengan perbuatan-perbuatan nyata yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Dengan tegas ia memulai perikop ini dengan sebuah seruan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (Yakobus 2:14). Bisakah sebuah iman berfungsi dan membawa manfaat sebagaimana mestinya apabila tidak dipergunakan alias didiamkan saja? Itu sama saja seandainya anda memiliki sepatu yang bisa melindungi kaki anda dalam menapak di jalan terjal berbatu, tapi tidak anda pakai dan hanya ditenteng saja. Kaki anda akan tetap sakit penuh luka meski sepatu itu ada bersama anda. Maka Yakobus menegaskan bahwa iman yang tidak disertai perbuatan pada hakekatnya tidaklah berguna bahkan mati. “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (ay 17).

Selanjutnya Yakobus menyinggung mengenai masalah sifat manusia yang ternyata sudah terjadi sejak dahulu kala, yaitu membedakan antara iman dan perbuatan dalam kehidupan nyata. “Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (ay 18). Ada orang yang bersandar pada imannya, ada yang bersandar pada perbuatannya. Kamu punya iman, saya punya perbuatan. Artinya keduanya ditempatkan pada posisi terpisah atau berbeda. Yakobus pun menantang orang-orang yang mengartikan hal ini secara keliru untuk melihat bagaimana seharusnya iman itu bekerja lewat dirinya sendiri. “Tunjukkan padaku gunanya iman tanpa perbuatan, aku akan menunjukkan bagaimana iman itu sesungguhnya lewat perbuatan-perbuatanku.” katanya. Perbuatan seperti apa? Dalam versi Bahasa Inggris dikatakan “by good works of obedience”, yaitu dengan perbuatan-perbuatan yang baik didasari ketaatan.

Selain mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati seperti yang tertulis dalam ayat 17 dan “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (ay 26), Yakobus juga menyatakan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong” (ay 20). Kosong, sia-sia, tidak ada gunanya, inactive, ineffective and worthless. Sebaliknya sebuah iman yang dilakukan secara langsung dengan perbuatan akan menyempurnakan iman tersebut. “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (ay 22). Oleh karena itu jangan puas hanya dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian iman itu belumlah berfungsi atau berguna. Itu pun artinya kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang taat dan percaya. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih.Tuhan ingin kita menjadi orang yang sabar, tidak sulit memaafkan, dan mampu menguasai diri kita. Sebuah perubahan menjadi lebih baik, dimana orang bisa melihat bahwa ketika menerima Yesus hidup anda diubahkan secara luar biasa, itulah yang diharapkan Tuhan. Jika tadinya orang tidak suka berteman dengan anda, sekarang tanpa anda, terasa seperti ada yang kurang. Jika orang diluar sana cepat kuatir dan cemas, anda menjadi bukti bahwa dengan berjalan bersama Tuhan anda tidak perlu takut kekurangan apapun. Kalau galau menjadi kebiasaan orang, kita bisa menunjukkan kehidupan penuh sukacita dan damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi atau kondisi faktual dalam kehidupan. Kita harus mampu seperti Yakobus yang sanggup dan berani menunjukkan iman yang berfungsi baik lewat perbuatan-perbuatan nyata dalam hidup kita. Aplikasikan iman secara nyata, maka selain hidup anda akan menjadi hidup yang berkemenangan, anda pun bisa menjadi surat Kristus yang benar bagi orang-orang disekitar anda.

Iman dengan perbuatan adalah iman yang hidup, yang berkenan dihadapan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.