Iman Bartimeus (1)

Ayat bacaan: Markus 10:52
=====================
“Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”

Dalam menjalani hidup seringkali kita terbentur pada situasi-situasi sulit mulai dari yang relatif masih bisa diatasi, mendatangkan kerugian hingga keadaan yang secara logika sepertinya sudah sulit bahkan tidak lagi mungkin punya solusi. Disaat-saat seperti itu iman bisa jadi merupakan satu-satunya alternatif yang ada. Masalahnya yang sering terjadi adalah, di saat kita terpojok, iman kita bukannya menguat tapi malah makin lemah. Tidak jarang pula orang kemudian putus asa dan kehilangan imannya. Padahal Yesus sudah mengatakan bahwa iman yang meski sebesar biji sesawi saja, just as little as a mustard seed, itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah kemustahilan menjadi sesuatu yang ternyata mungkin dan bisa terjadi.

Akan hal ini, hari ini mari kita lihat kisah tentang seorang pengemis buta bernama Bartimeus seperti yang ditulis dalam Markus 10:46-52. Bartimeus adalah seorang buta atau tuna netra. Karena kondisinya itu ia tidak bisa bekerja, sehingga ia pun terpaksa mengemis untuk bertahan hidup. Pada suatu hari Yesus lewat tepat didekatnya. “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:47). Bartimeus cuma seorang pengemis buta, yang bagi masyarakat pada masa itu dianggap terlalu rendah sehingga tidak pantas untuk berteriak-teriak memanggil Yesus. Karena itu mereka lantas memarahinya. “Banyak orang menegornya supaya ia diam. Kasihan benar Bartimeus. Tapi untunglah ia bukan tipe orang yang gampang putus asa. “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 48). Bukannya berhenti karena dimarahi, Bartimeus malah mengencangkan suaranya lebih lagi. Ia sadar bahwa itu kesempatan baginya. Imannya membuatnya tidak menyerah. Ia tahu bahwa Yesus adalah jawaban atas permasalahan yang ia alami. Logika, pendapat orang dan lain-lain semua ia kesampingkan. Ia mengencangkan imannya lebih dari sebelumnya. Maka Bartimeus pun terus memanggil Yesus.

Ternyata teriakannya itu menggetarkan dan menggerakkan Yesus untuk bereaksi. Yesus pun lalu menyuruh orang-orang disana untuk memanggilnya. Mendengar itu, Bartimeus segera menanggalkan jubahnya dan bergegas menuju Yesus. Ketika mereka bertemu muka, inilah yang terjadi selanjutnya. “Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay 51).

Sekarang mari kita perhatikan dengan cermat. Bartimeus bisa saja meminta kekayaan, meminta pekerjaan dan sebagainya selain matanya dicelikan. Bukankah kalau ia kaya maka ia tidak perlu lagi mengemis atau bekerja? Tapi Bartimeus tahu bahwa sumber masalahnya selama ini adalah ketidakmampuannya untuk melihat. Ia tahu bahwa apabila ia bisa melihat, ia tidak perlu jadi pengemis lagi dan bisa bekerja yang layak untuk hidup. Ia tahu betul akan hal itu, maka ia pun hanya meminta satu hal yang menjadi sumber permasalahan. Maka Yesus pun mengabulkan permintaannya dan menyembuhkannya. Alkitab mencatat jawaban Yesus ketika menyembuhkannya: “Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (ay 52).

Apa yang sesungguhnya menyembuhkan Bartimeus? Alkitab mengatakan bahwa apa yang menyembuhkannya ternyata adalah IMAN yang dimilikinya. Imannya yang percaya, yang tidak tergantung pada logika manusia, yang tidak tergantung apa kata orang. Ia tahu imannya tidaklah terletak pada pendapat manusia lainnya, atau tergantung tingkat kesulitan keadaan atau situasi yang tengah ia hadapi, tidak tergantung beratnya masalah yang harus ia pikul, berapa lama ia sudah menderita dan statusnya di tengah masyarakat, tetapi semata-mata merupakan koneksi/hubungan antara dirinya dengan Tuhan. Bartimeus berpegang teguh akan hal itu, dan Yesus berkata besar imannya itulah yang menggerakkan Tuhan untuk kemudian menyelamatkannya. Iman seperti itu ternyata cukup sanggup menggerakkan Tuhan untuk turun tangan melakukan hal-hal yang ajaib dalam hidup kita. Iman, itulah yang kita butuhkan untuk menerima berkat dan mukjizat Tuhan kepada kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.