Ikut Menderita

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3
======================
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

ikut menderita, amanat agung, mewartakan injil

Sudah diselamatkan, lalu apa lagi? Pikiran seperti ini bisa hadir di benak orang-orang percaya. Ada banyak yang sudah cukup puas dengan keselamatan yang hadir bagi mereka ketika menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Keselamatan itu memang hadir cuma-cuma, atas kasih karunia Tuhan. Ketika kita menerima Kristus, kita pun dilayakkan untuk menerima hak waris Kerajaan Surga. Tapi benarkah setelahnya kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi? “Ah, karunia saya adalah karunia jemaat..” ujar seorang teman sambil tertawa. Untuk selamat semua orang pasti tertarik, tapi bagaimana ketika diminta untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan di muka bumi ini? Jumlah yang tertarik akan turun drastis. Sangat sibuk kerja, tidak punya waktu lagi, kurang sehat, tidak punya kemampuan, sampai tidak terpanggil, semua bisa dipakai sebagai alasan. Keselamatan cukuplah sampai pada dirinya saja. Urusan menyelamatkan yang lain itu urusan pengerja, gembala, pendeta dan sebagainya. Tidaklah heran ada banyak gereja yang mengeluh kekurangan pengerja. Seorang teman di ibu kota yang melayani di gerejanya bercerita tentang hal itu, betapa gerejanya kekurangan tenaga untuk melayani sehingga ia merangkap banyak hal bersama istrinya.

Panggilan untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan sesungguhnya bukanlah hanya tugas para pengerja dan hamba-hamba Tuhan. Panggilan itu sebenarnya diperuntukkan kepada siapapun yang sudah diselamatkan. Amanat Agung Tuhan Yesus berkata demikian: “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Pesan ini diberikan kepada murid-murid Yesus, dan di jaman sekarang, kitalah murid-muridNya. Oleh karena itu kita pun mengemban tugas yang sama. Tuhan Yesus sungguh mengerti bahwa ini bukanlah tugas yang mudah. Karena itulah Dia menekankan penyertaanNya dalam setiap misi pelayanan kita dan generasi-generasi selanjutnya sampai kepada akhir jaman. Tuhan Yesus pun menganugerahkan Roh Kudus, Sang Penolong untuk turun menyertai setiap langkah yang kita lakukan. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Tuhan tidak berpangku tangan dan hanya menyuruh saja. Dia menyediakan dan mempersiapkan kita untuk mampu melakukan Amanat Agung. Karenanya keterlaluan jika kita menyia-nyiakan apa yang telah dianugerahkan Tuhan ini dan memilih untuk berpangku tangan, melepaskan tanggung jawab kita.

Setiap orang percaya seharusnya bisa melihat bahwa memberitakan kabar gembira, mewartakan Injil merupakan kewajiban yang penting. Kita harus mampu melihat bahwa setiap kita adalah penghubung antara generasi dalam menyampaikan kabar keselamatan ini. Tidak semua orang harus menjadi pendeta, tidak harus semua orang menjadi pengerja atau hamba Tuhan, tidak semua orang harus tampil melayani di gereja. Tapi kita semua bisa berperan di tempat kita masing-masing. Di kota tempat tinggal, di lingkungan sekitar, di kantor, dan sebagainya. Setidaknya kita bisa menjadi terang dan garam bagi sekitar kita lewat gaya hidup, sikap, tingkah laku dan perbuatan kita yang berbeda dari kebanyakan orang dunia.

Untuk bisa melakukan itu memang tidak mudah. Selalu saja ada harga yang harus dibayar. Pengorbanan dari segi waktu, tenaga, uang dan sebagainya, itu semua merupakan harga yang harus dibayar. Intinya, ada saat-saat dimana kita harus berkorban, dan mungkin juga menderita. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24) sebaliknya “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (10:38). Mungkin susah, kita mungkin harus meninggalkan zona kenyamanan kita dan mengalami masalah karenanya, tapi saya ingin memberitahukan ini: ketika anda melihat seseorang bertobat, menerima Kristus dan hidupnya dipulihkan, anda akan merasakan sebuah sukacita dan kebahagiaan yang begitu luar biasa yang tidak akan dapat dibeli dengan harga apapun. Adalah sebuah pengalaman tersendiri yang tak terlupakan ketika anda melihat orang-orang yang mengalami Tuhan secara nyata tepat di hadapan anda.

Paulus tahu persis mengenai harga yang harus ia bayar. Ia bahkan mengalami begitu banyak penderitaan hingga harus mengorbankan hidupnya sendiri. Kepada jemaat Korintus ia berkata “..kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa..” (2 Korintus 6:4-5). Kemudian kembali Paulus menggambarkan penderitaan yang ia alami. “..lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut..”(2 Korintus 11:23-25) dan seterusnya. Tapi Paulus tahu bahwa itu adalah harga yang harus dibayar, karena ada mahkota kehidupan yang disediakan Allah jika kita terus setia melakukan kehendakNya hingga akhir. Dan mahkota ini pun tersedia bagi kita semua yang rela melakukan kehendak Tuhan seperti Paulus. Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula bahwa pekerjaan ini tidaklah mudah. Hendaklah Timotius tetap setia, tidak patah semangat dan tetap kuat. Paulus berkata: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.” (2 Timotius 2:3). Pemberitaan Injil bisa membuat kita mengalami penderitaan, dipersalahkan, namun ingatlah bawha firman Allah tidak akan bisa dihambat. (ay 9). Lalu ia melanjutkan: “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” (ay 10).

Kerinduan Paulus ini hendaknya bisa menjadi kerinduan kita pula. Kita bisa dihambat, tapi firman Allah tidak akan pernah bisa dibelenggu. Sepantasnya kerinduan ini muncul pada kehidupan orang-orang percaya yang tahu tugasnya. Mewartakan Injil adalah kewajiban yang sudah digariskan Tuhan kepada siapapun anak-anakNya yang sudah menerima keselamatan. Compassion, sympathy and affetion to others, itu perasaan yang seharusnya sudah kita miliki ketika kita hidup di dalam Kristus. “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (Filipi 2:1). Dan ingatlah bahwa Tuhan telah mengaruniakan kita dengan talenta masing-masing, yang pasti akan sangat bermanfaat untuk dipergunakan bagi keselamatan banyak jiwa. Ada Roh Kudus yang membimbing dan menuntun kita, Yesus sendiri sudah menyatakan bahwa Dia akan menyertai kita hingga akhir jaman. Artinya semua telah diberikan Tuhan, tinggal kita yang memutuskan, apakah kita rindu melihat jiwa-jiwa dimenangkan seperti halnya kita atau memilih untuk berpangku tangan dan menyimpan semua janji itu secara egois hanya untuk diri sendiri saja. Sekali lagi, mungkin sulit, karena duna yang kita hadapi saat ini adalah dunia dimana “..orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4). Tapi kita harus mampu melakukannya dengan tekun dan sabar, karena itu semua sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai anak-anakNya. “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tuaikanlah tugas pelayananmu!” (ay 5). Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk diberkati. Ada begitu banyak orang yang butuh penghiburan, butuh pertolongan dan butuh keselamatan di luar sana. Apakah anda di market place, di kantor, sekolah, lingkungan rumah dan sebagainya, bahkan mungkin di dalam keluarga sendiri. Selalu ada alasan mengapa anda ditempatkan disana sebagai orang percaya. Mari singsingkan lengan baju dan bekerjalah bersama Tuhan.

Ketika anda selamat, sudahkah anda memikirkan keselamatan orang lain?

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.