Ibu, Agamanya Apa?

kalung-salib-706

MATAHARI belum terlalu tinggi saat dengan tak sengaja aku melihat sosok pria yang aku kenal beberapa bulan lalu di jalanan. Arman, pemuda tuna daksa yang manis itu duduk di atas kendaraannya yang khas sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan raya Pulomas.

Aku parkir bututku tepat di sampingnya. Arman agak terkejut dengan kedatanganku. Dia tersenyum saat aku menyapanya.

“Kamu masih kenal aku?” tanyaku.

“Masih. Ibu anis.” jawabnya lirih. Kami ngobrol tentang kabar kami masing-masing. Setelah sekian lama kami bicara, tiba-tiba dia bertanya padaku.

“Ibu anis agama apa?” Agak terkejut aku dengan pertanyaan yang tidak kuduga. Sambil masih bertanya-tanya dalam hati tentang arah pertanyaannya dan aku yakinkan bahwa aku tidak sedang memakai kalung berleontin Salib di leherku.

Aku jawab saja: “Katolik”.

“Kristen?”, dia kembali bertanya.

“Ya. Kristen Katolik.” Jawabku singkat berharap dia tidak bertanya lagi.

Sejenak dia memandangiku dengan dahi berkerut. “Kenapa Arman??” tanyaku.

“Ibu anis kaya??” dia terus bertanya.

“Tidak. Saya biasa saja. Sederhana. Kenapa Arman” tanyaku penasaran.
“Biasanya orang Kristen kaya dan sombong”. Jawaban itu sontak membuatku sangat kaget.

“Arman tahu dari siapa? Arman kenal orang Kristen yang kaya dan sombong?’ tanyaku.

“Kata orang-orang” jawabnya singkat.

“Banyak orang?” tanyaku lagi.

“iya. Temanku, sodaraku, banyak deh…” jawabnya.

“Arman… Saya orang Kristen, saya tidak kaya, apa menurutmu saya ini sombong?” Arman menggelengkan kepala merespon pertanyaanku.

“Dengar anakku, orang yang kaya adalah orang yang berjuang keras memperoleh kekayaannya. Orang Islam, Kristen, Hindhu, Budha, bahkan orang yang tidak punya agamapun bisa kaya kalau mereka memperjuangkannya. Orang yang sombong adalah orang yang merasa dirinya paling hebat dan terlalu percaya diri pada kehebatannya itu. Orang beragama apapun bisa sombong kalau mereka terlalu bangga dengan dirinya.” Aku nyerocos mencoba membuat si Arman mengerti.

Sepertinya ocehanku berhasil. Pemuda itu manggut-manggut seolah bisa menerima. Dia tersenyum saat aku menepuk pundaknya.

“Saya harus pergi nak… Saya masih harus mengajar lagi. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya….” Dia balas sapaanku dengan melambaikan tangan kanannya yang tidak berjari sambil tersenyum lebar.

Terusik aku dengan pandangan Arman dan “orang-orang” tentang orang Kristen. Aku coba introspeksi. Eksklusivitaskah yang membuat kita dianggap sombong? Sambil terus berusaha mencari jawab, teringat tentang keteladanan Santo Fransiskus Xaverius.

Pengetahuanku memang minim tentang Santo dan Santa. Kebetulan saja kemarin baru mengikuti renungan yang membahas tentang Sang FX.

Satu hal yang aku tangkap tentang Santo FX bahwa beliau tidak menggunakan banyak simbol-simbol keKristenan dan juga banyak bicara tentang Ayat-Ayat Suci, tetapi Kekristenannya diaplikasikan dalam kehidupannya sebagai serang manusia.

Keluhuran budinya yang sungguh nyata bisa dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya sehingga mampu membuat banyak orang terkesan padanya. Teladan yang sungguh pantas ditiru.

Jangan kita mengagung-agungkan simbol-simbol kekristenan untuk sekadar ingin dikenal sebagai orang Kristiani. Jangan kita banyak bicara tentang kalimat-kalimat Alkitab jika hanya untuk menunjukkan keKristenan kita. Bukankah lebih baik kita melakukan sebuah karya nyata daripada mengucapkan sejuta kata-kata mutiara?

Perlukah aku ini dikenal dulu sebagai orang Kristiani untuk melakukan sesuatu hal yang baik? Dan apakah aku ingin berbuat baik untuk dikenal sebagai orang Kristiani? Perlu perenungan panjang untuk memahami diri ini. Tapi aku sungguh berharap bahwa aku mampu meneladani Santo Fransiskus Xaverius dalam menjalani kehidupanku sebagai orang Kristiani. Semoga.

Terimakasih Arman……
Aku suka hari ini…………

Sore hari, saat berusaha untuk merenung.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.